Selasa, 09 Maret 2021

AWAL BLOG


AWAL BLOG 
Well, sudah hampir 2 (dua) minggu vacum. Tiada guna sakau, kacau & galau diikuti. Karya nyata harus terus tercipta ...bukan karena keinginan mencari perhatian ataupun pengakuan juga perolehan. Well,berpacu dan melaju dengan waktu ... Sungguh tidak akan pernah ada waktu yang sempurna untuk segalanya .... jika tidak ada waktu luang yang tersedia maka luangkan waktu yang ada tersisa. Jika tidak ada mood untuk bersegera maka ciptakanlah dia .... biarkan kebenaran menemukan caranya sendiri untuk mengarahkan diri dengan ideanya .  
 So, Quo Vadis ... what's next ?
1. Lanjutkan yang sudah ada (selesaikan atau minimal lengkapkan) Just for Seeker 
2.Tuntaskan atau tepatnya pantaskan garapan aktualisasi harmonis kedinasan, kemasyarakatan & kehidupan via media ini  
3. Lengkapkan share walau apa adanya atau bahkan seadanya (Archive.org, Google Drive, Office Forms, Vlog youtube, posting Blog, resume etc).
Semoga keberkahan niatan terlengkapi & melengkapi selanjutnya.    

LINK in Bookmarks Menu or Bookmarks Toolbar
ACCOUNT
4  dari Akun : teguh.qi@gmail.com  
 2 Akun : maxwellseeker@gmail.com  
 2 Akun :  dhammasikkha1@gmail.com    
 
 1 Akun : teguh.qi@gmail.com 
 1 Akun : maxwellseeker@gmail.com    
 1 Akun :  dhammasikkha1@gmail.com    
 
PROLOG


just logo
Be Realistics to Realize the Real 
Bersikap realistis untuk merealisasi yang real 

kutipan : http://teguhqi.blogspot.com/2020/11/just-seeker.html
Sebelumnya terima kasih mengapresiasi fasilitas yang diberikan internet (blogger, youtube, google, Archive,org, dll) atas ketersediaan media katarsis pribadi terutama di masa galau corona saat ini. Dan para reader pembaca yang tetap setia, rahasia dan penuh kearifan/kebaikan  mengikuti sharing "kutu loncat' ini (dengan tanpa memberi komentar apalagi gangguan apapun juga walau kami baca ulang wacananya bukan hanya tidak jelas namun memang sakau, kacau dan galau , hehehe ) ... dst dsb dll. (anggap ... sudah selesai ... gitu aja koq repot. Hidup sudah sulit malah dibikin ribet )   

OKAY ...

Sadhguru Yasudev Quotes : 
Whatever you have – your skills, your love, your joy, your ingenuity, your ability to do things – please show it now. Do not try to save it for another lifetime.
Apa pun yang Anda miliki - keterampilan Anda, cinta Anda, kegembiraan Anda, kecerdikan Anda, kemampuan Anda untuk melakukan sesuatu - tolong tunjukkan sekarang. Jangan mencoba menyimpannya untuk kehidupan mendatang.
 
Okey, Sadhguru Yasudev, tak akan kami simpan juga untuk diri kami sendiri wawasan kosmik Parama Dhamma dalam Mandala Advaita ini dengan Formula Swadika bagi keberlanjutan kehidupan saat ini dan juga bagi kesiagaan nanti … apapun yang terjadi terjadilah. Lagipula walau agak controversial bahkan mungkin akan jadi sensitive nantinya… toh niatan kami sesungguhnya hanyalah mengajukan kemungkinan saja tanpa memaksakan ini sebagai kepercayaan yang harus diterima sebagai keyakinan dogmatis / fanatic yang membuta. Ini hanyalah thesis pada antithesis pandangan anda semula untuk mengembangkan synthesis kebijaksanaan baru kita berikutnya. Sungguh tidak ada yang harus dilekati (bahkan jikapun pandangan ini ternyata tidak hanya sesuai dengan asumsi anda bahkan memang demikian realitas kebenarannya pada segala fenomena keberadaan)  dan juga tidak ada yang perlu dibenci atau ditolak (bahkan termasuk pandangan lain yang mungkin tidak hanya Dhammadipatheyya namun juga sekedar lokadipatheyya ataupun bahkan hanyalah attadipatheyya … karena setiap paradigma memiliki kebenaran dan juga “pembenaran”nya masing-masing walau tidak harus diterima dengan persetujuan namun tetap harus juga dihargai keberadaannya). Dalam mandala ini hikmah kebenaran yang sesungguhnya tinggi  bisa saja lahir dari limbah kenyataan yang semula dipandang rendah. Respek yang setara (walau  mungkin tidak harus sama) diberikan tidak hanya bagi  pandangan Buddha Dhamma, Mistik Esoteris atau tradisi Religi bahkan addhamma sekalipun namun segalanya termasuk juga atas segala zenka keberadaan yang ada (Lokuttara Dhamma, Tao, Tuhan, Brahma /termasuk level sankhara vipassana, vedana suddhavasa, sanna anenja & Rupa Brahma Jhana 4 hingga 2 Abhasara yang tidak lagi nama sukha namun sudah rupa piti ?/ ; Wilayah kamavacara:  Mara, Yama, Dewa, yakkha, Asura /iblis?, Petta/ demit?, dunia manussa, tirachana hingga niraya lokantarika dsb) karena walau mungkin dipersepsikan dalam level/label berbeda namun secara universal segalanya berada dan melengkapi posisi  keseluruhan desain ini dengan indahnya sesuai porsi perannya maing-masing …. Sigma Kuanta cahaya dari Sentra yang sama. Yang secara bijak tak perlu dibela/dipuja? walau dipandang mulia apalagi secara fasik harus dicela/dihina? karena dianggap nista. So, mantapkan kebenaran tempuhlah kebijakan dan jalanilah kebajikan namun dengan tanpa melekatinya … ini mungkin makna tersirat nasehat Dhamma Desana Bhante Pannavaro untuk diperhatikan dalam penempuhan/penembusan spiritualitas yang berimbang bukan hanya holistic pada keseluruhan namun juga harmonis untuk keswadikaan diri.
 
PROLOG 
2020 = awal  (galau corona ?)
PSBB Covid-19 masih diberlakukan, etc  aaa 
Well, sudah hampir 1 tahun Pandemi Global Corona berlangsung (pertengahan maret 2020 awal blog 7 & vlog 3 kami ) . Well, just joke  ...  Gusti mboten sare (Tuhan memang tidak tidur) namun haruskah kami juga menanggung beban karma kolektif  selama ini , bang Ahok ( terpenjara 1 tahun 8 bulan 15 hari )?  No, hanya bercanda walau memang tidak lucu (bahkan mengesalkan ?) .... ada hikmah yang lebih utama yang seharusnya kita fahami dan sadari dibalik musibah ini demi kebaikan berpribadi & perbaikan kebersamaan.  
Well, mungkin memang perlu sketsa paradigma baru jika kami (terpaksa atau sukarela jika tidak dengan sukacita sebagaimana hendaknya niatan harus murni demi peniscayaan kelayakannya atau pelayakan keniscayaannya ... istilah tepatnya?) perlu melanjutkan kembali kejujuran berpribadi & ketulusan berbagi demi kebaikan & perbaikan bersama sebagai bukan hanya sebagai sesama manusia di kehidupan duniawi saat ini namun sebagai zenka pengembara di keabadian mandala advaita keilahian ini. Intinya nanti kita perlu menyadari dan menghayati diri tidak lagi sekedar sebagai figur eksistensial dengan segala atribut peran & tanggung jawab keberadaan zahiriah yang disandang namun juga sebagai zarah universal batiniah & media impersonal yang kesemua itu perlu keselarasan / keterarahan dengan kaidah kesunyataan mandala ini.      
JUST SONG
Transkrip  Song: Duaa (Jo Bheji Thi Duaa- Arijit Singh.) 
Covers : (Sanam Puri - Vocals) (Samar Puri - Guitars) (Venky S - Guitar) (Keshav Dhanraj - Cajon) 
Original Source : Duaa (Acoustic) | Sanam ft. Sanah Moidutty : https://www.youtube.com/watch?v=GGErfAmSK9I 

Kise Poochun, Hai Aisa Kyun 
Pada siapa harus ku tanyakan, mengapa jadi begini
Bezubaan Sa… Yeh Jahaan Hai… 
Seluruh dunia membisu
Khushi Ke Pal, Kahaan Dhoondoon
Kemana harus ku cari momen kebahagiaan
Benishaan Sa… Waqt Bhi Yahaan Hai…
Bahkan sang waktu pun tidak meninggalkan jejak disini
Jaane Kitne, Labon Pe Gile Hain…
Ada begitu banyak keluhan di bibirku
Zindagi Se, Kayi Faasle Hain…
ada jarak yg membentang jauh dari kehidupan
Paseejte Hai Sapne Kyun Aankhon Mein
Mengapa impian-impian meleleh di dalam mataku
Lakeere Jab Chhoote Inn Haathon Se Yun Bewajah…
mengapa garis takdir terhapus dari tanganku tanpa alasan
Jo Bheji Thi Dua, Woh Jaake Aasmaan
Doa yg telah kupanjatkan, mencapai langit
Se Yun Takra Gayi, Ke Aa Gayi, Hai Laut Ke Sadaa…
Kemudian bertabrakan dengannya (langit) dan memantul kembali tanpa jawaban
(doa-doaku tak didengar dan suaraku kembali padaku)
Jo Bheji Thi Dua, Woh Jaake Aasmaan
Doa yg telah kupanjatkan, mencapai langit
Se Yun Takra Gayi, Ke Aa Gayi, Hai Laut Ke Sadaa…
Kemudian bertabrakan dengannya (langit) dan memantul kembali tanpa jawaban
(doa-doaku tak didengar dan suaraku kembali padaku)
Saanson Ne Kahaan Rukh Mod Liya
nafasku berbelok menuju arah yg tak menentu
Koi Raah Nazar Mein Na Aaye
ku tak dapat melihat satupun jalan
Dhadkan Ne Kaha Dil Chhod Diya
detak jantung telah meninggalkan jantungnya
Kahaan Chhode In Jismon Ne Saaye
Namun bayangan-bayangan itu tak pernah meninggalkan raga
Yahi Baar Baar Sochta Hoon Tanha Main Yahaan…
Sendiri, aku memikirkan hal ini lagi dan lagi
Mere Saath Saath Chal Raha Hai Yaadon Ka Dhuaan…
kabut kenangan berjalan bersamaku
Jo Bheji Thi Dua, Woh Jaake Aasmaan
Doa yg telah kupanjatkan, mencapai langit
Se Yun Takra Gayi, Ke Aa Gayi, Hai Laut Ke Sadaa…
Kemudian bertabrakan dengannya (langit) dan memantul kembali tanpa jawaban
(doa-doaku tak didengar dan suaraku kembali padaku)
Jo Bheji Thi Dua, Woh Jaake Aasmaan
Doa yg telah kupanjatkan, mencapai langit
Se Yun Takra Gayi, Ke Aa Gayi, Hai Laut Ke Sadaa…
Kemudian bertabrakan dengannya (langit) dan memantul kembali tanpa jawaban
(doa-doaku tak didengar dan suaraku kembali padaku)

just  image
Bukan karena sudah lelah untuk berfikiran positif & selalu optimis untuk tetap berdoa/berharap & berusaha menghadapi + melampaui keadaan dan juga tanpa maksud attraktif & provokatif (baper & caper ?) jika mengawali dengan tayangan yang sedikit agak heboh (malah lebai terkesan pekok ... kebodohan atau pembodohan?)
Ada  video (Bapak Hermanuhadi) yang agak aneh bahkan daripada video (Sadhguru Yasudev) referensi lalu. dan juga video (Bhante Santacitto). Ini jangan dipelintir dan disalah-tafsirkan .... Bukannya tidak prihatin berempati pada kegalauan pandemi ataupun sekedar menghibur diri saja apalagi mengharapkan keparahan situasi kondisi saat ini, namun rasanya memang ada blessing in disguise (anugerah tersamar : hikmah positif  yang tersirat dari hibrah negatif yang tersurat) bagi kita saat ini. Banyak sekali referensi informatif  & inspiratif  kita dapatkan pada saat ini via internet & medsos ....tidaklah selalu buruk (semacam hoaks merekayasa opini publik dengan membenarkan kebanggan pengakuan atau membenarkan kepentingan tertentu) namun banyak juga yang baik (semisal banyaknya tayangan dhamma desana ataupun zoom ilmiah tentang spiritualitas saat ini) . Tampaknya ini cukup berguna juga sebagai rehat bagi rutinitas / vitalitas kehidupan yang terkadang atau bahkan sering sakau dalam ketamakan & kacau dengan kemarahan yang menghanyutkan dan menenggelamkan keberadaan kita selama ini. Kita gunakan ini sebagai forum hikmah ilmiah demi pemberdayaan kita semua tidak sebagai majlis ghibah fitnah bagi keterpedayaan diri & lainnya. Ini mungkin saat yang tepat (tepatnya mungkin lebih tepat .... karena bukankah setiap saat adalah saat yang tepat ?) bukan hanya untuk introspeksi akan keberadaan eksistensialitas namun juga transformasi pemberdayaan spiritualitas selanjutnya (semoga segalanya menjadi baik dan semakin baik adanya).  Jangan memperburuk keadaan eksternal (lebih tepatnya mungkin memperparah keberadaan internal). Terkadang kami meragukan sikap batin kami sendiri dalam men-share dan mempertanyakan apakah ini refleksi sikap kasih peduli atau antipati asava byapada atau mungkin hanya mana kesemuan pembanggaan ego/pembenaran ide belaka (jadi lemes & males, deh) Namun bukankah segala sesuatu tengah melayakkan kebebasannya masing-masing bukan sekedar sesuai awal asal sebelumnya namun terutama menuju potensi evolutif keberadaan diri berikutnya .... benar atau salah, baik atau buruk .... biarkan kaidah kosmik Saddhamma yang meniscayakan kelayakannya ? Well, intinya ini adalah permukaan yang berbeda dari coin kebenaran yang sama dari Be realistics to realize the Real yaitu untuk senantiasa assertif, adaptif dan antisipatif ..... bersiaga, bersedia dan berjaga dari segala kemungkinan yang ada (bukan hanya atas kemungkinan perolehan positif  terbaik yang mungkin diharapkan untuk didapatkan namun juga jika kemungkinan negatif terburuk yang walau tidak diinginkan bisa jadi justru yang memang lebih layak untuk menjadi kenyataan). 


Sekedar tambahan : 
video (Bapak Hermanuhadi)  : Kehendak Tuhan ? Hukum alam ? warning peringatan 4'53''
banyak juga analisis hikmah di balik hibrah, bro.... walaupun terdengar seperti Theodice pembenaran kehendak Tuhan / Hukum Alam namun cukup bahkan sangat positif warning (peringatan/ pengingatan) ini untuk disikapi demi kebaikan & perbaikan kita selanjutnya.
video (Sadhguru Yasudev)  Pasupathi Shiva ? kesetaraan hidup ? bat kelelawar ? 2'56''
Tentang Pashupati Shiva (pecinta/pemberkah) segala bentuk kehidupan sudah pernah dikutip di posting sebelumnya (just for seeker awal). Dalam nada ekspresi bercanda Sadhguru Yasudev (sekuat kelelawar menghadapi corona ?) kami merasakan ada pesan tersirat yang disampaikan (walau tampak guyonan) tentang peningkatan keberdayaan herd immunity ketimbang sekedar upaya pembasmian virus (bentuk primordial awal spesies kehidupan yang juga cerdas dalam bertahan & mempertahankan kehidupan sebagaimana kita manusia, kelelawar, dsb). 
Batman .... inget film ~ kelelawar abhidhamma ?
Kelelawar ? sejujurnya kami tidak tahu keilmiahan data kekuatan nocturnal ini terhadap virus tsb. Kita sering menggunakan alam kehidupan di bumi kenyataan sebagai media bagi hikmah kebenaran disamping observasi ilmiah tentu saja ... well, lewat kelelawar alam mengajarkan dibalik ketidak-awasan indra penglihatannya makhluk malam  ini memberdayakan kepekaan pendengaran mendeteksi pantulan gelombang suaranya sehingga mampu terbang menjelajah tanpa menabrak lainnya. (Cara ini mengajarkan kita juga, lho ... bahwa dalam keterbatasan & pembatasan yang ada kita juga mampu menghadapi & melampaui masalah yang ada. Misalnya dalam hal spiritualitas dikarenakan sebagian besar dari kita mungkin memang lemah dalam melayakkan penempuhan apalagi penembusan, pencapaian & pencerahan namun kita berusaha memahami dalam level batas pengetahuan tertentu yang memang dibutuhkan dan mampu dilakukan.... antara lain dengan sinkronisasi paradoks via inferensi analogis dari kekasaran permukaan menuju pemurnian kedalaman, dsb). So, jika memang ada data kami atau info yang salah semoga kita tetap waspada untuk kemudian kembali segera sadar terjaga , menjaga & berjaga. 
14 hari ? see vibrasi energi nirodha sammapatti 7 hari (@*>2 Asekha ? ) vs metta pashupathi shiva (next avatara homo novus 10?)  ?
video (Bhante Santacitto) : 
So, tetaplah positif walau dalam situasi kondisi negatif sekalipun. Addukkha dalam dukkha ... amoha swadika (terjaga, berjaga, menjaga) > hanya akan bahagia jika mendapat positif  > langsung menderita jika menerima negatif ?

Sesungguhnya
Ada perbedaan besar antara mengasihi & mengasihani diri sendiri 
(Universalisasi diri demi transendensi media impersonal bagi eksistensi figure personal) 

Likrat Shabat 
just  image

Rabbi Jack Riemer (adapted from Likrat Shabbat)
-Rabbi Jack Riemer (diadaptasi dari Likrat Shabbat)

We cannot merely pray to You, O God, to end war; For we know that You have made the world in a way That man must find his own path to peace Within himself and with his neighbor. 
Kami tidak bisa hanya berdoa kepada-Mu, ya Tuhan, untuk mengakhiri perang; Karena kami tahu bahwa Engkau telah menciptakan dunia dengan cara tertentu Bahwa seseorang itu harus menemukan jalannya sendiri menuju perdamaian Di dalam dirinya dan dengan tetangga sekitarnya.
We cannot merely pray to You, O God, to end starvation; For you have already given us the resources With which to feed the entire world If we would only use them wisely.
Kami tidak bisa hanya berdoa kepada-Mu, ya Tuhan, untuk mengakhiri kelaparan; Karena Engkau telah memberi kami sumber daya Yang dengannya (kami) memberi makan seluruh dunia Jika kami menggunakannya dengan bijak.
We cannot merely pray to You, O God, to root out prejudice, For You have already given us eyes With which to see the good in all men  If we would only use them rightly.
Kami tidak bisa hanya berdoa kepadaMu, ya Tuhan, untuk membasmi prasangka, Karena Engkau telah memberi kami mata Yang dengannya (kami) melihat kebaikan pada semua manusia Jika kami menggunakannya dengan benar.
We cannot merely pray to You, O God, to end despair, For You have already given us the power To clear away slums and to give hope If we would only use our power justly.
Kami tidak bisa hanya berdoa kepadaMu, ya Tuhan, untuk mengakhiri keputusasaan, Karena Engkau telah memberi kami kekuatan Untuk membersihkan permukiman kumuh dan memberi harapan Jika kami menggunakan kekuatan kami dengan adil.
We cannot merely pray to You, O God, to end disease, For you have already given us great minds with which to search out cures and healing, If we would only use them constructively.
Kami tidak bisa hanya berdoa kepadaMu, ya Tuhan, untuk mengakhiri penyakit, Karena Engkau telah memberi kami pikiran-pikiran hebat yang dengannya (kami) mencari obat dan penyembuhan,Jika kami menggunakan mereka secara konstruktif.
Therefore we pray to You instead, O God,  
For strength, determination, and willpower, 
To do instead of just to pray, 
To become instead of merely to wish.
Oleh karena itu kami berdoa kepadaMu sebagai gantinya, ya Tuhan,  
Untuk kekuatan, tekad, dan kemauan, 
Melakukan, bukan hanya berdoa, 
Menjadi bukan sekadar berharap. 
For Your sake and for ours, speedily and soon, 
That our land and world may be safe, And that our lives may be blessed.
Demi kebaikan Enkau dan bagi  kami, dengan cepat dan segera, 
Agar tanah dan dunia kami ini  aman, Dan semoga hidup kami diberkati.
May the words that we pray, and the deeds that we do. 
Be acceptable before You, O Lord, Our Rock and Our Redeemer.”
Semoga kata-kata yang kami doakan, dan amalan yang kami lakukan. 
Diterima di hadapanMu, ya Tuhan, Batu Karang Kami dan Penebus Kami. ”

Do'a yang dewasa ?  Ketika hal buruk terjadi pada orang baik
Link Book Harold Kuschner : Theodice seorang Rabbi atas deritanya 



Setelah  Prakata Agenda  ,  Just Quotes   Wawasan Esoteris  & Gnosis for Seeker sebelum ini 

Dari : Just Quotes ( https://justshare2021.blogspot.com/2021/01/just-share.html )
Blog Just Share dibuat sebenarnya bukan sekedar kami perlu blog baru yang lebih fresh ataupun hanya untuk nyelamur/ ngabur untuk posting yang lebih mendasar & menyasar namun agak sungkan/ riskan untuk diutarakan ke khalayak awam kebanyakan .... well, katakanlah ini khusus bagi para seeker yang cukup dewasa, cerdas & bijaksana dalam mencerna tanpa naif menyela apalagi liar mencela untuk paradigma pandangan yang baru & beda.  Jika tidak demikian maka sesungguhnya bukan hanya menyusahkan kita (pada saat ini) namun juga dirinya sendiri bahkan lainnya juga kelak. Ini mungkin (dipandang) tidak berguna atau bahaya? bagi lainnya (untuk tujuan pembenaran kepentingan keakuan & kemauan walau mungkin dalam keterpedayaan diri sendiri bahkan malah memperdayakan lainnya juga?) namun bisa jadi akan bukan hanya memang berguna namun juga tidak perlu tercela bagi para seeker (dalam niatan pemberdayaan kesejatian jikapun belum dalam tataran realisasi evolutif pencapaian minimal dalam wawasan orientasi berpandangan) untuk saling berbagi. 

MONOLOG 

We have something called as Sanathana Dharma. Sanathan means eternal, timeless. Dharma does not mean religion; Dharma means law. So they were talking about eternal laws which govern life and how we can be in tune with it. Right now, whether you’ve been to school or not, whether you’re a great scientist or not, still right now you’re complying by all the physical laws on this planet. Yes or no? Otherwise you couldn’t sit here and exist. So similarly there are other kinds of laws which are not physical in nature which govern the life process within you. So they identified these things and they said, ‘These are the laws which govern one’s life.’ But over a period of time, every enthusiastic person that came from generation to generation went on adding their own stuff according to the necessity of the day or according to the necessity of the vested interest of the day, in so many ways it’s happened, all kinds and people added many things. But essentially your sanathan dharma is just this. Sanathan Dharma identifies a human being cannot rest, do what you want, you… he cannot rest because he longs to be something more than what he is right now. You cannot stop it. You teach him any kind of philosophy, you cannot stop it. Whoever he is, he wants to be little more than who he is right now. If that little more happens, he will seek little more and little more.
Kami memiliki sesuatu yang disebut Sanathana Dharma. Sanathan berarti kekal, abadi. Dharma tidak berarti agama; Dharma artinya hukum. Jadi mereka berbicara tentang hukum kekal yang mengatur kehidupan dan bagaimana kita bisa selaras dengannya. Saat ini, apakah Anda pernah bersekolah atau tidak, apakah Anda seorang ilmuwan hebat atau bukan, saat ini Anda masih mematuhi semua hukum fisika di planet ini. Ya atau tidak? Jika tidak, Anda tidak bisa duduk di sini dan hidup. Begitu pula ada jenis hukum lain yang tidak bersifat fisik yang mengatur proses kehidupan di dalam diri Anda. Jadi mereka mengidentifikasi hal-hal ini dan mereka berkata, 'Ini adalah hukum yang mengatur kehidupan seseorang.' Tetapi dalam kurun waktu tertentu, setiap orang yang antusias yang datang dari generasi ke generasi terus menambahkan barang-barang mereka sendiri sesuai dengan kebutuhan hari atau sesuai dengan kebutuhan kepentingan hari ini, dalam banyak hal hal itu terjadi, segala macam dan orang menambahkan banyak hal. Tetapi pada dasarnya sanathana dharma Anda hanya ini. Sanathana Dharma mengidentifikasi bahwa manusia tidak dapat beristirahat, lakukan apa yang Anda inginkan, Anda ... dia tidak dapat beristirahat karena dia ingin menjadi sesuatu yang lebih dari dirinya sekarang. Anda tidak bisa menghentikannya. Anda mengajarinya filosofi apa pun, Anda tidak dapat menghentikannya. Siapapun dia, dia ingin menjadi lebih dari siapa dia sekarang. Jika itu sedikit lagi terjadi, dia akan mencari semakin lama semakin lebih .
So if you look at it, every human being unconsciously is longing to expand in a limitless way. So every human being unconsciously is looking for a boundless nature or a limitless possibility or in other words, every human being knowingly or unknowingly has an allergy for boundaries. When you threaten his existence, his instinct of self-preservation will bow… will build walls of you know, protection for himself. The same walls of protection, when there is no external threat, immediately he experiences it as walls of self-imprisonment. So they recognized this and said every human being is longing… limitless. So first thing that you must do, the moment a child becomes reasonably conscious, - the first thing that you must put into a child’s mind is, your life is about mukti, about liberation. Everything else is secondary because the only thing that you’re truly longing for is to expand in a limitless way. There is something within you which can’t stand boundaries. 
Jadi jika dilihat, setiap manusia secara tidak sadar ingin berkembang dalam suatu cara yang tidak terbatas. Jadi setiap manusia secara tidak sadar mencari sifat alami yang tidak terbatas atau kemungkinan yang tidak terbatas atau dengan kata lain, setiap manusia secara sadar atau tidak sadar memiliki alergi terhadap pembatasan. Ketika Anda mengancam keberadaannya, instingnya untuk mempertahankan diri akan tunduk ... akan membangun tembok sebagaimana anda ketahui (untuk) melindungi dirinya sendiri. Dinding perlindungan yang sama, ketika tidak ada ancaman eksternal, dia segera mengalaminya/mensikapinya  sebagai tembok pemenjaraan diri. Jadi mereka mengenali ini dan berkata bahwa setiap manusia merindukan… ketidak-terbatasan. Jadi, hal pertama yang harus Anda lakukan, pada saat seorang anak secara nalar menjadi sadar  - hal pertama yang harus Anda masukkan ke dalam pikiran seorang anak tersebut adalah, Kehidupan Anda adalah tentang mukti, tentang pembebasan. Segala sesuatu yang lain bersifat sekunder karena satu-satunya hal yang Anda benar-benar rindukan adalah berkembang dengan cara yang tiada batas. Ada sesuatu di dalam diri Anda yang tidak tahan akan keterbatasan.
So for this what are things you should do to head in that direction; they set up simple rules. If you do this, this and this, you will naturally move in this direction. You can’t call this a religion, okay? Because this is a place where you’ve been given the freedom - you can make up your own god (?!). 
Jadi untuk ini hal-hal apa yang harus Anda lakukan adalah untuk menuju ke arah itu; mereka membuat aturan sederhana. Jika Anda melakukan ini, ini dan ini, Anda secara alami akan bergerak ke arah ini. Anda tidak bisa menyebut ini agama, oke? Karena ini adalah tempat di mana Anda telah diberi kebebasan - Anda bisa menjadi tuhan Anda sendiri. (?!). 

Use : Googlre Translate (English - Indonesia) https://translate.google.com/

Then ?

Transkrip  Awaken Samadhi Trailer (Uniion Mystics )
AWAKEN SAMADHI TRAILER
(Original Source - Copy Right) https://www.youtube.com/watch?v=dqGdWoW-GT8

If you hold this feeling of “I” long enough and strongly enough the false “I”will vanish, leaving only the unbroken awareness of the real immanent “I” or consciousness itself ~ Sri Ramana Maharshi.
"Jika Anda memegang perasaan 'aku'  ini cukup lama dan cukup kuat, maka 'aku' yang semu akan lenyap, hanya menyisakan kesadaran tak terputus yang nyata, keberadaan imanen 'aku', atau kesadaran itu sendiri." ~ Sri Ramana Maharshi
Samadhi is an ancient Sanskrit word which means Union. It is the union of individual persona, the egoic self with something greater, something unfathomable to the mind. Samadhi is a surrendering, a humbling of Individual mind to the Universal mind. The purpose of Meditation, Yoga, Prayer, Chantings and all Spiritual practices is one and that is Samadhi. In the language of Christian mystics it is humbling oneself before God. Samadhi is realized through what Buddha called the middle way or what in Taoism is called the balance of ying and yang. In the yogic traditions it is called the marriage of Shiva and Shakti.
Samadhi adalah kata Sansekerta kuno yang berarti Persatuan. Ini adalah penyatuan persona individu, diri egois dengan sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang tak terduga bagi pikiran. Samadhi adalah penyerahan, merendahkan pikiran Individu ke pikiran Universal. Tujuan dari Meditasi, Yoga, Doa, Nyanyian dan semua praktik Spiritual adalah satu dan itu adalah Samadhi. Dalam bahasa mistik Kristen, itu berarti merendahkan diri di hadapan Tuhan. Samadhi diwujudkan melalui apa yang disebut Buddha sebagai jalan tengah atau yang dalam Taoisme disebut keseimbangan ying dan yang. Dalam tradisi yoga, ini disebut perkawinan Siwa dan Shakti. 
When Samadhi is perfect, it is wisdom of the great ultimate reality. An understanding of the relationship between form and emptiness, relative and absolute, its a coming into one's true nature. Samadhi begins with a leap in to the unknown.
Ketika Samadhi sempurna, itu adalah kebijaksanaan dari realitas tertinggi yang agung. Pemahaman tentang hubungan antara bentuk dan kekosongan, relatif dan absolut, yang masuk ke dalam sifat sejati seseorang. Samadhi dimulai dengan lompatan ke hal yang tidak diketahui.
In order to realize Samadhi, one must turn consciousness away from all known objects, from all external phenomena, conditioned thoughts and sensations towards consciousness itself. Towards the inner source, the heart of  essence of one's being.
Untuk mewujudkan Samadhi, seseorang harus mengalihkan kesadaran dari semua objek yang diketahui, dari semua fenomena eksternal, pikiran dan sensasi terkondisi menuju kesadaran itu sendiri. Menuju sumber batin, inti dari keberadaan seseorang.
The source of all existence is not a thing or object that one can see like in these physical world we do. It is perfect emptiness or stillness itself. It is the emptiness which is the source of all things.
Sumber dari semua keberadaan bukanlah hal atau objek yang dapat dilihat seseorang seperti di dunia fisik yang kita lakukan ini. Itu adalah keheningan atau keheningan sempurna itu sendiri. Kekosongan itulah yang menjadi sumber segala sesuatu.
This union cannot be understood with the limited individual mind. It is only directly realized when the mind becomes still. There is no Self that awakens. There is just ‘you' that awakens. What you are awakening from is the illusion of the separate self from the dream of the limited ‘you'. The World that now you think you are living in is actually ‘you'. It is your higher self or the selfless self. Annata.... No Self.
Persatuan ini tidak dapat dipahami dengan pikiran individu yang terbatas. Itu hanya disadari secara langsung ketika pikiran menjadi tenang. Tidak ada Diri yang terbangun. Hanya ada 'kamu' yang terbangun. Dari mana Anda terbangun adalah ilusi dari diri yang terpisah dari impian 'Anda' yang terbatas. Dunia yang sekarang Anda pikir Anda tinggali sebenarnya adalah 'Anda'. Itu adalah diri Anda yang lebih tinggi atau diri yang tanpa diri/tidak mementingkan diri sendiri. Tanpa aku ... Tiada diri
Samadhi is so simple that when you are told that what is it and how to realize it, your mind will always miss it because the mind is what needs to be stopped before it is realized. It is not a ‘happening' at all. It is the surrendering of the individual mind to the higher mind or big mind..
Samadhi begitu sederhana sehingga ketika Anda diberitahu bahwa apa itu dan bagaimana merealisasikannya, pikiran Anda akan selalu merindukannya karena pikiran adalah apa yang perlu dihentikan sebelum disadari. Ini sama sekali bukan 'terjadi'. Ini adalah penyerahan pikiran individu ke pikiran yang lebih tinggi atau fikiran besar.
The most important teaching of Samadhi is perhaps found in this phrase:- “Be Still & get Know”.
Pengajaran paling singkat dari Samadhi mungkin dapat ditemukan dalam frase ini: "Diamlah dalam keheningan dan ketahuilah Hal tersebut."
Silence is the language of God. All else is poor translation. - Rumi
(Keheningan adalah bahasa Ilahi. Semua hal lainnya hanyalah 'terjemahan' belaka yang tidak memadai. – Rumi)
How can we use words and images to convey stillness? How can we convey silence by making noise? Rather than talking about Samadhi as an intellectual concept. this film is a radical call to INACTION. A call to stillness. A call to meditation and inner silence. A call to STOP.
Bagaimana kita dapat menggunakan kata atau gambar untuk menjangkau keheningan ? Bagaimana kita dapat menyampaikan keheningan dengan membuat kebisingan ? Film ini ditujukan sebagai suatu panggilan radikal untuk "tanpa-aksi". Suatu panggilan untuk menuju keheningan. suatu panggilan untuk meditasi dan keheningan di kedalaman. Suatu panggilan untuk Berhenti
Stop everything that is driven by the pathological egoic mind. Be still and know.
Hentikanlah segala sesuatu yang dibawa oleh fikiran diri yang sakit. Berdiamlah dan Ketahui
No one can tell you what will emerge from the stillness. It is a call to act from the spiritual heart.
Tidak ada yang bisa memberitahu Anda apa yang akan muncul dari keheningan. Ini adalah panggilan untuk bertindak dari jantung spiritual.
Samadhi is not some mystical 'altered' state of being. It is simply one's natural state of presence, of consciousness unmediated by thought, unmediated by an egoic identity.
Samadhi bukanlah sejumlah tahap perubahan keberadaan yang bersifat mistis. Ini hanyalah keberadaan alamiah kehadiran seseorang. yang kesadarannya tidak terpisahkan oleh fikiran, tidak terpisahkan oleh identitas suatu diri pribadi.
Most of humanity is in an altered state all the time... A state of egoic identification with form and thought. When one is in a state of natural presence and non-resistance, Prana flows more freely through the inner world. This pranic stream which is prior to the nervous system, prior to the senses and thinking,becomes a new interface with reality. Literally a new level of consciousness or new way of being in the world.
Sebagian besar umat manusia dalam keberadaan yang terpisahkan sepanjang waktu … Suatu keberadaan beridentifikasi diri dengan bentuk dan pikiran. Ketika seseorang dalam keadaan kehadiran alamiah dan tanpa tekanan, Prana mengalir lebih bebas melalui dunia batin. Aliran prana ini yang sebelumnya menuju ke sistem saraf. sebelumnya menuju indrawi dan fikiran, menjadi antarmuka baru dengan kenyataan, Secara harfiah suatu tingkat kesadaran yang baru atau cara baru keberadaan di dunia.
It is through the ancient teachings of Samadhi, the humanity will begin to understand the common source of all the religions and to come into alignment once again with the spiral of life …. Great Spirit, Dhamma, or the Tao.
Ini melalui pengajaran Samadhi kuno bahwa umat manusia akan mulai memahami sumber umum dari semua agama dan untuk datang ke dalam keselarasan sekali lagi dengan spiral kehidupan Roh Agung, Dhamma, atau Tao.
Samadhi is the 'gateless gate’ and ‘pathless path' and it is the identification with the self structure which separates our Inner and Outer worlds.
Samadhi adalah 'gerbang tanpa gerbang' dan 'jalan tanpa jalan' dan itu adalah identifikasi dengan struktur diri yang memisahkan dunia Batin dan Luar kita.

dari quotes reupload sadhguru berikutnya (23-01-2021 ?)
just  image

EPILOG 
Video Chant : Gaiea Sanskrit _ Madalasa Upadesha

Lullaby Song of  Madalasa Upadesha from The Mārkaṇḍeya Purāṇa … 
Kidung Nina Bobo Ratu Madalasa kepada puteranya (Rshi Markandeya) 

Verse 1
śuddhosi buddhosi niraɱjano’si //saɱsāramāyā parivarjito’si// saɱsārasvapnaɱ tyaja mohanidrāɱ// maɱdālasollapamuvāca putram|
Madalasa says to her crying son:// “You are pure, Enlightened, and spotless. //Leave the illusion of the world // and wake up from this deep slumber of delusion”
Madalasa berkata kepada putranya yang menangis: //“Anda murni, Tercerahkan, dan tidak bernoda.// Tinggalkan ilusi dunia dan //bangun dari tidur nyenyak delusi ini "
Verse 2
śuddho’si re tāta na te’sti nāma // kṛtaɱ hi tatkalpanayādhunaiva|//paccātmakaɱ dehaɱ idaɱ na te’sti //naivāsya tvaɱ rodiṣi kasya heto||
“My Child, you are Ever Pure! You do not have a name. //A name is only an imaginary superimposition on you.//This body made of five elements is not you nor do you belong to it.//This being so, what can be a reason for your crying ?”
“Anakku, kamu Selalu Murni! Anda tidak punya nama.// Nama hanyalah lekatan khayal  yang dikenakan pada Anda. // Tubuh yang terbuat dari lima elemen ini bukanlah Anda dan bukan pula milik Anda. // Karena itu, apa yang menjadi alasan Anda menangis? "
Verse 3
na vai bhavān roditi vikṣvajanmā //śabdoyamāyādhya mahīśa sūnūm|//vikalpayamāno vividhairguṇaiste //guṇāśca bhautāḥ sakalendiyeṣu||
“The essence of the universe does not cry in reality. // All is a Maya of words, oh Prince! Please understand this. //The various qualities you seem to have are are just your imaginations, //They belong to the elements that make the senses (and have nothing to do with you).”
“Esensi alam semesta tidak menangis dalam Realitas kenyataan. // Semuanya adalah kata-kata Maya, oh Pangeran! Mohon mengerti ini. // Berbagai kualitas yang tampaknya Anda miliki hanyalah imajinasi Anda, // Mereka termasuk dalam elemen yang membuat indra (dan tidak ada hubungannya dengan Anda). ”
Verse 4
bhūtani bhūtaiḥ paridurbalāni // vṛddhiɱ samāyāti yatheha puɱsaḥ| // annāmbupānādibhireva tasmāt //na testi vṛddhir na ca testi hāniḥ||
“The Elements [that make this body] grow with accumulation of more elements, or//Reduce in size if some elements are taken away //This is what is seen in a body’s growing in size or becoming lean depending upon the consumption of food, water etc. //YOU do not have growth or decay.”
“Unsur-unsur [yang membuat tubuh ini] tumbuh dengan akumulasi lebih banyak unsur,//  atau Kurangi ukurannya jika beberapa elemen diambil  // Inilah yang terlihat pada tubuh yang membesar atau menjadi kurus bergantung pada konsumsi makanan, air, dll.//  KAMU tidak memiliki pertumbuhan atau kerusakan. "
Verse 5
tvam kamchuke shiryamane nijosmin // tasmin dehe mudhatam ma vrajethah| //shubhashubhauh karmabhirdehametat //mridadibhih kamchukaste pinaddhah||
“You are in the body which is like a jacket that gets worn out day by day. // Do not have the wrong notion that you are the body. //This body is like a jacket that you are tied to, // For the fructification of the good and bad Karmas.”
“Anda berada di dalam tubuh yang seperti jaket yang semakin hari semakin aus. // Jangan salah paham bahwa Anda adalah tubuh. // Tubuh ini seperti jaket yang diikat, // Untuk fruktifikasi dari karma baik dan buruk. "
Verse 6
tāteti kiɱcit tanayeti kiɱcit // aɱbeti kiɱciddhayiteti kiɱcit| // mameti kiɱcit na mameti kiɱcit //tvam bhūtasaɱghaɱ bahu ma nayethāḥ||
“Some may refer to you are Father and some others may refer to you a Son or //Some may refer to you as Mother and some one else may refer to you as Wife. // Some say “You are Mine” and some others say “You are Not Mine” // These are all references to this “Combination of Physical Elements”, Do not identify with them.”
“Beberapa mungkin menyebut Anda adalah Ayah dan beberapa lainnya mungkin merujuk Anda sebagai Putra atau // Beberapa orang mungkin menyebut Anda sebagai Ibu dan beberapa orang lain mungkin menyebut Anda sebagai Istri.//  Beberapa orang mengatakan "Kamu adalah milikku" dan beberapa lainnya mengatakan "Kamu bukan milikku"//  Ini semua adalah referensi ke "Kombinasi Elemen Fisik", Jangan identifikasi dengannya. "
Verse 7
sukhani duhkhopashamaya bhogan //sukhaya janati vimudhachetah| // tanyeva duhkhani punah sukhani //janati viddhanavimudhachetah||
“The ‘deluded’ look at objects of enjoyment,  // As giving happiness, by removing the unhappiness. // The ‘wise’ clearly see that the same object // Which gives happiness now will become a source of unhappiness.”
“Pandangan yang 'tertipu' pada objek kenikmatan, // Seperti memberi kebahagiaan, dengan menghilangkan ketidakbahagiaan. // Orang 'bijak' dengan jelas melihat objek yang sama // Yang memberi kebahagiaan sekarang akan menjadi sumber ketidakbahagiaan. "
Verse 8
yānaɱ cittau tatra gataśca deho // dehopi cānyaḥ puruṣo niviṣṭhaḥ| // mamatvamuroyā na yatha tathāsmin // deheti mātraɱ bata mūḍharauṣa|
“The vehicle that moves on the ground is different from the person in it //  Similarly this body is also different from the person who is inside! // The owner of the body is different from the body. // Ah how foolish it is to think I am the body!”
“Kendaraan yang bergerak di tanah berbeda dengan orang di dalamnya // Demikian pula tubuh ini juga berbeda dengan orang yang ada di dalam! // Pemilik tubuh berbeda dengan tubuh. // Ah betapa bodohnya menganggap aku adalah tubuh! "

just  image
Sanskrit : śuddhosi buddhosi niraɱjano’si //saɱsāramāyā parivarjito’si// saɱsārasvapnaɱ tyaja mohanidrāɱ// 
English : “You are pure, Enlightened, and spotless. //Leave the illusion of the world // and wake up from this deep slumber of delusion”//
Indonesian :“Anda murni, Tercerahkan, dan tidak bernoda.// Tinggalkan ilusi dunia dan //bangun dari tidur nyenyak delusi ini "
S (Sk) : Maɱdālasollapamuvāca putram|
E (Eng) : Madalasa says to her crying son://
I (Ina) : Madalasa berkata kepada putranya yang menangis:


Then ?
Sekilas sebagai seeker, kita memahami alur gnosis mystic di atas. Paska Bahasan Gnosis Anatta Saddhamma Buddhisme pada blog sebelumnya, berikut kita menggunakan referensi Sanatana Dhamma Mystics sebagai pijakan referensi awalnya. Secara filosofis & psikologis sebagai kebijaksanaan Orientasi Universal dengan tanpa menafikan akan aktualisasi/ harmonisasi eksistensial dalam keberadaan personal,(walau kami bisa saja tidak benar,(malah salah atau disalahkan ?)- namun kami tetap konsisten dengan kaidah theosofi panentheistik daripada kesadaran kaidah pandangan theologi monistik pantheisme tersebut ataupun kewajaran theodice akidah risalah monotheistik umumnya sebagai sikap yang tepat agar tetap senantiasa true, humble & responsible baik dalam pengetahuan maupun penempuhan sebagai jalan tengah yang menyeluruh untuk tidak jatuh dalam identifikasi (imaginasi?) ataupun eksploitasi (manipulasi?) yang bisa jadi akan menggoyahkan keseimbangan dan mengacaukan keberimbangan dalam keseluruhannya. 
(cukup tanggap atau perlu bahasan lanjut berikutnya? .... ada transenden Hyang Mutlak > //baca: yang lebih besar/Maha agung atau tidak sekedar/ hanya sebatas // laten deitas immanenNya).... Aktualisasi meng-Esa tanpa keakuan bukan defisiensi meng-aku dengan ke-Esaan (B-love > D-love, Maslow ?).

Sebelumnya walau secara marathon & serabutan kami sudah menyampaikan sejumlah referensi inferensial dalam aneka posting Just for Seeker ( Hanya /khusus/ untuk para pencari ). Semoga jika Tuhan Hyang Transenden & tentu saja juga Maha immanen di segala wilayah para guardian mandala advaitaNya  mengizinkan ini benar-benar bisa menjadi yang terakhir (triade final untuk : thesis - anthithesis - synthesis) yang mampu kami bagi dalam keterbatasan pengetahuan penjelajahan kami sebagai seeker pencari selama ini dalam kapasitas yang memang kami akui kurang bonafide (certified & qualified) maklum hanya padaparama dihetuka ... walau sejujurnya sudah capek namun habis-habisan sekalian saja penuntasannya. 

Well, kami sudah menyatakan berulang kali ini hanya sharing idea bukanlah kebenaran mutlak yang harus dipercaya begitu saja ... perlu keterjagaan & kewaspadaan untuk memahami & mensikapinya dan menjadikan ini sebagai antithesis dari thesis pandangan kita semula bagi sinthesis pandangan kita yang lebih baru & maju hendaknya. Perlu mengulangi kutipan lagi ? 
TENTANG PANDANGAN : 
KONSIDERAN IDEA PANDANGAN  : kebenaran, kebijakan, kebajikan

Perlu kebijakan dalam berpandangan  
Belajar spiritualitas secara mendalam dan meluas memang sangat mengasyikan namun perlu kedewasaan dan keberimbangan agar bukan hanya tidak melengahkan/mengacaukan aktualisasi tanggung jawab eksistensial kehidupan kita namun juga agar dalam penempuhan spiritualitas keabadian tidak justru malah kontraproduktif (istilah kontroversi kami 'ter-alienasi', jadzab ?- 'ngedan ngelmu'?').  Suatu kondisi dimana kita tidak lagi samvega tergugah dalam penempuhan namun justru merasa galau dikarenakan ada gap antara realitas target ideal aneka kaidah spiritualitas / akidah religiusitas tertentu dengan segala faktisitas kompleks keberadaan kita yang memang terbatas dan terbatasi situasi dan kondisi  yang ada dan nyata.  Oleh karena itu ... sambil terus meng-upload aneka referensi files spiritualitas yang kami rasa perlu untuk dishare (juga aneka files kehidupan lainnya) dan menyelesaikan posting Quo Vadis (yang sudah terlanjur dipublish) ; kami merasa perlu mengajukan juga paradigma alternatif pribadi tentang konsep Parama Dharma, desain Mandala Advaita dan Formula Swadika yang senantiasa terupdate terus menerus sesuai dengan aneka macam referensi masukan dan refleksi renungan dalam setiap perjalanan kehidupan dan penjelajahan keabadian ini.  Perlu sikap benar, sehat dan tepat bagi kita untuk memandang permasalahan secara berimbang dengan harmonis & holistik agar tidak ambisius tenggelam dalam arus kehidupan namun juga tidak obsesif terhanyutkan banyak konsep pandangan yang ada dengan segala tuntunan (tuntutan?) idealitas kesempurnaannya.
Konsideran mistisi sufisme & ahli hikmah 
Meminjam istilah Mistisi Ibn Araby ('biar hati ini menjadi makam bagi rahasia-rahasia')., mungkin akan menjadi nyaman juga bagi diri sendiri dan keseluruhan jika kemudian kami senantiasa menundanya dan menguburnya kembali dan berkata dalam hati biarkan logika pemikiran ini tetap tersimpan aman di tempatnya karena memang tidak harus, perlu dan patut untuk diungkapkan ke permukaan. 
Jalaludin Rumi : tentang hikmah (Dilema Faqir) = Janganlah kamu berlaku zalim dengan tidak memberi kepada orang yang berhak menerimanya. namun janganlah kamu berlaku fasik dengan memberi kepada orang yang belum layak menerimanya. 
Seorang ahli hikmah (mungkin Ali b Abu Thalib ra) ada menyatakan : bicaralah hanya ketika anda memang perlu bicara namun janganlah bicara jika hanya ingin bicara .... mungkin ini dimaksudkan agar hanya kebenaran, kebajikan dan kebijakan yang terungkapkan dengan kesadaran holistik, ketulusan harmonis dan kepolosan autentik bukan sekedar estetika hipocricy kepantasan , apalagi kepicikan yang kasar (reaktif paranoid neurotik)  dan kelicikan yang lihai (manipulatif, provokatif , intimidatif). Cahaya (esensi murni) tampaknya memang seharusnya meniscayakan pelayakannya sebagaimana cahaya secara alami dan murni yang (maaf) bukan 'hanya' berguna memberdayakan untuk terpancarkan ke permukaan namun terutama demi pemurnian/kemurnian di kedalaman. Terlalu 'rendah' dan justru akan me'rendah'kan saja jika internal drive kewajaran peniscayaan ternodai eksternal motive kepamrihan pemantasan apalagi pengharapan demi sekedar kebanggaan pengakuan dan atau pembenaran kepentingan belaka. .....(walau mungkin ini bisa juga rambatan keakuan yang lain untuk kesemuan pengharapan perfectionist atau jangan jangan karena kekikiran tidak ingin interaksi berbagi ... entahlah ... yang jelas mood untuk spontan meng-inferensi data dan mengekspresikan idea masih macet saat ini ).

Kutipan lain : 
Berikut referensi yang cukup menyegarkan & mencerahkan yang kami dapatkan dalam browsing penjelajahan antara lain dari Vlog ELA (eling lan awas) sebagai pengantar kajian final kita . Well, terima kasih Bapak Hans YF La Kahija karena kesediaan untuk saling berbagi demi kebaikan sesama & perbaikan bersama.   
Video : Tao : Kebijaksanaan dalam keberimbangan  
 

sesungguhnya tak ada yang salah dengan segalanya, kitalah yang salah memahaminya secara holistik & mensikapinya secara harmonis 

Sikap universal kesemestaan Lao Tsu  diantara panna simsapa kesunyataan Buddha dan Etika Eksistensial Confucius. 
Video : Zen : Kasunyatan dalam keberadaan   
 
Fahami kebenaran universal segala sesuatu apa adanya .... ada kesunyataan transendental dalam keberadaan immanential, ada keberadaan esensial dalam kesunyataan empirikal. 
Konsideran input lain
Dari : Gnosis for Seeker (https://justshare2021.blogspot.com/2021/01/just-share_21.html)
Perlu kebenaran dalam berpandangan    

Hampir lupa kutipan terakhir ini penting untuk bahasan theologi, theosofi & theodice KeIlahian Transenden Impersonal untuk data lama kami 
Hanya bermodalkan sedikit referensi intelektual pengetahuan & inferensi imaginatif  kemungkinan kami jujur saja bukanlah 'otoritas' yang layak untuk membabarkan realitas ini.  Namun demikian sekedar share... okelah ... walaupun memang kurang bonafide memadai (dari sisi qualified & certified) kami akan berbagi semampu yang bisa dilakukan.See :slogan pacceka  
Amor Dei, Amor Fati  
(Jika cinta Tuhan cintailah juga GarisNya.)  
Dhammo have rakkhati dhammacarim 
(Dharma kebenaran akan melindungi para penempuhNya ) 
Gate Gate Paragate Parasamgate .... Bodhi Svaha 
(lampaui delusi apaya, sensasi surga, fantasi brahma ... murni terjaga, berjaga dan menjaga)  
Appamadena Sampadetha 
(berjuanglah untuk tidak lengah sebagai/selayak/selaras ariya)  

BE RESPONSIBLE  bertanggung jawablah 
BE HUMBLE (dalam) kerendah-hatian 
BE TRUE  (untuk menjadi) sejati

Sikap Batin Dasar : Be Realistics to Realize the Real 
Menjadi spiritual (kemurnian autentik) tidak sekedar mengemas kesalehan estetik religius
 Untuk waspada (kaidah keutamaan > konsep kebenaran > trick kelihaian ) 
Demi konsistensi & kontinuitas 'ovada paccceka? maka Kaidah etika  keutamaan tidak sebatas klaim konsep kebenaran apalagi sekedar trick kelihaian pembenaran 'sacred monistics' perlu ditekankan & ditegaskan. Ini dimaksudkan sama sekali bukan untuk menyinggung/ menyangkal kepercayaan normatif religius kita selama ini namun justru demi mendukung bahkan meningkatkan keberdayaan autentik spiritual kita selanjutnya. In short , agar senantiasa terjaga dalam kebenaran evolutif , menjaga kebersamaan semuanya & berjaga dari segala kemungkinan ...... bukannya terjatuh dalam semunya keterpedayaan, naifnya ketersesatan apalagi liarnya pengrusakan bukan hanya diri sendiri namun bahkan juga lainnya. 
Sacred Monistics ? self term untuk istilah pembenaran anggapan hanya dengan imaginasi / identifikasi bahwa karena telah berpandangan, beranggapan, berkelakuan bahkan pernah mencapai 'pencerahan' / "penyatuan' seseorang merasa sudah berhak merasa suci dan boleh melakukan apapun juga (termasuk kebejatan, kekejaman dsb) terhadap dirinya sendiri maupun orang lain, lingkungan sekitar, dsb. 
perlu akal sehat, hati nurani & jiwa suci dalam spiritualitas demi kebenaran, kebajikan & kebijakan bukan hanya demi evolusi pribadi kebaikan/perbaikan diri sendiri saja tetapi juga  harmoni dimensi kebersamaan & kesemestaan dengan lainnya disamping ... tentu saja ... agape alithea dalam keselarasan Saddhamma di mandala advaita ini.


Be True : x  imaginative
vs kesemuan : kesombongan berpandangan / beranggapan ( identifikatif ?)
mencela itu tercela./mencela itu tercela bukan hanya untuk yang tidak selayaknya dicela bahkan juga jikapun dianggap layak untuk itu awas kesombongan, jaga keseimbangan demi kebijaksanaan akan Kesunyataan holistik /. Adalah keyakinan semu (atta dipatheyya/loka dipatheyya?) yang menyatakan/menghalalkan bahwa kita akan dianggap / dipandang mulia ego kita jika bisa berbangga diri apalagi jika menista lainnya ? 
Sesungguhnya tidak perlu mengkambing-hitamkan setan, mara  & derivatnya (dajjal, lucifer, kafir, etc), karena sejujurnya kenaifan & keliaran ego kita sudah cukup parah & payah untuk merusak diri sendiri dan alam semesta ini tanpa perlu godaan atau cobaan siapapun juga. Well, jika mereka yang "tercela" tersebut memiliki integritas etika yang lebih baik & maju mereka pastilah akan berprihatin dengan kenaifan berpandangan ini ... sebaliknya jika moralitas norma mereka tidak cukup baik mereka tentulah akan tertawa karena kejatuhan bersama akan keliaran prilaku ini..
Kutipan :
Well, dunia kehidupan ini sesungguhnya mampu mencukupi  semuanya  dengan kelimpahan, kedamaian & kebahagiaan namun tidak akan mampu untuk memenuhi keserakahan, kesombongan dan kesewenangan seorang manusia sekalipun. 
Orang lain (lebih luas makhluk lain) adalah (sebagaimana) diri kita sendiri yang kebetulan saja saat ini menjalankan peran yang berbeda.
Dsb Dst Dll  
Kutipan : Keraguan Ehipasiko? 
Well, just ... Sapere aude (Horace/Kant?) Be wise .. dare to know ... Bijaksanalah untuk berani (menjelajah meng-eksplorasi) untuk mengetahui / menerima (kebenaran pastinya). Tentu saja ini dilakukan tidak dengan asal-asalan apalagi hanya akal-akalan demi tujuan identifikatif (membanggakan keakuan) saja apalagi manipulatif (membenarkan kemauan) belaka... well, sebagaimana konsistensi kaidah kosmik di awal  mutlak diperlukan pemberdayaan internal akal sehat, hati nurani dan jiwa suci untuk mencari, menempuh dan menembus  kebenaran.  Perlu integritas kesungguhan autentik individual yang personal immanen untuk memahami totalitas keseluruhan holistik universal yang Impersonal Transenden ... sebagai zenka laten deitas putera keabadian untuk menyadari kembali Sentra sejati KeIlahian dengan sigma mandala Kaidah alamiah Saddhamma yang sesungguhnya berlaku nyata walau tanpa perlu pengakuan namun mutlak perlu penempuhan yang selaras denganNya.  Ketuklah maka pintu akan dibukakan - demikian kutipan kata Alkitab Kristiani yang pernah kami baca. Itu adalah pintu kebenaran yang sama bagi semua ... pintu tanazul yang menjatuhkan kebodohan/ kepalsuan kita dalam kesemuan, kenaifan dan keliaran permainan samsarik dan sekaligus gerbang taraqi yang mengarahkan kesadaran/ kemurnian kita kembali ke rumah sejati (minimal senantiasa mengingatkan kita akan hakekat segalanya yang murni dalam kesejatianNya dan karenanya dengan kemurnian yang relatif identik sebagai makhluk spiritual apapun label keberadaan & level keberdayaan pada saat lampau, kini & mendatang kita menyelaraskan cara pandang, laku penempuhan dan pelayakan keberdayaannya dengan segala keterbatasan dan pembatasan yang ada.).  Jika zarah /wadah ? memang telah masak & layak segalanya tentunya akan terjadi sebagaimana yang seharusnya terjadi dalam kesedemikianan yang multi dimensional ini ... bukan hanya pada keberadaan eksistensial namun juga kesemestaan universal bahkan hingga  kesunyataan transendental.

Be Humble : x identificative 
vs kenaifan : terjaga untuk terus memberdaya & tidak mudah terpedaya (magga phala & ritual ibadah ?)
Untuk menjadi ahli & suci memang mutlak diperlukan kearifan & kebaikan .... namun tidak jaminan setelah level keahlian & kesucian tercapai bisa dipastikan kearifan & kebaikan akan mengikuti. 
Selama berada dalam kondisi meditative okelah (karena toh dengan tidak melakukan kebodohan/kesalahan/keburukan kepada lainnya sudah termasuk kebaikan) namun apakah bisa dipastikan setelah itu kebijaksanaan & ketawaddhuan terus berlanjut dan tidak justru berubah dengan takabur kesombongan & pembenaran standar ganda kepentingan karena sudah merasa berlabelkan suci tsb (ingat : Ovada patimokha di bulan magha atau khosyiun - daaimun .... kelestarian meditative pada 3 saat sebelum, ketika & setelah meditasi/realisasi/)
kutipan : 
Well, Spiritualitas walau tampak sederhana memang sangat complicated (satu gerbang ilmu hanya bisa dibuka jika wilayah ilmu-laku-teku sebelumnya bukan hanya telah difahami dan dijalani namun telah dicapai / dikuasai dan tanpa dilekati perlu dilampaui untuk memasuki gerbang berikutnya). Lagipula kita juga perlu realistis dengan segala keterbatasan dan pembatasan yang ada termasuk dan terutama keberadaan diri .... sudah layak atau belum. (Nibbana baru bisa tercapai dalam Panna keterjagaan  sempurna magga phala tidak sekedar sanna persepsi sebenar apapun pandangannya tidak juga tanha obsesi sehebat apapun pengharapannya).
Namun demikian karena ketidak-mengertian seseorang cenderung menganggap sedangkal apapun sesungguhnya level pencapaian dirinya (baik itu karena realisasi, referensi bahkan sekedar identifikasi ataupun imaginasi sekalipun) melabelkan dirinya sendiri sebagai yang tertinggi mengungguli lainnya untuk diakui segala keberadaannya & dituruti setiap keinginannya ..... sehingga tidak hanya stagnan untuk berkembang dalam keberdayaan namun bahkan jatuh terjebak &  tersekap dalam keterpedayaan  yang berkelanjutan (apalagi jika bukan hanya kebodohan internal namun juga pembodohan eksternal dilakukan .... payah & parah). 
Inilah sebabnya kami lebih suka istilah sederhana kedewasaan pencerahan ketimbang perayaan kebebasan (karena lebih : true, humble & responsible untuk tetap terjaga , menjaga & berjaga dari segala kemungkinan ... Kebenaran adalah Jalan Kita semua tetapi bukan Milik kita, Diri Kita dan Label Kita ... Anatta ? .. Well, hanya Sang Kebenaran (baca: Hyang Esa ... Tuhan Transenden dalam triade Wujud, Kuasa & KasihNya atas laten deitas keIlahianNya di segala mandala immanenNya yang nyata, mulia dan benar dalam kesempurnaanNya) yang benar. Sedangkan kita dalam keterbatasan & pembatasan yang ada memang sering bodoh, bisa saja salah, dan bahkan mungkin jatuh  namun tetap perlu segera bangkit kembali menempuh jalan benar itu dengan benar dalam niat, cara,& arah tujuannya ...  terjaga untuk evolusi eksistensial , menjaga bagi harmoni universal & berjaga demi sinergi transendental
See :  apa itu kebenaran  Bhante Pannavarro. 
Perlu kebajikan dalam berpandangan  
Lim, kalau kamu bertanya dan mencari kebenaran, kebenaran itu persis seperti panasnya lampu minyak yang barusan kamu rasakan. Ada namun tidak terlihat, terasa namun tak dapat digenggam, mengelilingimu dengan cahayanya namun tak dapat kamu miliki, semua orang merasakan hal yang sama, melihat pancaran lampu tersebut, namun saat ingin dimiliki atau disentuh dia tak tersentuh, namun dapat dilihat dan dirasakan, itulah kebenaran. 
Kebenaran itu universal Lim, milik penciptanya dan segenap dunia ini, namun saat kebenaran ingin dimiliki oleh satu orang saja atau satu kelompok saja, dia akan langsung menghilang tak berbekas, karena kebenaran itu untuk disadari, dijalani bukan untuk dimiliki oleh makhluk yang Annica ( Tidak kekal) ini, makhluk yang Lobha ( Serakah) ini, makhluk yang penuh Irsia ( Iri hati) ini, makhluk yang penuh dengan Moha ( Kebodohan) ini dan bukan pula punya makhluk yang penuh dengan Dosa (Kebencian) ini. Disaat sebuah kebenaran sudah di klaim oleh orang lain atau hanya milik sebagian kelompok saja, maka kebenaran tersebut akan berubah menjadi pembenaran, menurut dirinya sendiri, menurut maunya sendiri, menurut nafsunya sendiri. 
Jadi Lim anakku, berjalanlah diatas kebenaran, lakukanlah yang benar benar, namun jangan sekali kali muncul keinginan untuk memiliki kebenaran yang universal tersebut, karena kebenaran itu universal tidak dapat dimiliki oleh siapapun kecuali Sang Pencipta kebenaran itu sendiri. 
semoga dapat dipahami dan semoga semua makhluk berbahagia lepas dari penderitaan selamanya, Sadhu sadhu sadhu...
 
Be Responsible :  x exploitative
vs keliaran manipulatif : senantiasa terjaga, menjaga & berjaga dari segala kemungkinan( tidak hanya mengandalkan/mengharapkan/membebankan ... maaf 'hanya' ... rahmat pengampunan/ penebusan dosa & kemungkinan ahosi karma/ penghalalan 'kiriya' sacred monistik )
Walau memang ada kemungkinan pertolongan eksternal maupun keberuntungan Mahakammavibhanga internal dsb namun demikian demi kebenaran, kebajikan & kebijakan , janganlah melakukan kebodohan internal & pembodohan eksternal apapun juga kepada siapapun saja .... Bahkan kalaupun itu memang kebenaran tersebut ternyata memang demikian kenyataannya namun sikap keutamaan adalah tetap lebih perwira, terjaga dan berdaya dalam segala hal ... bolehlah bertaruh akan 'keajaiban' namun bersiagalah menerima jika yang tak diperkirakan justru yang terjadi. (Be Wise, guys). Latihan aktualisasi murni untuk mampu melampaui faktisitas samsarik tidak sekedar defisiensi perolehan apalagi manipulasi transaksional belaka ?.




Pengetahuan barulah awal untuk melayakkan keniscayaannya
 
KONSIDERAN IDEA PANDANGAN  : Pengetahuan, Penempuhan, Pencerahan
So, ini Hanya untuk para penjelajah sejati bukan untuk yang hanya asal / ikut percaya (terpaksa ?) karena sebagai arus kesadaran abadi sebagaimana juga lainnya setiap kita bertanggung jawab atas diri sendiri dalam peran eksistensial, universal dan transendental pada perjalanan bersama ini. (dengan selaras melayakan peniscayaan kesedemikianannya tidak sekedar percaya / terpaksa menerima kepastian permainan keabadian ini)  Kesemua ini hanyalah referensi yang tetap harus diteliti, diuji dan direvisi sesuai dengan  faktitas keberadaan  diri. & realitas kenyataan yang sesungguhnya terjadi. Sekedar  dimaksudkan sebagai sharing masukan bagi pemberdayaan dan tidak untuk memperdayakan  Semoga ini tidak menjadi/dijadikan belenggu penjerat & bumerang penyesat bagi diri sendiri dan lainnya .dsb.Sesungguhnya etika kosmik ini seharusnyalah bersifat universal bisa dijalankan oleh setiap pribadi di segala dimensi dengan segala keterbatasan & pembatasannya masing-masing (walau hasilnya memang tidak seeffektif jika berada di wilayah yang relatif lebih kondusif).  Jika menyimpang dengan saddha/ iman anda sebaiknya dibuang atau diabaikan saja ... "Kembali ke Jalan yang Benar" istilah agamanya begitu, hehehe. (Atau baikan nggak usah diteruskan membacanya saja ... daripada ribet & risky untuk semua nantinya). Well, posting ini memang spesial untuk para truth seeker bukan true seeker apalagi faith believer. Ini memang perlu ekstra kecerdasan, kedewasaan dan kebijaksanaan untuk difahami dan disikapi sebagai sharing idea gnosis philosophy/ cara wisdom psychology belaka bukan dogma untuk diyakini apalagi harus dijalani. 
Itu cuma inferensi intelektual, bro .... jangan dipercaya begitu saja (saya yang berpendapat saja masih terbuka, menerima dan merevisi lagi jika nanti ternyata masih ada kesalahan, kekurangan bahkan ketersesatannya). Dalam permainan ini sesungguhnya kepercayaan Saddha Ehipasiko memang berguna namun aktualisasi & realisasi penempuhan/ penembusan/pencerahan realisasi adalah indikator utamanya. Itulah sebabnya rakit Dhamma harus secara arif & ahli digunakan untuk pengarungan tidak untuk naif & liar dipamerkan/ dilekati (aktualisasi & realisasi x identifikasi & eksploitasi) Well, Dhamma bukanlah ular berbisa simbol identifikasi/arogansi & sarana eksploitasi/ intimidasi bagi kebodohan internal diri sendiri & untuk pembodohan eksternal lainnya. (Waspadalah bukan hanya kemungkinan brain-washed dari logical / ethical fallacy sebagai pseudo /lokiya dhamma dalam pengetahuan/ penempuhan namun mungkin juga miccha ditti 62 brahmajala sutta dalam labirin penembusan/ pencapaian ).
Ini sama sekali tidak dimaksud untuk menggenapi mitos ( semisal agama Shiva Buddha - Sabdo Palon? di atas). Bagi kami bukan hanya kebodohan internal namun bahkan pembodohan eksternal untuk membuatkan belenggu baru bagi semua. Namun jika kemudian ada yang ingin meng-klaim, menggunakan atau memanfaatkannya biarlah itu menjadi beban tanggung jawab karmic atas effek kosmik yang dilakukannya (kesesatan & penyesatan > kecerahan & pencerahan ?). Well, bagi kami biarlah Realitas Kenyataan itu tetap utuh dalam kesempurnaannya ... tidak usah memecahkannya dalam aneka kepingan pandangan walau kita faham/ sadar dalam memilah memang ada Kebenaran yang memurnikan dan ada juga Kepalsuan yang menjatuhkan namun kebijaksanaan atas keberimbangan perlu dijaga untuk tidak menjerumuskan diri ke dalam mana kesombongan pembandingan untuk ekstrem konseptual tertentu bahkan walau itu sesungguhnya memang untuk mementingkan kebenaran tidak sekedar untuk membenarkan kepentingan. (Dalam sutta nipata Buddha bahkan lebih halus & santun menyatakan bahwa sesungguhnya tidak (perlu) ada (klaim konsep) kebenaran tunggal .... yang ada hanyalah fakta permasalahan dan cara mengamati, mengalami & mengatasinya saja.... Dukkha vs JMB 8.) Link there is no truth Bhante Punnaji.   
Lagipula sebenar apapun idea pandangan belumlah berarti jika saja tanpa penempuhan autentik,hingga memang terbukti dalam realisasi penembusan & pencerahan selanjutnya. Konsep ini justru malah akan menyekap/ menjebak semuanya jika hanya menjadi fanatisme kepercayaan belaka apalagi jika diikuti dengan radikalisme pemaksaan ... payah & parah. Dhamma harus dilayakkan dengan pemberdayaan. Itulah sebabnya Buddha walaupun authentically sudah menempuh, menembus dan memahaminya sendiri tetap menegaskan prinsip ehipasiko pembuktian sendiri ketimbang hanyalah peyakinan fanatisme percaya membuta bukan hanya karena secara pragmatisme begitu dangkal (hanya sebatas intelektual bahkan emosional ?) & kurang berguna bagi progress kualitas spiritual authentic savakaNya namun karena memang cukup berat dan tidak mudah merealisasi pencerahan yang mutlak harus ditempuh dengan perwira secara mandiri tidak membebani / menggantungkan pengharapan dari lainnya saja ... kualitas sejati Ariya. So,Beliau telah bersikap bijak membabarkan paradigma saddhamma pemberdayaan yang tidak hanya berguna dalam membantu dan memandu namun juga tidak membelenggu & menipu diriNya dan juga SavakaNya.  
By the way, bagaimana jika faham tsb ternyata bukan keberdayaan & pencerahan namun keterpedayaan & penyesatan? besar tanggungan karmik yang layak diterima ke semuanya. So, jangan naif/liar untuk bodoh (picik, licik dan kasar) dengan melakukan kebodohan internal apalagi pembodohan eksternal sebenar apapun anggapan anda ... apalagi jika kemudian ternyata itu adalah ketersesatan dan lebih parah lagi jika memang hanya penyesatan untuk kebanggaan pengakuan dan kepentingan kekuasaan saja. Well, selain beban karmik sendiri tambahkan juga perkalian follower / subscriber dengan jangka waktu pakai hingga kedaluarsa untuk bonus beban karmiknya, bro/sis. (kalkulasi matematis amal/dosa jariyah berjamaah versi kami ?). So, jangan korbankan diri anda dan juga (apalagi) lainnya dengan kekonyolan yang tidak perlu & tak bermutu dalam derita penyesalan yang memang mutlak perwira perlu ditanggung tidak hanya seumur masa kehidupan namun bisa jadi akan sepanjang kalpa keabadian. Walau memang senantiasa ada celah pencerahan/penyesatan di setiap dimensi alam kehidupan samsarik untuk perbaikan/ penjatuhan evolutif , namun sebagaimana Buddha katakan diperlukan ekstra kebijaksanaan (alobha/adosa/amoha), ketangguhan (sila/samadhi/panna) dan 'keberuntungan'  (berakhirnya kammasaka buruk & berbuahnya kammasaka baik, positifnya kammavipaka baru atas pacaya pemicu eksternal : misalnya sikap batin simpatik mudita bagi petta paradattupajivika atas limpahan kebaikan patidana untuknya dsb) bagi yang sudah menjadikan alam apaya seakan rumah tinggal baginya (pengumbaran kecenderungan MLD moha- lobha- dosa yang kuat di tempat yang 'tepat' ?)  
Walaupun mungkin memang ada, diadakan atau diada-adakan bagi kebenaran untuk personally bebas memilih jalan yang sesuai dan 'pembenaran' kepentingan untuk memaksakan keinginan externally (?) , mungkin sebaiknya (walau plus minus dampak memang tetap ada untuk diterima atas segala konsekuensi pilihan) tetaplah sebagaimana kita semula (?) karena disamping kita memang tetap harus menjalani tanggung jawab atas kamavipaka di saat ini adalah bijak juga menghindari disharmoni eksistensial yang tidak perlu … apakah kita muslim, Kristen, hindu, Buddha, dsb termasuk yang  menyadari dirinya agnostic ataupun maaf ….bahkan atheist sekalipun akan keilahian personal yang umumnya(?) dianut /yang ini .. disini secara politis/ ideologis (?)  masih repot atau memang direpotkan, bro/sis ? /.  Well, sebenarnya selama kita masih sadar untuk bisa menjaga dan membawa diri dalam etika kebersamaan & kesemestaan untuk saling empati,, harmoni dan sinergi seharusnya tidak menjadi masalah apalagi dipermasalahkan (?). Ada keberagaman dalam keindahan pelangi dimana masing-masing warnanya walau mungkin boleh naif untuk tidak harus menyetujui satu sama lain akan keseragaman dengannya namun tetaplah harus arif untuk senantiasa saling menghargai perbedaan keberadaannya masing-masing. Ini bukan sekedar Kearifan Buddha atau Shiva yang memandang aneka keragaman delusi pelangi berkonsep para bhava samsarik sehingga adalah tidak bijak untuk mencabut seseorang dari akar habitatnya semula walaupun/apalagi dengan cara yang sesungguhnya sangat kontra-produktif  (pembenaran standar ganda pseudo dhamma atau bahkan pemaksaan addhama : pembenaran arogansi identifikatif & eksploitasi, manipulative/ intimidatif/ agressif  dst). Well, untuk kesekian kalinya (kami tekankan) Spiritualitas yang dewasa adalah just leveling not for labeling ….memastikan  keberdayaan tidak sekedar meyakinkan kepercayaan, melayakkan pencapaian dengan penempuhan & penembusan tidak sekedar melagakkan pencitraan dengan penganggapan & pengakuan, mengandalkan tanggung jawab meniscayakan kesejatian tidak sekedar bermanja mengharapkan 'keajaiban' belaka, dsb.

KONSIDERAN IDEA PANDANGAN  : Thesis -  Anthithesis - Synthesis  
Sungguh, bahkan untuk semua masukan postingan termasuk pandangan pribadi tidak ada niatan sama sekali dari kami selain untuk sekedar berbagi ... segala keputusan untuk menggunakan, mengabaikan dan menolak sebagian/sepenuhnya adalah  hak dan  sekaligus dampak tanggung jawab kita masing-masing…. Sekedar membabar idea yang murni tanpa niatan pembentukan opini yang lihai. Dalam filsafat metode ini disebut (semoga tidak salah) ’majeutike’ yang digunakan Socrates bagaikan seorang bidan dalam memicu dan memacu seseorang untuk melahirkan kebenaran paradigma pandangannya sendiri … ini adalah thesis pandangan dalam Triade Dialektika Hegel untuk antithesis pandangan anda sebelumnya bagi synthesis kebijaksanaan baru anda nantinya yang akan menumbuh-kembangkan gestalt keterpaduan wawasan dalam menempuh pemberdayaan untuk tataran kelayakan pencapaian berikutnya. Setiap orang berhak untuk tumbuh berkembang secara alamiah dan ilmiah dalam keberadaan awalnya dulu tanpa perlu dipaksa dengan formula yang walau benar namun kurang tepat demi keberlanjutannya. Kebijakan perlu kebajikan demikian pula sebaliknya. Levelling lebih diutamakan daripada sekedar labelling.... walau memang harus diakui akan lebih kondusif dan reseptif jika berada dalam environment komunitas yang tepat.
Thesis -  Anthithesis - Synthesis
Disamping juga Thesis Data lama yang perlu direvisi sesuai dengan keselarasan dengan Antithesis wawasan esoteris gnosis wisdom Saddhamma secara benar, bajik & bijak sebagaimana paradigma Just For Seeker sebelumnya untuk Synthesis Kebijaksanaan Gnosis Wisdom Exodus yang lebih baru & maju berikutnya.

MONOLOG 

 MONOLOG


BARU KONSEP  .... PRIORITAS WALAU POSTING FINAL PALING BERAT  (PERLU KETERJAGAAN & KEWASPADAAN SEMUANYA ..SEMOGA JIKA TIDAK CUKUP CERAH & MENCERAHKAN .... JANGAN SAMPAI SESAT & MENYESATKAN )  
Jujur saja ..... Semula memang ada niatan kami yang tidak benar, bijak & bajik dalam kemurnian  (kelihaian memanfaatkan mekanisme kaidah sistem kosmik demi kepentingan pribadi ?), namun karena bisa jadi akan menjadi bumerang bukan hanya diri sendiri namun juga lainnya ... Demi kecintaan kepada kebenaran direvisi saja, ah (mengabaikan apalagi membenci percuma, guys  ... toh walaupun suka atau tidak kita tetap harus rela menerima keniscayaannya. Sikap apatis apalagi negatif malah justru memperburuk bukan hanya effek kosmik namun juga dampak karmik pengumbaran kepalsuan kita untuk semu, naif & liar akan realitas kebenaran sejati yang tersirat pada fenomena kenyataan yang tersurat dalam keberadaan, kesemestaan dan kesunyataan ini. So, bukan hanya sekedar karena keinginan lokuttara ataupun keengganan lokantarika (karena di mandala imanen manapun juga kapanpun juga sebagai figur apapun saja Cahaya TransendenNya tetap senantiasa  melingkupi segalanya dalam Wujud, Kuasa & KasihNya yang Tulus Murni menanti semuanya kembali sejati ) Namun,sungkan / riskan juga jika terus menerus tidak setia mengkhianati kepercayaanNya walau sadar memang keberdayaan belum layak untuk menjadi sebagaimana harusnya. (Bukan karena daya intensitas cahayaNya sesungguhnya namun terutama dikarenakan kualitas indria laten deitasNya yang memang tetap akan signifikan berbeda pada setiap level dimensiNya ....Well, yang lebih baik akan berpotensi mendapat & semakin berkembang lebih baik ... tentu saja demikian adanya).
Curhat selesai , langsung to the point. 
jangan dibuka & dibaca  dulu untuk alur bahasan kami nanti ... tidak selesai, masih kacau, belum revisi 
(kami sendiri saja yang dulu bikin sketsa saja masih  bingung untuk mencernanya kembali apalagi anda)
Hidden Documents (hide file) : Ini juga ada di atas sebetulnya.... rencana semula sih : just private for next figure, hehehe ...
Dengan adanya input baru , data lama masih harus direvisi lagi untuk sinkronisasi paradigma kelanjutan yang lebih benar, bajik & bijak .
(trial error ... typical seeker, guys). ... istilah judi petaruh, main selon ... puputan sekalian, habis-habisan ... tanpa sisa ? 
sejujurnya ... malu & ragu tampil kacau apa adanya.  Konsep tampaknya juga sama .... parah & payah. 

Tinggal mengandalkan intelgensi sederhana katarsis instink & inferensi intelektual karena refleksi intuitif  belum bisa apalagi realisasi insight .  
Ini saja kita mulai .... tetapi nanti, ah (posting lalu belum rampung).
rehat aja ... atau di'draft' dulu .... satu-satu nggarapnya.

JUST INNER TALK  (Skala Prioritas  : Minggu, 07022021)
No ... ini saja diutamakan. Dari 7 Posting ini memang paling utama ....
posting 1 Prakata Agenda sudah selesai  ....  CAPEK KELAMAAN ...... DIANGGAP SELESAI SAJA
posting 2 Just Quote sudah selesai  ....   INI JUGA DIANGGAP SELESAI SAJA ..... LANJUT
posting 3 Gnosis for Seekers ....  BELUM REVISI .... KRONOLOGI URUTAN POSTING KEBALIK DENGAN WAWASAN ESOTERIS
(hanya kompilasi Posting Gnosis Wisdom sebelumnya ... bisa ditunda)
posting 4 Wawasan Esoteris  .... BELUM SELESAI ....  REHAT  DULU KRONOLOGI URUTAN POSTING KEBALIK DENGAN GNOSIS FOR SEEKERS 
(hanya Referensi Posting Gnosis Wisdom sebelumnya ... bisa ditunda)
posting 5 Tataran Evolutif ..... BARU KONSEP  .... POSTING FINAL PALING BERAT 
(posting ini harusnya terakhir tetapi didahulukan saja .... To the point Deduktif  saja daripada Induktif  bertele-tele kebanyakan curhat pesan sponsor, hehehe )  
posting 6 Archives for Download  ....  hanya tampungan informasi & file download IDM all link (Archive RAR) 
posting 7 Links for Browsing .... hanya anjuran informasi & link redirect browsing untuk penjelajahan lanjut.

Stuck (macet ) lagi ? 
Tuman/ kebiasaan ... picu & pacu pakai lagu lagi aja ... Kemaki, guys. (padahal nyanyi & mainin alat musik nggak bisa ...) 
Apa, ya ? Ini aja ... kelihatannya pas.
 
NB: Lagu Amazing Grace mengisahkan kesungguhan pertobatan seseorang untuk kembali ke Jalan Tuhan setelah ketersesatannya. 
Walau singkat, Jeff menyanyikannya sangat impresif.  
 (Untuk menjaga universalitas posting kami ini.... lyric terjemahan lagu gospel himne Kristiani Amazing Grace - John Newton ini dipotong di akhir sedikit, ya ?)

Amazing Grace - John Newton
(Karunia yang Menakjubkan - John Newton) 

VERSE 1 
Amazing Grace, how sweet the sound, 
Karunia menakjubkan, betapa indahnya suara itu terdengar
That saved a wretch like me....
Yang menyelamatkan orang celaka (malang/buruk)  sepertiku
I once was lost but now am found,
Aku dahulu pernah tersesat (hilang arah) tetapi sekarang aku ditemukan kembali
I was blind, but now, I see.
Aku dulu buta tetapi sekarang  aku (dapat) melihat

VERSE 2
T'was Grace that taught my heart to fear.
Ini adalah Karunia yang mengajarkan hatiku untuk takut 
And Grace, my fears relieved.
dan Karunia (yang mana) ketakutanku menjadi terbebaskan
How precious did that Grace appear...
betapa berharganya Karunia itu tampaknya
the hour I first believed.
saat ini (jam ini?) seketika aku langsung (pertama kali) segera mempercayaiNya

Kutipan : Sekedar mengingatkan kesejatian diri & menghargai  keberadaan saat ini kita semua ....
“We are not human beings having a spiritual experience. We are spiritual beings having a human experience.”― Pierre Teilhard de Chardin
literal : Kita bukan manusia yang memiliki pengalaman spiritual. Kita makhluk spiritual yang memiliki pengalaman manusia .

Pada hakekatnya kita adalah makhluk spiritual yang menjalani peran sbg manusia ketimbang sbg manusia yang menjalani tugas spiritual..Kita hanyalah ketiadaan yang diadakan dalam keberadaan untuk sekedar sederhana mengada tanpa perlu mengada-ada dihadapanNya...betapa indahnya kehidupan jika kita tiada ragu untuk mampu hadir dalam kesederhanaan yang murni, tulus apa adanya tanpa perlu membalutnya dengan kemasan kesempurnaan yang walaupun mungkin tampak indah dan megah namun semu dalam kesejatiannya.
Sebagai seorang manusia rasional positivist umumnya kita intelectually menggunakan filsafat untuk mengamati fenomena objektif di luar & psikologi untuk mengamati fenomena subjektif di dalam. Semula kami mengira hanya diperlukan 'parama dhamma' 4 (kearifan, keuletan, keahlian & kebaikan) untuk menghadapi kehidupan ini secara pragmatis namun akhirnya bersamaan dengan waktu & trial error kami menyadari kebijaksanaan perifer tepian permukaan itu ternyata tidak cukup ada kebijaksanaan mendalam lagi yang menjadi dasar untuk itu ... kesucian. Bukan karena pemurnian itu dimaksudkan sebagai faktor pengkondisi saja bagi keberkahan dan kesuksesan sejati namun tampaknya justru itu sentra dari keberadaan, kesunyataan dan kesedemikianan yang terniscayakan terjadi dan karenanya perlu peniscayaan untuk merealisasi.... terlepas apapun anggapan/pandangan diri kita semula (keharusan duniawi, kejatuhan surgawi, keterlupaan panentheistik, keterlelapan samsarik , dsb)   Realisasi spiritualitas tampaknya memang perlu keautentikan (minimal dalam wawasan walau belum dalam tataran).

Dari : Wawasan Esoteris  ( https://justshare2021.blogspot.com/2021/01/arsip.html )
Berikut kajian kami terhadap 3 masalah krusial esoteris berdasarkan referensi Buddhisme & Mysticisme 
1. Mandala Advaita = Desain Kosmik
2. Niyama Dhamma = Kaidah Kosmik 
3. Kamma Vibhanga = Kaidah Ethika 

Dari : Gnosis for Seeker (https://justshare2021.blogspot.com/2021/01/just-share_21.html)
Berikut alternatif  Formula Swadika untuk Parama Dharma dalam Mandala Advaita. (katarsis analisa inferensi) sebagai sharing  masukan bagi anda untuk membuat risalah panduan anda sendiri dengan tetap menerima, menghargai dan menjalani harmonisasi/aktualisasi/transendensi pedoman bersama yang ada dalam faktisitas atribut peran keberadaan eksistensial kita.  5 (lima) faktor bagi perjalanan hidup di semua dimensi keabadian (Realisasi kesadaran, kecakapan, kemapanan, kearhatan? & kewajaran sebagai transformasi ekuivalen paradigma semula kearifan, keahlian, keuletan, kebaikan dan kesucian . 

 


1. orientasi kesadaran  

2. transendensi kearhatan  

3. transformasi kecakapan  

4. aktualisasi kemapanan 

5. harmonisasi kewajaran


 

 

 


Dari : Prakata Agenda  (https://justshare2021.blogspot.com/2021/01/prakata.html)
Secara filosofis & psikologis sebagai kebijaksanaan Orientasi Universal dengan tanpa menafikan akan aktualisasi/ harmonisasi eksistensial dalam keberadaan personal,(walau kami bisa saja tidak benar,(malah salah atau disalahkan ?)- namun kami tetap konsisten dengan kaidah theosofi panentheistik daripada kesadaran kaidah pandangan theologi monistik pantheisme tersebut ataupun kewajaran theodice akidah risalah monotheistik umumnya sebagai sikap yang tepat agar tetap senantiasa true, humble & responsible baik dalam pengetahuan maupun penempuhan sebagai jalan tengah yang menyeluruh untuk tidak jatuh dalam identifikasi (imaginasi?) ataupun eksploitasi (manipulasi?) yang bisa jadi akan menggoyahkan keseimbangan dan mengacaukan keberimbangan dalam keseluruhannya. (cukup tanggap atau perlu bahasan lanjut berikutnya? .... ada transenden Hyang Mutlak > //baca: yang lebih besar/Maha agung atau tidak sekedar/ hanya sebatas // laten deitas immanenNya).... Aktualisasi meng-Esa tanpa keakuan bukan defisiensi meng-aku dengan ke-Esaan (B-love > D-love - A. Maslow ?) 


PRAKATA 

Maaf sebelumnya (terutama bagi reader non seeker yang cuma numpang/ sekedar sedang lewat) jangan salah tafsir apalagi memelintir forum hikmah ilmiah ini sebagai majlis ghibah fitnah ... walau paradigmanya semula memang amburadul sesungguhnya tidaklah provokatif. Well, walau mungkin agak gila-gilaan kami berusaha untuk tidak gila beneran, lho .. tetap terjaga, menjaga & berjaga untuk senantiasa sadar akan dampak karmik dari effek kosmik berikutnya. Walau memang bisa saja tergelincir atau ( semoga saja tidak) digelincirkan. hehehe. 

Kutipan : belum cek asal comot  
So, tetap realistis tidak opurtunis (karena walau samsara ini delusif namun tidak terlalu chaotik ... Niyama Dhamma yang Impersonal Transenden cukup kokoh menyangga permainan "abadi" nama rupa di samsara ini ... perlu keselarasan, keberimbangan dan kebijaksanaan untuk tidak perlu melakukan penyimpangan, pelanggaran bahkan penyesatan yang akan menjadi bumerang kelak ... kemurnian diutamakan tidak sekedar "kelihaian" ). … ingatlah tidak hanya ucapan yang diungkapkan dan tindakan yang dilakukan bahkan konten perasaan dan fikiran kita akan berdampak juga pada keberlanjutan diri kita nantinya apalagi jika harus ditambahi dengan beban tambahan karena penderitaan dan penyesatan atas lainnya… keburukan dan kebaikan walau tidak selalu instan ataupun identik potentially akan berbalik juga ke sumbernya siapapun kita (orang biasa atau tokoh terkemuka , tidak hanya manusia namun juga semuanya termasuk brahma, mara, dewata, asura apapun identifikasi yang kita anggapkan bagi diri sendiri atau pengakuan yang kita harapkan dari lainnya). ..... Kebodohan, kesalahan dan keburukan harus secara perwira perlu ditanggung secara mandiri (/bersama?) demi/bagi keadilan, keasihan dan kearifan mandala ke-Esa-an ini. (demi tanggung jawab tersebut jangan harapkan pengampunan kosmik, penghangusan karmik bahkan ... maaf .... "kemahiran (dengan kepalsuan/kelihaian/keculasan bukan kebenaran/kebijakan/kebajikan seharusnya) ? " internal yoniso manasikara / sati sampajjana demi kasih universal untuk tidak menyusahkan/ menyesatkan lainnya).  Sedangkan kebijakan, kebenaran dan kebajikan tetaplah sucikan kembali transenden impersonal dalam anatta diri bukan hanya karena sekedar anicca namun juga untuk melampaui dukkha dalam keselarasan atas kesedemikianan yang wajar dalam peniscayaan .
kebenaran bersikap, kebijakan berpribadi dan kebajikan berprilaku tetaplah berguna (bahkan kalaupun saja semisal jika kehidupan ini ternyata hanyalah vitalitas kebebasan semu & liar belaka /ahetuka ?/ sehingga sama sekali tidak ada dampak karmik secara metafisik atas effek kosmik yang berlangsung /tiada pelayakan tihetuka bagi pemurnian untuk penembusan/ pencapaian / pencerahan, minimal perolehan deposito 'liburan' surgawi (?) ... itupun tetap berdampak positif dalam kebersamaan sosiologis di sekitarnya (kenyamanan kepercayaan, kebahagiaan, dsb) minimal secara psikologis (tiada penyesalan karena tidak bertindak buruk, tanpa kekecewaan karena mampu berprilaku baik sehingga tanpa perlu kerisauan/kecemasan lagi ketika masih hidup bahkan jikapun harus melepaskannya kala meninggal dunia .... walau belum ideal berlevel  ariya,,mampu tihetuka bhavana, mulia layak surga, mantap secara duniawi, dsb  ; Jika memang tiada dusta buat apa berduka ... walau memang tentu saja harus tetap perwira bersedia bertanggung-jawab untuk menerima apapun juga konsekuensi kemungkinan kompleksitas dampak karmik dari effek kosmik yang dilakukan tindakan / ucapan, fikiran/perasaan dsb ? Fair perwira diterima ... bukan hanya atas kebenaran, kebajikan dan kebijakan namun juga kebodohan, kesalahan dan keburukan bahkan juga kepalsuan, kebejatan dan kekejaman yang telah kita lakukan selama samsara ini. ). Segala hibrah kenyataan memang perlu terjadi sebagaimana hikmah kebenaran yang seharusnya terjadi ... walau tidak selalu identik apalagi instan (dikarenakan 'kebetulan / digariskan' ?  memang ada kompleksitas banyak faktor yang bermain di sana) . Tidak ada yang salah dengan fenomena eksternal bagi diri dengan realitas internal yang memang sudah senantiasa berusaha, terbiasa apalagi memang sudah terniscaya untuk selalu swadika terjaga tanpa perlu noda asava (miccha ditthi, mana, tanha & avijja vipalasa lainnya) untuk senantiasa jernih mengamati (yoniso manasikara?), dengan tegar menjalani (sati sampajjana?) dan bijaksana untuk mengatasinya (appamadena sampadetha?). Well, Realitas tilakhana Kebenaran yang nyata dalam setiap fenomena kenyataan yang tergelar memang seharusnya terjadi sebagaimana kelayakan keniscayaannya walau itu mungkin saja tidak sesuai dengan keinginan/ harapan / sangkaan kita semula. 
Jadi  turun level agak romantis lagi, nih .... ingat refleksi pribadi "Kun Saidan" (Berbahagialah - Anisah May dari Tasauf Modern Hamka ) ... Just loving the Love. Cintailah Cinta (Sumber Sejatinya bukan sekedar Media Obyeknya). Cintailah Tuhan (baca: Kebenaran) sebagaimana kehendakNya bukan hanya sekedar untuk mengumbar kepentingan ego yang selfish. Karena apapun yang diberikanNya (sekalipun seburuk atau seberat apapun itu tampaknya di permukaan) adalah tetap yang terbaik bagi kita ... karena itu demi kebaikan pemberdayaan kita bukan untuk memperdayakan kita. Atau dalam Mistik Theosofi dikatakan Tuhan menjadikan ini semua dengan cinta oleh karenanya dengan cintalah hendaknya kita menempuhnya untuk memahami dan mencintai kebenaran itu sebagaimana adanya..
3 dantien = akal - hati - pusat (tidak ada yang salah dari semuanya jika selaras terpadu ?)
Wah, agak melantur tampaknya bahasan kearifan samsarik & curhat pribadi ini. Semoga para Neyya (terutama para pabajita) tetap mampu waspada terjaga dan tidak hanyut terbawa arus idea ini. Para Mistisi (Tantrik Osho, Taoism ?) kadang terjebak dan tersekap dalam labirin sex - cinta - kasih ini. Sex atau birahi (kama) bersifat nafsu sensual, cinta (sneha) bersifat personal , sedangkan kasih (metta) bersifat kosmik impersonal. Ini kami ungkapkan bukan hanya karena kami memandang tetap perlunya pembabaran Saddhamma yang walau memang ditempuh secara eksistensial hendaknya juga melampaui universal untuk menjangkau transendental demi transformasi pencerahan spiritual yang dijalani. Alasan lain adalah dikarenakan kami memandang living kosmik ini utuh dalam keseluruhan (katakanlah semacam organisma besar) maka perlu perimbangan kemurnian nirvanik yang arif/kuat mengatasi kecenderungan alami samsarik yang 'naif/liar' untuk membuatnya cukup 'sehat/ tepat' agar tetap mantap bertahan dan lancar berjalan. Jikapun tidak memungkinkannya dalam keterjagaan pencerahan total keseluruhannya minimal tidak membuatnya jatuh terpuruk dalam kehancuran. Meminjam istilah Sadhguru Yasudev (?), Karma samsarik sesungguhnya tidak hanya berdampak sebatas pada pribadi eksistensial pemerannya saja namun juga bereffek pada wadah arena semesta universal yang menampungnya. Atau menganalogikan dalam Mistik Hinduism (day & night of Brahman ) seandainya samsara ini hanya Ke-Esa-an yang terlelap bermimpi, maka jika beliau terjaga semoga senantiasa lebih segar karena kecerahan tidur tanpa "mimpi buruk"nya ....mungkin perumpamaan itu bisa menjadi pemicu baru mengapa transendensi eksistensial evolusi pribadi perlu dijalankan dan transendensi universal harmoni dimensi perlu diusahakan ... 
(sekedar tambahan terma filsafat theosofist ini : eros - filia - agape ? cinta sensual - altruisme kemanusiaan - kasih keIlahian )
So, Be Selfless (not  selfish ? )
 
I say that madness is the first step towards unselfishness. 
Be mad, Meesha. Be mad and tell us what is behind the veil of ”sanity,” 
The purpose of life is to bring us closer to those secrets, and madness is the only means. 
Be mad, and remain a mad brother to your mad brother. 
"Aku berkata bahwa kegilaan adalah langkah pertama menuju sikap tidak mementingkan diri sendiri.
Jadilah gila, Misha. Jadi gilalah kau dan katakan padaku apa yang ada di balik selubung "kesehatan jiwa".
Tujuan hidup ini ialah membawa kita lebih dekat kepada segala rahasia itu,dan kegilaan itu adalah satu-satunya jalan.
 Jadilah gila, dan tetaplah menjadi seorang saudara yang gila bagi saudaramu yang gila
penggalan sepucuk surat dari Pujangga Libanon Khalil Gibran kepada sahabatnya, Mikhail Naimy.
Ulasan  :sadar terjaga namun wajar bersama ... ini adalah sadarnya "kegilaan" esoteris untuk mengatasi "wajarnya" kegilaan eksoteris kita selama ini.

kutipan lain : Kewajaran Membumi dalam kesadaran Saddhamma :
Link video ? 

Kewajaran Pembumian (deduktif  pengetahuan) dengan kecakapan spiritual ? SHIVA Vitalitas interaktif menari dengan kehidupan nyata
ini aja yang agak lucu , hehehe  ... agak guyon.
bukan black humour, bro .... ini tidak untuk mentertawakan diri orang lain (peremehan ide & pelecehan ego lainnya  = pelaziman kezaliman ?  ..... kebodohan / kewajaran yang tentu saja bersama effek kosmik & dampak karmiknya dengan realitas keabadian yang berpotensi untuk layak diterima keniscayaannya..);  
ini untuk mentertawakan kekonyolan diri kita sendiri dalam drama internal universal dalam vitalitas fenomena kehidupan eksistensial  

Kesadaran Nekhama  (induktif  penempuhan)  demi kearhatan spiritual? BUDDHA  Integritas autentik menuju peniscayaan kesejatian murni
Ini perlu serius lagi, bro/sis ....

https://www.youtube.com/watch?v=MiGKxvXhI8Q&list=PLZZa2J4-qv-bpW9lgcl0XfLNL7tfMzZZD&index=32&t=19s  
Kearifan Shiva Buddha ? 
intinya sama dengan kesadaran dalam kewajaran (cara pasti tetapi aksi luwes) integritas di kedalaman namun vitalitas di permukaan  
Wei Wu Wei = Just consciously action x being compulsive actor
Kutipan lain : 
Well … lega juga ... saya sudah jujur mengakui kami hanyalah pemerhati yang belum berlevel meditator tihetuka handal ... dihetuka padaparama istilah 'teknis'-nya ... mentok di wawasan & stagnan ke level tataran kelanjutannya, namun semoga sharing pengalaman dan refleksi pengetahuan ini cukup berguna.   
Tambahan bagi sesama Padaparama lainnya: 
Taoist mengungkapkan saran intuitif yang terdengar agak paradox: “berfikirlah dengan hatimu karena otakmu sesungguhnya hanya menara pengamat.”  Dari Esoteric Psychology Osho ( source link-nya sekarang ‘zonk’ ?) menyatakan ketika seorang bertanya kepada rahib Zen Buddhism darimana anda berfikir ? dia akan meletakkan tangannya di pusar perutnya… jawaban insight yang mungkin terdengar ‘gila’ atas 3 dantien sentra kesadaran manusia. Jangan marah namun tersenyumlah ini hanyalah candaan kosmik atas kekonyolan kita selama ini yang tidak berkembang dan kurang berimbang. 
  
INNER TALK : (tidak usah dibaca)
REHAT DULU .... SUDAH CAPEK .... BELUM RECHECK 
WAH KOK MAKIN BANYAK ... RENCANANYA SIH RINGKES SINGKAT SAJA
PADAHAL BELUM SEMUA .. BISA BERAT LEMOT NANTI. POSTING INI 
DIARSIP DULU SAJA DARIPADA ADA DATA YANG HILANG SEPERTI JUST FOR SEEKER DULU
WELL, MASIH RINGAN EDIT  & SAVE FILE POSTINGNYA ... PAKAI INI DULU SAJA. 
KALAU NGGAK KUAT MAIN KEROYOKAN ..... GOTONG ROYONG BAGI TUGAS LAGI  DI SELURUH BLOG KITA 

Well, kelamaan .... langsung saja 
JUST FOR SEEKER 3 : 
Triade Hegel : ???
Thesis : BE REALISTICS  (wawasan yang benar)
Antithesis : TO REALIZE  (tindakan yang tepat)
Synthesis  : THE REAL (capaian yang nyata)

Be Realistics to Realize the Real 
Be realistics to realize the Real. (Bersikaplah benar untuk senantiasa realistis dalam merealisasikan segala yang real nyata secara tepat dan sehat) Kita hanya berhak mendapatkan apa yang kita berikan .... entah itu kebaikan ataupun keburukan. Segala niatan, tindakan dan capaian tidak akan percuma walau dampak mungkin tidak selalu instan kemasakannya dan mungkin tidak juga identik kelayakannya. Namun demikian kebijaksanaan untuk senantasa mengupayakan keterarahan dan keberdayaan dalam menghadapi segala kemungkinan yang ada secara pasti bahkan mungkin bisa ada perlu selalu dilakukan dengan tanpa perlu merendahkan adanya karunia keberuntungan akan kepercayaan dan pengharapan untuk segala kemungkinan yang bisa saja ada terjadi.


Thesis : BE REALISTICS  (Wawasan yang tepat)
a
Disamping juga Thesis Data lama yang perlu direvisi sesuai dengan keselarasan dengan Antithesis wawasan esoteris gnosis wisdom Saddhamma secara benar, bajik & bijak sebagaimana paradigma Just For Seeker sebelumnya untuk Synthesis Kebijaksanaan Gnosis Wisdom Exodus yang lebih baru & maju berikutnya.
BAB I =  REFERENSI =
Prolog = Hipotesis Paradigma dhamma dipathera ;  asumsi pensikapan : terbuka & terjaga 
1) GNOSIS :  Keakuratan paradigma (W) : 
prolog : KeIlahian ? 
1. Hipotesis keBeradaan Tuhan :  Konsep Wujud :® GENESIS = fase  keberadaan (w) : Dhyana Dharma – Dharma Dhyana 
2. Hipotesis  KeTauhidan Tuhan : Konsep Kuasa : ® MANDALA = tataran keberadaan (k) : Tanazul Makrokosmos – Taraqqi Mikrokosmos 
3. Hipotesis  Kebijakan  Tuhan :  Konsep Kasih : ® SAMSARA = keberadaan diri (ks) : Spiritualitas Keabadian – Eksistensialitas Kehidupan 
Epilog : Keyakinan ? ketepatan > kebenaran ;Kaidah Hipotesis x Akidah Dogmatis;ilmul - ‘ainul - haqqul yaqin 
2) WISDOM = Kemantapan metanoia (K) : 
prolog : kearifan ?(kemajemukan pendapat; keberagaman pandangan ; keterbatasan kemampuan) 
1) Khilafiyah Theologi : kemustahilan membatasi Tuhan ? → kecerahan paradigma diantara Rimba Pendapat (keIlahian ; keberadaaan; ketentuan) 
2) Problema Theodice : kemustahilan membela Tuhan?® kebijakan metanoia diantara faham pandangan (fanatisme/mistisme ; atheisme/vitalisme ; agnostisme /heuretisme) 
3) Masalah Theosofi: kemustahilan mencintai Tuhan  ?®kebijakan apologia diantara ragam kenyataan (kegaiban Tuhan ; penderitaan/kezaliman ; ananiyah/nafsiyah) epilog : keimanan ?ketentuan awal > kepastian final → aktualisasi penempuhan & realisasi pembuktian 
3) EXODUS = kesadaran penempuhan (Ks):  
prolog: anjing dan serigala (pengetahuan ,pembicaraan ® aktualisasi penempuhan & realisasi pembuktian ) 
1) TOTALITAS = mencakup keseluruhan (W) → Hanya ada satu kebenaran yang sama: keseimbangan pandangan (ekstrem) & keberimbangan penempuhan (dualisme?)
2) PRAGMATISME = membawa kemanfaatan (Ks) → Transformasi pemberdayaan simultan (input realisasi keabadian 3 ; asset refleksi kehidupan 3) 
3) KONSISTENSI = bersifat mantap (K) → Berkelanjutan : ketuntasan transformatif & kelanjutan aktualisasi  
epilog : anjing &sufi (mengatasi : ketidak-mengertian; ketidak-perdulian ; ketidak-berdayaan) 
Epilog = Kemantapan Penempuhan : sholat & shobar  
II. REALISASI  = Penempuhan 
Prolog : kesadaran realisasi → evolusi spiritualitas (transformasi sufisme & yogisme) 
1) ADHIKARI :  kelayakan moralitas (kasih) 
prolog : kisah : orang baik  ® Aktualisasi autentik > Harmonisasi estetis > Manipulasi hipokrit ® Hakekat & Manfaat : 
1) Kebenaran Integritas (w) = kejujuran : pemuda & gembala.  ® kemurnian   (ikhsan kemahabahan & ikhlash peribadahan) 
2) Kecerahan Moralitas (ks) = pertaubatan : alim & arif  ® kebajikan  ( Pemberdayaan Individual + keperdulian universal ) 
3) Ketepatan Globalitas (k) = dilemma : Yudhistira  ® kebijakan  ( prioritas kemanfaatan + faktitas keterbatasan ) 
epilog : kisah :  karani ®Bina nafsa : takholi ,tahalli , tajalli  ® Metode & Kaidah :  
2) DISTANSI = kesiagaan  transformatif (kuasa) 
prolog : Psikosomasi Esoteris ® harmonisasi holistik, aktualisasi integral , integrasi reseptif 
1) UMMI →keaslian adhikari (ks) :  muhasabah  pertobatan ; mujahadah perbaikan ; muroqobah pendekatan 
2) SATI → kearifan nivritti (w) :  reseptivitas penyadaran ; aktualitas pengarahan ; integritas pemantapan  
3) YOGI →kekuatan distansi  (k) : keswadikaan eksternal ; keberdayaan internal ; keperkasaaan universal 
epilog : antenna karunia ® reseptivitas, sugestivitas,  
 3) MEDITASI  kerahnian Immanensi  (wujud)\  
 prolog : Hakekat Meditasi  (Jung Individuasi ® Immanensi/transendensi ? : illuminasi >revilasi - inspirasi) 
1) kemantapan  dasar (w) : literature meditasi  (pengertian  – referensi (wuwei/zazen;alpha beta)  – keragaman meditasi) 
2) kehandalan utama   (k) :  realisasi immanensi (pemantapan (kematian/kegaiban) – penembusan - pencapaian ) 
3) kemantapan lanjut (ks) :  kesadaran transenden (ghurur/jadzab – sakti/rahni – universalitas/eksistensialitas) 
epilog : Kembali membumi (kemantapan pencerahan →kedewasaan Robbaniyah) 
Epilog = Kewajaran Eksistensi → Aktualisasi totalitas : harmoni ; refleksi ; sinergi ; 
III. REVITALISASI = Pembumian 
Prolog : Sufi Pembumi →Menyadari tanggung jawab eksistensialitas & universalitas 
1) PERSPEKTIF  kecerahan pandangan 
prolog : ketepatan pandangan ® kearifan mensikapi : Amati – Alami – Atasi 
1) kecerahan Mahadharma (w) : Sanatana dharma – Bhinneka  Dharma (satu Agama Dharma ?) 
2) kepastian Transformasi (ks) :  pemberdayaan keabadian – pemberdayaan kehidupan (Dunia & Akherat) 
3) kebijakan Aktualiser  (k) : transformasi Individual – Transformasi universal (Reformasi + Globalisasi) 
epilog : kecerahan komitmen ® kebaikan menjalani 
2) INTEGRITAS =  kemantapan untuk keabadian (kasih) 
prolog : kesiapan melintasi keabadian ® berkah Input keabadian ( swadika – talenta – visekha ) 
1) Visekha kemuliaan : kesimpatikan adhikari Mahatma Robbani 
2) Talenta kecakapan :  keberdayaan distansi Swadika Talenta 
3) Swadika kerahnian  : keterpaduan meditasi Anubodha Pativedha 
epilog : Input keabadian ( swadika – talenta – visekha ) → ketuntasan & pelanjutan 
3) AKTUALITAS  kehandalan dalam kehidupan (kuasa) 
prolog : keahlian mengatasi kehidupan ® sukses Asset kehidupan ( persada – karisma – bahagia ) 
1) Aktualisasi  (k)  : Global (belajar – bekerja) ;social (  keluarga – masyarakat) ; Aktual (pribadi; properti) 
2) Harmonisasi (ks) : interaksi sesama (pravritti; andragogi) ;faktitas semesta (natural ; theosofi) ; Harmoni Pribadi 
3) Integrasi (w) manajemen keterbatasan  : Reset keseluruhan ; Ready keseluruhan ; Relax keseluruhan 
epilog : Asset kehidupan ( persada – karisma – bahagia ) → kesuksesan & pelanjutan 
Epilog : kholifatullooh ® Menghargai kehidupan manusiawi & duniawi  pembumian spiritualitas universal = pemberdayaan 
1) Dhamma Bhumi (w) = kesadaran eksistensial 
2) Dhamma Dutta (ks) = komitmen 
3) Dhamma Niyama  (k)  = faktitas kenyataan


a

 


Thesis : BE REALISTICS  (Wawasan yang tepat)
a
Disamping juga Thesis Data lama yang perlu direvisi sesuai dengan keselarasan dengan Antithesis wawasan esoteris gnosis wisdom Saddhamma secara benar, bajik & bijak sebagaimana paradigma Just For Seeker sebelumnya untuk Synthesis Kebijaksanaan Gnosis Wisdom Exodus yang lebih baru & maju berikutnya.
BAB I =  REFERENSI =
Prolog = Hipotesis Paradigma dhamma dipathera ;  asumsi pensikapan : terbuka & terjaga 
1) GNOSIS :  Keakuratan paradigma (W) : 
prolog : KeIlahian ? 
1. Hipotesis keBeradaan Tuhan :  Konsep Wujud :® GENESIS = fase  keberadaan (w) : Dhyana Dharma – Dharma Dhyana 
2. Hipotesis  KeTauhidan Tuhan : Konsep Kuasa : ® MANDALA = tataran keberadaan (k) : Tanazul Makrokosmos – Taraqqi Mikrokosmos 
3. Hipotesis  Kebijakan  Tuhan :  Konsep Kasih : ® SAMSARA = keberadaan diri (ks) : Spiritualitas Keabadian – Eksistensialitas Kehidupan 
Epilog : Keyakinan ? ketepatan > kebenaran ;Kaidah Hipotesis x Akidah Dogmatis;ilmul - ‘ainul - haqqul yaqin 
2) WISDOM = Kemantapan metanoia (K) : 
prolog : kearifan ?(kemajemukan pendapat; keberagaman pandangan ; keterbatasan kemampuan) 
1) Khilafiyah Theologi : kemustahilan membatasi Tuhan ? → kecerahan paradigma diantara Rimba Pendapat (keIlahian ; keberadaaan; ketentuan) 
2) Problema Theodice : kemustahilan membela Tuhan?® kebijakan metanoia diantara faham pandangan (fanatisme/mistisme ; atheisme/vitalisme ; agnostisme /heuretisme) 
3) Masalah Theosofi: kemustahilan mencintai Tuhan  ?®kebijakan apologia diantara ragam kenyataan (kegaiban Tuhan ; penderitaan/kezaliman ; ananiyah/nafsiyah) epilog : keimanan ?ketentuan awal > kepastian final → aktualisasi penempuhan & realisasi pembuktian 
3) EXODUS = kesadaran penempuhan (Ks):  
prolog: anjing dan serigala (pengetahuan ,pembicaraan ® aktualisasi penempuhan & realisasi pembuktian ) 
1) TOTALITAS = mencakup keseluruhan (W) → Hanya ada satu kebenaran yang sama: keseimbangan pandangan (ekstrem) & keberimbangan penempuhan (dualisme?)
2) PRAGMATISME = membawa kemanfaatan (Ks) → Transformasi pemberdayaan simultan (input realisasi keabadian 3 ; asset refleksi kehidupan 3) 
3) KONSISTENSI = bersifat mantap (K) → Berkelanjutan : ketuntasan transformatif & kelanjutan aktualisasi  
epilog : anjing &sufi (mengatasi : ketidak-mengertian; ketidak-perdulian ; ketidak-berdayaan) 
Epilog = Kemantapan Penempuhan : sholat & shobar  
II. REALISASI  = Penempuhan 
Prolog : kesadaran realisasi → evolusi spiritualitas (transformasi sufisme & yogisme) 
1) ADHIKARI :  kelayakan moralitas (kasih) 
prolog : kisah : orang baik  ® Aktualisasi autentik > Harmonisasi estetis > Manipulasi hipokrit ® Hakekat & Manfaat : 
1) Kebenaran Integritas (w) = kejujuran : pemuda & gembala.  ® kemurnian   (ikhsan kemahabahan & ikhlash peribadahan) 
2) Kecerahan Moralitas (ks) = pertaubatan : alim & arif  ® kebajikan  ( Pemberdayaan Individual + keperdulian universal ) 
3) Ketepatan Globalitas (k) = dilemma : Yudhistira  ® kebijakan  ( prioritas kemanfaatan + faktitas keterbatasan ) 
epilog : kisah :  karani ®Bina nafsa : takholi ,tahalli , tajalli  ® Metode & Kaidah :  
2) DISTANSI = kesiagaan  transformatif (kuasa) 
prolog : Psikosomasi Esoteris ® harmonisasi holistik, aktualisasi integral , integrasi reseptif 
1) UMMI →keaslian adhikari (ks) :  muhasabah  pertobatan ; mujahadah perbaikan ; muroqobah pendekatan 
2) SATI → kearifan nivritti (w) :  reseptivitas penyadaran ; aktualitas pengarahan ; integritas pemantapan  
3) YOGI →kekuatan distansi  (k) : keswadikaan eksternal ; keberdayaan internal ; keperkasaaan universal 
epilog : antenna karunia ® reseptivitas, sugestivitas,  
 3) MEDITASI  kerahnian Immanensi  (wujud)\  
 prolog : Hakekat Meditasi  (Jung Individuasi ® Immanensi/transendensi ? : illuminasi >revilasi - inspirasi) 
1) kemantapan  dasar (w) : literature meditasi  (pengertian  – referensi (wuwei/zazen;alpha beta)  – keragaman meditasi) 
2) kehandalan utama   (k) :  realisasi immanensi (pemantapan (kematian/kegaiban) – penembusan - pencapaian ) 
3) kemantapan lanjut (ks) :  kesadaran transenden (ghurur/jadzab – sakti/rahni – universalitas/eksistensialitas) 
epilog : Kembali membumi (kemantapan pencerahan →kedewasaan Robbaniyah) 
Epilog = Kewajaran Eksistensi → Aktualisasi totalitas : harmoni ; refleksi ; sinergi ; 
III. REVITALISASI = Pembumian 
Prolog : Sufi Pembumi →Menyadari tanggung jawab eksistensialitas & universalitas 
1) PERSPEKTIF  kecerahan pandangan 
prolog : ketepatan pandangan ® kearifan mensikapi : Amati – Alami – Atasi 
1) kecerahan Mahadharma (w) : Sanatana dharma – Bhinneka  Dharma (satu Agama Dharma ?) 
2) kepastian Transformasi (ks) :  pemberdayaan keabadian – pemberdayaan kehidupan (Dunia & Akherat) 
3) kebijakan Aktualiser  (k) : transformasi Individual – Transformasi universal (Reformasi + Globalisasi) 
epilog : kecerahan komitmen ® kebaikan menjalani 
2) INTEGRITAS =  kemantapan untuk keabadian (kasih) 
prolog : kesiapan melintasi keabadian ® berkah Input keabadian ( swadika – talenta – visekha ) 
1) Visekha kemuliaan : kesimpatikan adhikari Mahatma Robbani 
2) Talenta kecakapan :  keberdayaan distansi Swadika Talenta 
3) Swadika kerahnian  : keterpaduan meditasi Anubodha Pativedha 
epilog : Input keabadian ( swadika – talenta – visekha ) → ketuntasan & pelanjutan 
3) AKTUALITAS  kehandalan dalam kehidupan (kuasa) 
prolog : keahlian mengatasi kehidupan ® sukses Asset kehidupan ( persada – karisma – bahagia ) 
1) Aktualisasi  (k)  : Global (belajar – bekerja) ;social (  keluarga – masyarakat) ; Aktual (pribadi; properti) 
2) Harmonisasi (ks) : interaksi sesama (pravritti; andragogi) ;faktitas semesta (natural ; theosofi) ; Harmoni Pribadi 
3) Integrasi (w) manajemen keterbatasan  : Reset keseluruhan ; Ready keseluruhan ; Relax keseluruhan 
epilog : Asset kehidupan ( persada – karisma – bahagia ) → kesuksesan & pelanjutan 
Epilog : kholifatullooh ® Menghargai kehidupan manusiawi & duniawi  pembumian spiritualitas universal = pemberdayaan 
1) Dhamma Bhumi (w) = kesadaran eksistensial 
2) Dhamma Dutta (ks) = komitmen 
3) Dhamma Niyama  (k)  = faktitas kenyataan


a
a

TENTANG PANDANGAN :

 Dari : Gnosis for Seeker (https://justshare2021.blogspot.com/2021/01/just-share_21.html)

Langkah awal haruslah dimulai. Untuk dapat melangkah dengan benar kita memerlukan pandangan yang relatif benar juga. Osho menyatakan walaupun tetap perlu dilakukan namun sesungguhnya langkah awal cenderung sebagai sesuatu kekeliruan. Dikarenakan kebenaran sesungguhnya melingkup secara nyata pada kita . Dia tidak dimana-mana. Pengetahuan yang terserap dalam bentuk informasi dan bukan realisasi memang kurang memadai dan terkadang justru malah menghambat keberhasilan suatu penempuhan dikarenakan senantiasa ada kecenderungan dari kita untuk merasa cukup sekedar mengerti saja untuk kemudian merasa tidak perlu menjalaninya, ataupun sering juga terjadi interferensi kesalah-fahaman dalam menafsirkan dikarenakan perbedaan dan kesenjangan dengan apersepsi pengetahuan sebelumnya, ataupun keterlalu-melekatan pada pandangan tersebut justru akan menghambat realisasi pengembangan kebijaksanaan dan peningkatan kesadaran yang mungkin dapat dicapai ; atau bisa juga terjadi adanya penyesatan dan keterpedayaan yang tidak selalu disengaja sebagai manipulasi kelicikan pemapar demi kepentingan pribadinya sendiri namun juga bisa suatu kekeliruan informasi karena keterbatasan pengetahuan walaupun dia memiliki maksud tulus untuk memberdayakan . 

Osho mungkin benar namun demikian kami juga berpandangan. GIGO (garbage in,Garbage Out). Jika yang masuk sampah, keluarnyapun cenderung sampah). Tetap diperlukan kejelasan dan ketepatan pengertian bagi kita semua untuk dapat menghayati kebenaran tersebut. Pandangan yang benar adalah separuh langkah tindakan yang benar.. Namun demikian memang sangat perlu kewaspadaan bagi kita semua dalam menyimak dan mensikapi referensi pandangan awal ini. Sikap terbuka dan terjaga haruslah tetap menjadi senjata anda dalam mengkaji setiap hipotesis bahasan pada buku ini (BLOG 17012021 OK/PLUS/TQ/GNOSIS PUBLIK.pdf p.6)
dari : http://dhammaseeker.blogspot.com/2020/04/dialog.html
Be realistics to realize the Real. (Bersikaplah benar untuk senantiasa realistis dalam merealisasikan segala yang real nyata secara tepat dan sehat) Kita hanya berhak mendapatkan apa yang kita berikan .... entah itu kebaikan ataupun keburukan. Segala niatan, tindakan dan capaian tidak akan percuma walau dampak mungkin tidak selalu instan kemasakannya dan mungkin tidak juga identik kelayakannya. Namun demikian kebijaksanaan untuk senantasa mengupayakan keterarahan dan keberdayaan dalam menghadapi segala kemungkinan yang ada secara pa 

 DATA LAMA
LAMPIRAN
KUTIPAN SKETSA BUKU :
MAHADHARMA
Asumsi Analisis dan Solusi Hipotesis Paradigma Spitualitas Universal
Public Offset
JUDUL : DAFTAR ISI =
PRAKATA =
Pendahuluan :
Konsideran permasalahan : → ketidak-pastian eksistensial ;
Solusi Pemecahan : ® universalitas kebenaran
Pengajuan & Pengakuan : Pengajuan → alternatif paradigma Pengakuan → criteria ketepatan
Pengharapan : Kemanfaatan → Pencari Kebenaran,Penempuh Kehidupan,Pemerhati keabadian,Pengamat Kenyataan
Pensikapan → Sikap terbuka dan sekaligus terjaga ini seharusnya senantiasa anda jalani dalam segala hal ;
Pengertian ® kebenaran itu karena hidayah Tuhan ; kesalahan yang berasal dari diri pribadi penulis sendiri .
BAB I = REFERENSI =
Pengertian Prolog =
Hipotesis Paradigma dhamma dipathera ; asumsi pensikapan : terbuka & terjaga
1) GNOSIS : Keakuratan paradigma (W) :
prolog : KeIlahian ?
1. Hipotesis keBeradaan Tuhan : Konsep Wujud :® GENESIS = fase keberadaan (w) : Dhyana Dharma – Dharma Dhyana
2. Hipotesis KeTauhidan Tuhan : Konsep Kuasa : ® MANDALA = tataran keberadaan (k) : Tanazul Makrokosmos – Taraqqi Mikrokosmos
3. Hipotesis Kebijakan Tuhan : Konsep Kasih : ® SAMSARA = keberadaan diri (ks) : Spiritualitas Keabadian – Eksistensialitas Kehidupan
Epilog : Keyakinan ? ketepatan > kebenaran ;Kaidah Hipotesis x Akidah Dogmatis;ilmul - ‘ainul - haqqul yaqin
2) WISDOM = Kemantapan metanoia (K) :
prolog : kearifan ?(kemajemukan pendapat; keberagaman pandangan ; keterbatasan kemampuan)
1) Khilafiyah Theologi : kemustahilan membatasi Tuhan ? → kecerahan paradigma diantara Rimba Pendapat (keIlahian ; keberadaaan; ketentuan)
2) Problema Theodice : kemustahilan membela Tuhan?® kebijakan metanoia diantara faham pandangan (fanatisme/mistisme ; atheisme/vitalisme ; agnostisme /heuretisme)
3) Masalah Theosofi: kemustahilan mencintai Tuhan ?®kebijakan apologia diantara ragam kenyataan (kegaiban Tuhan ; penderitaan/kezaliman ; ananiyah/nafsiyah) epilog : keimanan ?ketentuan awal > kepastian final → aktualisasi penempuhan & realisasi pembuktian
3) EXODUS = kesadaran penempuhan (Ks):
prolog: anjing dan serigala (pengetahuan ,pembicaraan ® aktualisasi penempuhan & realisasi pembuktian )
1) TOTALITAS = mencakup keseluruhan (W) → Hanya ada satu kebenaran yang sama : keseimbangan pandangan (ekstrem) & keberimbangan penempuhan (dualisme?
)2) PRAGMATISME = membawa kemanfaatan (Ks) → Transformasi pemberdayaan simultan (input realisasi keabadian 3 ; asset refleksi kehidupan 3)
3) KONSISTENSI = bersifat mantap (K) → Berkelanjutan : ketuntasan transformatif & kelanjutan aktualisasi
epilog : anjing &sufi (mengatasi : ketidak-mengertian; ketidak-perdulian ; ketidak-berdayaan)
Epilog = Kemantapan Penempuhan : sholat & shobar
II. REALISASI = Penempuhan
Prolog : kesadaran realisasi → evolusi spiritualitas (transformasi sufisme & yogisme)
1) ADHIKARI : kelayakan moralitas (kasih)
prolog : kisah : orang baik ® Aktualisasi autentik > Harmonisasi estetis > Manipulasi hipokrit ® Hakekat & Manfaat :
1) Kebenaran Integritas (w) = kejujuran : pemuda & gembala. ® kemurnian (ikhsan kemahabahan & ikhlash peribadahan)
2) Kecerahan Moralitas (ks) = pertaubatan : alim & arif ® kebajikan ( Pemberdayaan Individual + keperdulian universal )
3) Ketepatan Globalitas (k) = dilemma : Yudhistira ® kebijakan ( prioritas kemanfaatan + faktitas keterbatasan )
epilog : kisah : karani ®Bina nafsa : takholi ,tahalli , tajalli ® Metode & Kaidah :
2) DISTANSI = kesiagaan transformatif (kuasa)
prolog : Psikosomasi Esoteris ® harmonisasi holistik, aktualisasi integral , integrasi reseptif
1) UMMI →keaslian adhikari (ks) : muhasabah pertobatan ; mujahadah perbaikan ; muroqobah pendekatan
2) SATI → kearifan nivritti (w) : reseptivitas penyadaran ; aktualitas pengarahan ; integritas pemantapan
3) YOGI →kekuatan distansi (k) : keswadikaan eksternal ; keberdayaan internal ; keperkasaaan universal
epilog : antenna karunia ® reseptivitas, sugestivitas,
3) MEDITASI = kerahnian Immanensi (wujud)\
prolog : Hakekat Meditasi (Jung Individuasi ® Immanensi/transendensi ? : illuminasi >revilasi - inspirasi)
1) kemantapan dasar (w) : literature meditasi (pengertian – referensi (wuwei/zazen;alpha beta) – keragaman meditasi)
2) kehandalan utama (k) : realisasi immanensi (pemantapan (kematian/kegaiban) – penembusan - pencapaian )
3) kemantapan lanjut (ks) : kesadaran transenden (ghurur/jadzab – sakti/rahni – universalitas/eksistensialitas)
epilog : Kembali membumi (kemantapan pencerahan →kedewasaan Robbaniyah)
Epilog = Kewajaran Eksistensi → Aktualisasi totalitas : harmoni ; refleksi ; sinergi ;
III. REVITALISASI = Pembumian
Prolog : Sufi Pembumi →Menyadari tanggung jawab eksistensialitas & universalitas
1) PERSPEKTIF = kecerahan pandangan
prolog : ketepatan pandangan ® kearifan mensikapi : Amati – Alami – Atasi
1) kecerahan Mahadharma (w) : Sanatana dharma – Bhinneka Dharma (satu Agama Dharma ?)
2) kepastian Transformasi (ks) : pemberdayaan keabadian – pemberdayaan kehidupan (Dunia & Akherat)
3) kebijakan Aktualiser (k) : transformasi Individual – Transformasi universal (Reformasi + Globalisasi)
epilog : kecerahan komitmen ® kebaikan menjalani
2) INTEGRITAS = kemantapan untuk keabadian (kasih)
prolog : kesiapan melintasi keabadian ® berkah Input keabadian ( swadika – talenta – visekha )
1) Visekha kemuliaan : kesimpatikan adhikari Mahatma Robbani
2) Talenta kecakapan : keberdayaan distansi Swadika Talenta
3) Swadika kerahnian : keterpaduan meditasi Anubodha Pativedha
epilog : Input keabadian ( swadika – talenta – visekha ) → ketuntasan & pelanjutan
3) AKTUALITAS = kehandalan dalam kehidupan (kuasa)
prolog : keahlian mengatasi kehidupan ® sukses Asset kehidupan ( persada – karisma – bahagia )
1) Aktualisasi (k) : Global (belajar – bekerja) ;social ( keluarga – masyarakat) ; Aktual (pribadi; properti)
2) Harmonisasi (ks) : interaksi sesama (pravritti; andragogi) ;faktitas semesta (natural ; theosofi) ; Harmoni Pribadi
3) Integrasi (w) manajemen keterbatasan : Reset keseluruhan ; Ready keseluruhan ; Relax keseluruhan
epilog : Asset kehidupan ( persada – karisma – bahagia ) → kesuksesan & pelanjutan
Epilog : kholifatullooh ® Menghargai kehidupan manusiawi & duniawi pembumian spiritualitas universal = pemberdayaan
1) Dhamma Bhumi (w) = kesadaran eksistensial
2) Dhamma Dutta (ks) = komitmen
3) Dhamma Niyama (k) = faktitas kenyataan
(PENUTUP : Ulasan : QUO VADIS ?  Pandangan : kesimpulan: Robbani ( x bahagia ; mandala ; ahamkara) ;
Tanggapan : opini terhadap Asumsi hipotesis dan solusi dianektis
Syukur & Terima kasih → Syukur : Alhamdulillaah ~ Hanya karena Dia ®
Terima kasih : bantuan & panduan + staff penerbitan & percetakan & pemasaran
Pengharapan : ® Kemanfaatan : referensi panduan , literature wawasan , bacaan hiburan, wacana perenungan ® Ma’af : Saran perbaikan dan masukan pelengkapan PUSTAKA Judul =Teguh Kiyatno, dkkMAHADHARMA Asumsi Analisis dan Solusi Hipotesis  Paradigma  Spitualitas Universal  Public Offset 2006 Daftar Isi =
DAFTAR ISI =
ü JUDUL :
ü DAFTAR ISI =
ü PRAKATA = 

Pendahuluan :
· Konsideran permasalahan : → ketidak-pastian eksistensial 

· Solusi Pemecahan : ® universalitas kebenaran
Pengajuan & Pengakuan :
· Pengajuan → alternatif paradigma
· Pengakuan → criteria ketepatan
Pengharapan :
· Kemanfaatan → Pencari Kebenaran,Penempuh Kehidupan,Pemerhati keabadian,Pengamat Kenyataan
· Pensikapan → Sikap terbuka dan sekaligus terjaga ini seharusnya senantiasa anda jalani dalam segala hal ;
· Pengertian ® kebenaran itu karena hidayah Tuhan ; kesalahan yang berasal dari diri pribadi penulis sendiri .
BAB I = REFERENSI = Pengertian
Prolog = Hipotesis Paradigma dhamma dipathera ; asumsi pensikapan : terbuka & terjaga
1) GNOSIS : Keakuratan paradigma (W) :
prolog : KeIlahian ?
· Cara penerimaan 7 (3 + 2 + 2 ) ;
· perspektif insaniah 4 (3 + 1);
· konsideran asumsi 3 ;
· formulasi konsep 3
1. Hipotesis keBeradaan Tuhan :
Konsep Wujud : ® GENESIS = fase keberadaan (w) : Dhyana Dharma – Dharma Dhyana

2. Hipotesis KeTauhidan Tuhan :

Konsep Kuasa :

® MANDALA = tataran keberadaan (k) : Tanazul Makrokosmos – Taraqqi Mikrokosmos

3. Hipotesis Kebijakan Tuhan :

Konsep Kasih :

® SAMSARA = keberadaan diri (ks) : Spiritualitas Keabadian – Eksistensialitas Kehidupan

Epilog : Keyakinan ?

ketepatan > kebenaran ;

Kaidah Hipotesis x Akidah Dogmatis;

ilmul - ‘ainul - haqqul yaqin

2) WISDOM = Kemantapan metanoia (K) :

prolog : kearifan ?(kemajemukan pendapat; keberagaman pandangan ; keterbatasan kemampuan)

1) Khilafiyah Theologi : kemustahilan membatasi Tuhan ?

→ kecerahan paradigma diantara Rimba Pendapat

(keIlahian ; keberadaaan; ketentuan)

2) Problema Theodice : kemustahilan membela Tuhan?

® kebijakan metanoia diantara faham pandangan

(fanatisme/mistisme ; atheisme/vitalisme ; agnostisme /heuretisme)

3) Masalah Theosofi: kemustahilan mencintai Tuhan ?

®kebijakan apologia diantara ragam kenyataan

(kegaiban Tuhan ; penderitaan/kezaliman ; ananiyah/nafsiyah)

epilog : keimanan ?

ketentuan awal > kepastian final

→ aktualisasi penempuhan & realisasi pembuktian
3) EXODUS = kesadaran penempuhan (Ks):
prolog: anjing dan serigala (pengetahuan ,pembicaraan ® aktualisasi penempuhan & realisasi pembuktian )

1) TOTALITAS = mencakup keseluruhan (W)

→ Hanya ada satu kebenaran yang sama : keseimbangan pandangan (ekstrem) & keberimbangan penempuhan (dualisme?)

2) PRAGMATISME = membawa kemanfaatan (Ks)

→ Transformasi pemberdayaan simultan (input realisasi keabadian 3 ; asset refleksi kehidupan 3)
3) KONSISTENSI = bersifat mantap (K)
→ Berkelanjutan : ketuntasan transformatif & kelanjutan aktualisasi

epilog : anjing &sufi (mengatasi : ketidak-mengertian; ketidak-perdulian ; ketidak-berdayaan)

Epilog = Kemantapan Penempuhan : sholat & shobar
ü II. REALISASI = Penempuhan

Prolog : kesadaran realisasi → evolusi spiritualitas (transformasi sufisme & yogisme)

1) ADHIKARI : kelayakan moralitas (kasih)

prolog : kisah : orang baik

® Aktualisasi autentik > Harmonisasi estetis > Manipulasi hipokrit

® Hakekat & Manfaat :

1) Kebenaran Integritas (w) = kejujuran : pemuda & gembala.

® kemurnian (ikhsan kemahabahan & ikhlash peribadahan)

2) Kecerahan Moralitas (ks) = pertaubatan : alim & arif

® kebajikan ( Pemberdayaan Individual + keperdulian universal )

3) Ketepatan Globalitas (k) = dilemma : Yudhistira

® kebijakan ( prioritas kemanfaatan + faktitas keterbatasan )

epilog : kisah : karani ®Bina nafsa : takholi ,tahalli , tajalli ® Metode & Kaidah :

2) DISTANSI = kesiagaan transformatif (kuasa)

prolog : Psikosomasi Esoteris ® harmonisasi holistik, aktualisasi integral , integrasi reseptif

1) UMMI →keaslian adhikari (ks) :

muhasabah pertobatan ; mujahadah perbaikan ; muroqobah pendekatan

2) SATI → kearifan nivritti (w) :

reseptivitas penyadaran ; aktualitas pengarahan ; integritas pemantapan

3) YOGI →kekuatan distansi (k) :

keswadikaan eksternal ; keberdayaan internal ; keperkasaaan universal

3) epilog : antenna karunia ® reseptivitas, sugestivitas,
3) MEDITASI = kerahnian Immanensi (wujud)

prolog : Hakekat Meditasi (Jung Individuasi ® Immanensi/transendensi ? : illuminasi >revilasi - inspirasi)

1) kemantapan dasar (w) : literature meditasi

(pengertian – referensi (wuwei/zazen;alpha beta) – keragaman meditasi)

2) kehandalan utama (k) :

realisasi immanensi (pemantapan (kematian/kegaiban) – penembusan - pencapaian )

3) kemantapan lanjut (ks) :

kesadaran transenden (ghurur/jadzab – sakti/rahni – universalitas/eksistensialitas)

epilog : Kembali membumi (kemantapan pencerahan →kedewasaan Robbaniyah)

Epilog = Kewajaran Eksistensi → Aktualisasi totalitas : harmoni ; refleksi ; sinergi ;

ü III. REVITALISASI = Pembumian

Prolog : Sufi Pembumi →Menyadari tanggung jawab eksistensialitas & universalitas
1) PERSPEKTIF = kecerahan pandangan

prolog : ketepatan pandangan

® kearifan mensikapi : Amati – Alami – Atasi

1) kecerahan Mahadharma (w) :

Sanatana dharma – Bhinneka Dharma

(satu Agama Dharma ?)

2) kepastian Transformasi (ks) :

pemberdayaan keabadian – pemberdayaan kehidupan

(Dunia & Akherat)

3) kebijakan Aktualiser (k) :

transformasi Individual – Transformasi universal

(Reformasi + Globalisasi)

epilog : kecerahan komitmen ® kebaikan menjalani

2) INTEGRITAS = kemantapan untuk keabadian (kasih)

prolog : kesiapan melintasi keabadian

® berkah Input keabadian ( swadika – talenta – visekha )

1) Visekha kemuliaan : kesimpatikan adhikari Mahatma Robbani

2) Talenta kecakapan : keberdayaan distansi Swadika Talenta

3) Swadika kerahnian : keterpaduan meditasi Anubodha Pativedha

epilog : Input keabadian ( swadika – talenta – visekha )

→ ketuntasan & pelanjutan

3) AKTUALITAS = kehandalan dalam kehidupan (kuasa)

prolog : keahlian mengatasi kehidupan

® sukses Asset kehidupan ( persada – karisma – bahagia )

1) Aktualisasi (k) :

Global (belajar – bekerja) ;

social ( keluarga – masyarakat) ;

Aktual (pribadi; properti)

2) Harmonisasi (ks) :

interaksi sesama (pravritti; andragogi) ;

faktitas semesta (natural ; theosofi) ;

Harmoni Pribadi

3) Integrasi (w) manajemen keterbatasan :

Reset keseluruhan ;

Ready keseluruhan ;

Relax keseluruhan

epilog : Asset kehidupan ( persada – karisma – bahagia )

→ kesuksesan & pelanjutan

Epilog : kholifatullooh

® Menghargai kehidupan manusiawi & duniawi
ü PENUTUP :
Ulasan : QUO VADIS ?
Pandangan : kesimpulan: Robbani ( x bahagia ; mandala ; ahamkara) ;
Tanggapan : opini terhadap Asumsi hipotesis dan solusi dianektis
Syukur & Terima kasih
→ Syukur : Alhamdulillaah ~ Hanya karena Dia
® Terima kasih : bantuan & panduan + staff penerbitan & percetakan & pemasaran

Pengharapan :

® Kemanfaatan : referensi panduan , literature wawasan , bacaan hiburan, wacana perenungan

® Ma’af : Saran perbaikan dan masukan pelengkapan

ü PUSTAKA :

Dasar =Khusus =

ü BIODATA :

PRAKATA =

Pendahuluan :

· Asumsi permasalahan : → ketidak-pastian eksistensial

® Hidup untuk mati ? : kehanyutan hidup menuju kematian Ich

pada saat manusia manusia menyadari keakuan dirinya dia mulai menjadi tidak pasti ( )

Di sini dan pada saat ini kita hidup bagaikan musafir yang terdampar dan harus menghadapi segala kompleksitas eksistensial kehidupan. Rutinitas dan vitalitas kehidupan menghanyutkan totalitas diri kita dalam ketidak mengertian dan ketidak perdulian tentang hakekat dan tujuan hidup kita yang hakiki. Kita begitu terserap ke dalam romantika kehidupan eksistensial ini hingga tiba saat kematian menyadarkan kita dari sandiwara permainan kehidupan ini. Hidup untuk mati – begitu sederhanakah arti kehadiran kita di dunia ini ?

Hidup yang tidak dimengerti adalah hidup yang tidak layak dijalani (socrates)

® Atta Dipathera : kecenderungan subyektif ego

Situasi dan kondisi dalam fenomena kehidupan ini sering menghanyutkan kita untuk mengindentifikasikan hidup tidak dalam proporsi realitas yang utuh namun hanya berdasarkan penilaian emosionalitas batin ego kita terhadapnya. Sebagaimana fokus yang senantiasa mengarah pada pusat lensa demikianlah batin kita secara otomatis menjadi terkondisi untuh reaktif dalam memandang kehidupan ini. Kita akan selalu menandaskan citra hidup hanya dalam batas reaksi dan penilaian tertentu. Like or dislike – suka atau tidak suka - demikianlah sifat kecenderungan alamiah dari batin ego kita ini. Apabila ego kita menerimanya secara negatif – dikarenakan kenyataan yang terjadi dan kita hadapi tidaklah sesuai dengan keinginan kita – maka timbullah kekesalan dan kita cenderung untuk menyatakan hidup ini adalah musibah yang penuh dengan duka-cita yang seharusnya tidak diterima.Dan sebaliknya jika kenyataan yang terjadi atau hasil yang tercapai sesuai dengan harapan kita maka timbullah kesenangan dan hidup tampak sebagai anugerah karena suka-cita yang mampu didapat tersebut. Kebodohan dan ketamakan membuat kita senantiasa mendambakan ‘kebahagiaan tanpa penderitaan’ yang absurd dalam kehidupan ini karena kehidupan seperti dua sisi mata uang logam yang senantiasa berubah. Jika menginginkan sisi yang satu kita juga harus siap dan bisa menerima sisi yang lain juga – karena memang demikianlah dualitas dan dinamika dari kehidupan.

® Loka Dipathera : Pengaturan obyektif superego

Dalam ketidak mengertian kita kemudian juga menerima beraneka pandangan moralitas (estetika sosial) dan sejumlah ajaran spiritualitas [adhyatma dharma] kemudian hadir mewarnai kehidupan batin kita. Dimana kemudian kita mulai mengarahkan dan menyesuaikan cara hidup yang benar dan tepat berdasarkan pandangan awam dan umum tersebut. Tetapi kemudian ternyata mekanisme kehidupan sering tidak sesederhana itu.

· Solusi Pemecahan : ® universalitas kebenaran

Dan kamu akan mengenal kebenaran dan kebenaran itu akan membebaskanmu

Apakah kebenaran itu ?

Kebenaran itu dari Tuhanmu dan jangan kau meragukannya

® Dhamma Dipathera : adakah kebenaran absolut ?

Dan kamu akan mengenal kebenaran dan kebenaran itu akan membebaskanmu

Seiring dengan pertumbuhan kesadaran akan kebebasan eksistensialitas diri yang semakin dewasa secara subyektif dan individual, dengan segala keterbatasan yang ada manusia menjalani eksistensialitas diri dalam mengisi makna bagi kehidupannya yang relatif singkat tersebut. Dengan hak kewenangan yang lebih besar namun juga dengan pertimbangan Haq kebenaran yang lebih luas ,manusia sering dihadapkan pada sekian banyak problematika kehidupan untuk diatasi dan terkadang dengan begitu banyak pilihan dilematis yang harus ditentukan dalam menjaga keseimbangan dan membawa keberimbangan eksistensialitas dirinya dalam kehidupan ini. Suatu keberadaan sulit yang sering menimbulkan konflik internal dalam dirinya sendiri. Pada saat itulah sejumlah manusia kembali mulai mempertanyakan apa makna yang tersirat dari kehidupan yang dijalaninya dan bagaimana cara melampauinya.. Adakah Realitas Kebenaran sejati tersembunyi dan tidak dimengerti yang berada dibalik segala fenomena keberadaan dan peristiwa kehidupan ini ? Suatu kebenaran Mutlak yang menjadi sumber dan tujuan bagi seluruh keberadaan dan sekaligus jalan dan arah bagi perjalanan kehidupan kita .

Hidup sejati :

Untuk menjalani kehidupan secara sehat dan tepat kita perlu memiliki dan meyakini pandangan yang benar - pandangan yang sesuai dengan realitas kebenaran yang sesungguhnya.. – yang mungkin saja ternyata tidak sesuai dengan keinginan ego kita atau boleh jadi ternyata berbeda dengan keyakinan ide yang kita anggap benar. Hidup dengan kebenaran pandangan yang realistis dan obyektif –walaupun bagaimana juga- adalah lebih sehat untuk diyakini dan lebih tepat untuk dijalani daripada sekedar mengikuti dorongan keinginan yang romantis dan subyektif yang walaupun mungkin menghanyutkan dan mengasyikkan ego kita namun akan mengakibatkan terhalang dan terhambatnya proses pendewasaan dan pencerahan diri kita.Oleh karena itu demi ekstase keswadikaan dan harmoni kebersamaan haruslah kita menjalankan seluruh aspek kehidupan ini dengan mendasarkan dan bersandarkan pada kebenaran realitas tersebut. Hidup secara benar menjadikan kita benar-benar hidup. Hidup dalam kesejatian - tanpa kepalsuan, tiada kesemuan dan sesuai dengan kenyataan serta serasi dengan kebenaran yang sesungguhnya..

Kebenaran hakiki :

Kebenaran Realitas - Sanatana Dharma, Alithea, Al Haqq, Sunatullaah , Shighotullaah ataupun apapun juga peristilahan yang anda gunakan bagi Kebenaran Mutlak yang merupakan induk dari seluruh kebenaran - sesungguhnya sudah demikian nyatanya tergelar di hadapan kita semua. Realitas kebenaran yang menjadi penegak bagi terjadinya fenomena kenyataan yang ada tersebut mungkin saja tampak jelas di permukaan namun bisa juga tersembunyi dibalik segala fenomena kenyataaan yang tampak. Kebenaran Tersurat dan Tersirat - yang menjadi sumber dan tujuan bagi seluruh keberadaan dan setiap peristiwa dalam kehidupan ;Kebenaran Realitas yang bersifat universal dan transenden ini begitu luas –– dimana kesempurnaannya begitu sulit dijangkau oleh keterbatasan pemahaman kita Sehingga walaupun sesungguhnya Dharma tersebut tercakup global - utuh dan menyeluruh – namun demikian karena ketidak mampuan dalam memahami dan mensikapi realita keseluruhan tersebut kita cenderung untuk memandangnya begitu spasial ,terpecah-pecah dan subyektif yang kemudian menyebabkan munculnya berbagai pandangan ekstrem pada setiap kutub dualitas dari dialektika kebenaran yang satu tersebut.Hal yang sama terjadi juga pada saat kita memandang masalah Spiritualitas. Walaupun sesungguhnya mereka memandang Kebenaran yang Satu dan Sama tersebut namun sering menampakkan perbedaan yang tampak begitu mendasar dari filosofi dan realisasinya di permukaan yang kemudian tidak jarang menimbulkan pertikaian . Setiap ajaran menganggap pandangannya saja sebagai yang paling benar sementara yang lainnya salah dan sesat dengan tanpa memberikan kesempatan kepada fihak lain untuk mengutarakan pandangannya yang mungkin saja lebih benar atau setidak-tidaknya juga benar jika Kebenaran tersebut dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Demikianlah setiap mozaik ajaran cenderung untuk menampakkan ekslusivitas yang ekstrem dan bersikap fanatis terhadap pandangan ajarannya sendiri .Sehingga dari satu MahaDharma Spiritualitas Kehidupan yang sama tersebut lahirlah banyak sudut pandang filosofis , sekian banyak faham dan metode penempuhan mistisme ,sekian banyak agama dengan sekian banyak pula sekte aliran di dalamnya. Seringkali terjadi pertikaian di antara faham tersebut. Sungguh mengherankan namun demikianlah kenyataan terjadi.

Orang buta :



Apakah kebenaran itu ?

fabel gajah : Sebuah kisah klasik tentang : gajah dan enam orang buta

Alkisah, ada 6 (enam) orang buta saling bertemu. Seorang di antara mereka memberitahu pada teman-temannya bahwa di kebun binatang ada seekor hewan baru yang disebut gajah.Mereka semua sama sekali belum mengetahui hewan tersebut. Akhirnya mereka sepakat ke kebun binatang itu untuk mengetahui bagaimanakah sesungguhnya gajah tersebut.

Singkat cerita, ke-enam orang buta tersebut telah tiba di kebun binatang tempat gajah itu berada. .Mereka kemudian mendekati gajah tersebut dan berusaha ‘melihat’nya dengan menyentuhkan jari tangan mereka pada gajah tersebut dan merasakannya.

Seorang buta yang pertama memegang bagian … nya dan diapun menyimpulkan

Seorang buta yang yang kedua memegang bagian … nya dan diapun menyimpulkan

Seorang buta yang yang ketiga memegang bagian … nya dan diapun menyimpulkan

Seorang butayang yang keempat memegang bagian … nya dan diapun menyimpulkan

Seorang butayang yang kelima memegang bagian … nya dan diapun menyimpulkan

Seorang butayang yang keenam memegang bagian … nya dan diapun menyimpulkan

Kemudian ke enam buta tersebutpun berkumpul

Demikianlah gambaran kita dalam memandang kebenaran dari kehidupan kita selama ini. Kita sebenarnya bagaikan orang buta yang hanya meraba-raba mencari kepastian dalam kegelapan dan merasa begitu yakin dengan anggapan tertentu untuk kemudian memastikan bahwa inilah kebenaran yang sesungguhnya. Kita mudah tergoda untuk segera meyakini kepada anggapan yang ingin kita percayai .Sehingga terkadang tidak semua yang kita yakini itu merupakan suatu kebenaran yang sesungguhnya atau walaupun jika ternyata itu merupakan suatu kebenaran juga, tidak seluruh kebenaran yang kita yakini tersebut merupakan kebenaran yang seutuhnya. Kesalahan bukan pada Kebenaran tersebut tetapi dari keterbatasan dan ketidak-sempurnaan kita

Dalam kehidupan ini kita akan banyak menjumpai aneka macam pandangan hidup yang dipergunakan orang sebagai pedoman dalam melandaskan dan membenarkan tindakannya walaupun terkadang sering diantara mereka bertentangan satu sama lain. mereka semua menyatakan acuan dari tindakan yang mereka lakukan tersebut adalah “kebenaran” yang harus diterima bukan saja bagi diri mereka sendiri namun juga untuk orang lain . Istilah Kebenaran sering dipergunakan bagi orang bukan saja untuk membenarkan setiap prilaku dalam tindakannya namun lebih jauh lagi untuk mengidentifikasikan bagi diri pribadi sebagai pemilik,pewaris dan penguasa dari kebenaran tersebut walau apapun juga tindakan yang dilakukannya. Setiap sistem cenderung bersikap ekstrem dalam memberikan batasan relatif dalam menentukan kriteria bagi ‘kebenaran absolut ‘ tersebut untuk bisa dipergunakannya sebagai identitas penentu bagi autoritas kewenangan yang memperbolehkan mereka menganggap sebagai pemilik dan sekaligus penguasa bagi kebenaran tersebut serta membenarkan diri mereka sendiri untuk menindak sistem yang berbeda dengan mereka ketimbang sebagai realitas ketentuan bagi tindakan yang seharusnya ditegakkan bagi diri mereka sendiri dengan juga tetap menjaga harmonisasi kebersamaan dengan sistem lainnya.

® Kebenaran Ilahiyah : cara penerimaaan ?

Kebenaran itu dari Tuhanmu dan jangan kau meragukannya

Tuhan adalah landasan mutlak keimanan spiritualitas. Sebagai Dzat Yang keberadaan, Ketunggalan, Kemutlakan dan Kesempurnaan-Nya harus diyakini kebenarannya. Hanya karena Dia kita ada dalam kehidupan ini dan Hanya dalam DharmaNya keselamatan, kebebasan , kebahagiaan dan keabadian kita berada. Tuhan yang Maha Esa yang dipuja dalam setiap risalah spiritualitas , yang dipuji

Keyakinan ini mungkin kita peroleh melalui cara pendekatan dan peyang berbeda , antara lain :

Pendekatan umum :

1. penalaran filosofis = kesimpulan

Walaupun mempunyai keterbatasan dalam mengkajinya, intelek (rasio) - yang merupakan sebagian dari intelgensia kecerdasan- dapat juga membawa kita menuju keyakinan positif tentang keilahian . Dengan analisis dialektika dan estetika kita menyadari perlu bahkan harus adanya Tuhan dalam semesta ini. Kemudian melalui argumen apologia(hujah/dalil pembenaran keyakinan)dan sikap metanoia(pengarahan rasio menuju keimanan) kita berusaha untuk mempertahankan keyakinan tersebut. Dengan cara demikian kita sudah dapat menempatkan akal kita pada posisinya yang tepat yaitu sebagai pendukung bagi keimanan dan penguat untuk ketaqwaan kita dan bukan sebaliknya justru malah menentang kebenaran dan bahkan menyangkal keilahian .

2 .keyakinan dogmatis = kepatuhan

Walaupun memiliki kesederhanaan dalam menerimanya, namun haruslah diakui sebagian besar dari kita meyakini masalah keilahian ini dikarenakan kita sejak kecil memang sudah dibentuk dan dikondisikan untuk mempercayainya secara dogmatis melalui doktrin agama yang kita anut. Hendaklah hal ini tidak disikapi sebagai perolehan yang naif ; bahkan sebaliknya justru kita harus mensyukurinya dikarenakan karunia keimanan tersebut sudah dapat kita terima semenjak usia dini sehingga kita segera dapat menjalani kehidupan ini dalam pedoman ketaqwaan yang sudah lebih dahulu terarah dibandingkan orang lain yang mungkin dibesarkan dalam lingkungan yang tidak kondusif untuk itu .

3. penempuhan mistis =

Walaupun masalah keIlahian dan juga keagamaan seharusnya dihayati secara sadar dan tulus serta dijalani secara benar dan tepat berdasarkan

Perbandingan pendekatan autentik =

Filsafat : Kami tidak menggunakan paradigma filosofis

Agama : Kami tidak menggunakan paradigma dogmatis

Mistik :Kami tidak menggunakan paradigma mistis

Pendekatan lain :

Terdapat 2 :

4. penyesuaian estetis =

Walaupun memerlukan kesungguhan perjuangan dan terutama karunia ‘keberuntungan’ untuk mencapainya,seorang penem

Kami tidak menggunakan paradigma estetis

5. kepentingan hegemonis =

Walaupun memerlukan kesungguhan perjuangan dan terutama karunia ‘keberuntungan’ untuk mencapainya,seorang penem

Kami tidak menggunakan paradigma politis

Pendekatan baru :

Terdapat 2 :

6. penempuhan humanistis =

Walaupun memerlukan kesungguhan perjuangan dan terutama karunia ‘keberuntungan’ untuk mencapainya,seorang penem ® kebebasan

Kami tidak menggunakan paradigma humanistis

7. penempuhan dianektis =

Walaupun memerlukan kesungguhan perjuangan dan terutama karunia ‘keberuntungan’ untuk mencapainya,seorang penempuh yang tulus dalam mencari dan menyelami realitas kebenaran dalam samodera kehidupan ini mungkin saja – jika Tuhan menghendaki – akan mampu mengalami transformasi psikologis bahkan spiritual yang membawanya kepada kesadaran intuitif kepada keilahian dan juga kearifan dalam kebenaran dan kebijakan hidup. Hal mana yang kemudian akan segera menghapus keraguan yang terkadang mungkin sempat mengusik benaknya dan bahkan selanjutnya akan semakin mempertegas keyakinan terhadap keilahian dan Dharma kebenaranNya yang senantiasa dipertahankan dalam perjalanan kehidupan ini. Melalui proses individuasi yang intensif para penempuh mengalami realisasi diri - melampaui individualitas dirinya yang picik dan licik dan untuk selanjutnya memasuki tahapan universal secara sadar dan tulus dalam mengkuduskan kehidupannya dalam Dharma kebenaran Ilahi..

Kami tidak menggunakan paradigma filosofis ® ketepatan

Dipathera : Dhamma dipatera > atta dipathera / loka dipathera.

Pengajuan & Pengakuan :

· Pengajuan → hipotesis : paradigma alternatif

®Perlunya pandangan absolut

Agaknya kita memang memerlukan suatu kejelasan perspektif dari pandangan filosofis yang komprehensif dan multidimensional untuk dijadikan standar pedoman dalam mensikapi keserbanekaan mozaik kebenaran yang ada beserta metode realisasi yang operasional dan praktis untuk dijadikan panduan dalam menjalani spiritualitas dalam kompleksitas kehidupan aktual kita. Katakanlah hanya sebagai estetika standar yang integral dan universal bagi para penempuh spiritualitas dengan segala perbedaan latar belakang agama dan kepercayaannya agar dapat menjalani kaidah spiritualitas yang sesungguhnya dengan tanpa mengubah atau mencabut seseorang dari latar belakang pandangannya semula dikarenakan memang risalah tersebut bukan ditujukan untuk membentuk faham baru atau bahkan menentang faham lama yang justru akan mengacaukan dan menyesatkan namun bahkan justru sebaliknya semakin meningkatkan perspektif spiritualitas yang dianut serta menunjang pelaksanaan religiusitas keyakinannya masing-masing. Katakanlah ini hanya sebagai suatu metodologi terobosan semacam yoga- scientific religion atau religious science – yang bukan merupakan agama dan tidak juga menentang agama. Sains yang luwes untuk dijalani secara benar namun tanpa dogma yang harus diyakini secara tegas. Sehingga bisa diterima oleh siapapun juga baik bagi setiap penganut agama, mistisi ,filosof bahkan seorang berpandangan atheis atau skeptis sekalipun yang hanya ingin sekedar mengerti ataupun yang kemudian merasa perlu untuk menempuh dan membuktikan sendiri kebenarannya.

Secara ideal paradigma tersebut haruslah

Kriteria ideal paradigma :

1. Kebenaran Mutlak yang sesuai dengan kenyataan sesungguhnya ; tidak sekedar

2. Memungkinkan penempuhan yang berkelanjutan tidak sekedar

3. Mencakup pemberdayaan keseluruhan secara detail tidak sekedar global

Spiritualitas adalah suatu aktualisasi tindakan yang menyeluruh bukan sekedar transformasi pengertian saja ; dimana didalamnya perlu diperhatikan keseimbangan dan keberimbangan dalam pelaksanaannya. Walaupun memang kita seharusnya polos untuk selalu bersifat spontan dan autentik dalam mengaktualisasikan spiritualitas dalam kehidupan nyata namun sebaiknya juga perlu sadar untuk tetap menjaga sikap harmonis dan simpatik dalam berinteraksi secara estetik dan bijak dengan lingkungan keberadaan kita. Karena kesadaran akan proporsionalitas bagi ketepatan beraktualisasi suatu saat mungkin saja kita dapat menjadi tampak inkonsisten namun seharusnya kita tetap berusaha menjaga agar selalu konsisten pada kebenaran realitas . Disamping itu spiritualitas seharusnya juga memperhatikan totalitas holistik keberadaan alamiah dengan tidak terlalu ekstrem menekankan satu aspek polaritas bagian diri dan menyangkal bagian lainnya. Dalam penempuhan spiritualitas sangat diperlukan keberadaan harmonisasi diri yang utuh. Spiritualitas yang dewasa dan sejati harusnya bisa mencakup dan bahkan melampaui segala ekstrem ; dan bukan malah membentuk ekstrem baru sehingga keberadaannya sangat bermanfaat dalam membantu kita untuk memahami dan mengatasi masalah dan bukan sebaliknya malah menambah masalah baru yang lebih parah .Transformasi spiritualitas hendaknya juga dilakukan dengan memperhatikan kompleksitas keberadaan manusiawi kita sebagai pembumi; sehingga tidak semua konsepsi ajaran aranyaka dharma (pengetahuan dari hutan - kebijaksanaan pertapa)merupakan sanatana dharma(kebenaran realitas) yang bisa secara langsung dan mudah diterapkan bagi semua orang , terutama para praktisi awam yang juga harus menghadapi kompleksitas eksistensial karena keberadaannya. Hakekat Paramatha ( Ajaran kebenaran sejati )jika memang perlu disampaikan seharusnya juga dibahas secara utuh dan menyeluruh hingga jelas terfahami ; karena jika tidak pasti lah akan terjadi kesalah mengertian pemahaman akan maksud yang sesungguhnya dari sistem ajaran tersebut. Si penempuh yang walaupun mungkin sangat tulus namun karena ketidak- mengertian tersebut malah dapat salah arah dan berakibat fatal bagi penyesuaian kehidupan pembumian ,pertumbuhan kedewasaan dan bahkan kemungkinan pencerahannya .

Mengingat luasnya kajian tersebut idealnya karya tersebut haruslah dituliskan oleh

Perlunya Kriteria ideal penulis :

1. Tuhan sendiri

2. Penyeru /Pemandu Pilihan : Rahni Ilahi ® Para Nabi yang terevilasi , para Suci yang terilluminasi

3. Kelayakan : Karani kathani ® yogi/sufi ‘first hand’ , filsuf / fuqoha ‘authoritas’ , hukama

Sampai sejauh ini

sejumlah Peneliti Kebenaran – seperti : Ibn Arabi, Osho,Khrisna Murti, Anand Khrisna, George Gurjieff , Vernon Howard, dan masih banyak lagi para mistisi timur dan filsuf barat - menyadari kenyataan tersebut .dan kemudian mereka secara spontan dan autentik tampaknya berusaha menjabarkan mozaik kebenaran-kebenaran yang tersebar tersebut dalam perspektifnya yang tepat. mereka mengulas banyak hal, seperti: Kajian literatur mistik kuno,bahasan kitab suci dan ajaran agama-agama besar, pandangan terhadap filsafat dan psikologi kontemporer serta pengamatan terhadap kehidupan aktual nyata. Pandangan – pandangan tersebut sedikit-banyak membawa kejelasan dan pencerahan kesadaran baru atas hakekat sesungguhnya dari Realitas Kebenaran. Namun sangat disayangkan tampaknya mereka melupakan satu permasalahan paling mendasar dan menyasar yang sesungguhnya justru paling penting untuk dipaparkan kepada pemerhati spiritualitas awam seperti kita yaitu dengan tidak memberikan semacam wawasan panduan praktis yang sistematis dan menyeluruh mengenai sistem filosofi dan metode realisasi yang benar dan jelas sebagai kesimpulan akhir dari segala pembahasan aneka aliran spiritualitas tersebut .Sebagian besar tulisan dan ceramah mereka masih berputar-putar pada kajian tentang pembenaran visi dan misi dari setiap ajaran /pandangan yang ada tetapi hampir tidak diajukan intisari kebenaran global yang terdapat di dalam keseluruhan pembahasannya ataupun hanya sekedar memaparkan ulasan kritis tentang sistem kehidupan kontemporer dewasa ini namun nyaris tanpa pengajuan solusi yang bisa kita jadikan acuan dalam pembumian kehidupan kita secara nyata.

Dikarenakan para pakar peneliti kebenaran yang sangat kompeten dan kita andalkan dalam permasalahan spiritualitas sama sekali tidak merangkumnya , maka dengan segala keterbatasan pengertian yang ada penulis memberanikan diri mengajukan karya ini ke hadapan pembaca. Katakanlah ini hanya rintisan pembuka dari seorang awam agar di kemudian hari bermunculan buku-buku risalah pemandu yang lebih berkualitas dan semakin sempurna oleh para pakar yang lebih layak untuk hal ini.

· Pengakuan → penulis bukanlah orang tepat yang layak mengungkapkan masalah spiritualitas kepada umum.

Pengakuan realitas =

Bukan kriteria ideal penulis :

1.Tuhan

2. Pilihan : Rahni Ilahi ® Para Nabi yang terevilasi , para Suci yang terilluminasi

3. Kelayakan : Karani kathani ®

® Orang awam yang menempuh dan ingin ,sharing’ feedback

Sesungguhnya penulis bukanlah orang tepat yang layak mengungkapkan masalah spiritualitas kepada umum. Dikarenakan untuk menyampaikan masalah tersebut harusnya hanyalah pribadi tak tercela yang bisa diteladani prilaku kehidupannya dan dalam penempuhan spiritualitasnya telah mampu mencapai Pencerahan sempurna – setidaknya sudah memperoleh hasil kemajuan spiritualitas yang cukup tinggi . Sedangkan Penulis hanyalah seorang pencari yang cuma memiliki sedikit pengetahuan intelektual olahan mengenai spiritualitas yang dasar pengertiannya diperoleh dari sekian literatur dan informasi yang diberikan oleh orang lain sedangkan pengalaman dan keberadaan penulis yang sesungguhnya hampir tanpa mampu menjalani penempuhannya sehingga sama sekali tidak memenuhi persyaratan tersebut . Sama sekali bukanlah ‘prestasi’ yang membanggakan maupun ‘prestise’ yang mengesankan bagi seorang penulis masalah spiritualitas. Dan ini bukanlah basa-basi dari suatu kerendahan hati namun memang merupakan kenyataan sesungguhnya yang tidak akan penulis tutupi kebenarannya. Tak ada gunanya menipu diri sendiri maupun orang lain dengan menyatakan dan menganggap diri sendiri sebagai kebalikannya. Terkadang kejujuran dan keterbukaan memang diperlukan bukan saja demi kebaikan orang lain namun terutama juga demi kelegaan diri untuk kemudian mampu lebih lancar membahas permasalahan yang akan diutarakan.dikarenakan tiada lagi beban maupun kedok penutup kebohongan untuk selalu terus disembunyikan. Bukankah Tuhan Yang Maha mengetahui baik yang tampak dan tersembunyi selalu mengawasi kita ? sehingga dusta walaupun mungkin dapat membawa kita dalam suatu kemuliaan semu dihadapan manusia namun sungguh sama sekali tidak sebanding dengan kenistaan kita dihadiratNya.

Oleh karena itu sebelumnya izinkan kami menyatakan kejujuran ini kepada anda bahwa penulis ini sesungguhnya tidaklah lebih baik dari anda sebagai pembaca; bahkan kemungkinan besar justru malah sebaliknya. Mengingat pengetahuan dan pembicaraan sesungguhnya sama sekali tidaklah selalu menunjukkan keberadaan sebenarnya . Sehingga dalam pembahasan nanti bisa diibaratkan bagaikan seseorang yang menunjukkan jari kedepan orang lain dalam berbicara dimana walaupun satu jari telunjuk tersebut mengarah kepada pembaca namun sesungguhnya empat jari mengarah kepada si penulis sendiri. Maksudnya penulislah yang sebenarnya lebih memerlukan kebenaran tersebut daripada pembaca.. Jadi tak perlu tersinggung dan merasa tidak nyaman karena merasa ‘ digurui’ oleh orang yang memang sebenarnya tidak pantas. Kebenaran tetaplah suatu Kebenaran walaupun orang hina yang menyatakan ; ketidak-benaran tetaplah ketidak-benaran walaupun seorang raja yang mengatakan.jadi Simaklah kebenaran yang ditunjukkan dan bukan jari si penunjuk tersebut.- demikian kata orang bijak yang seharusnya kita camkan bersama dengan tanpa maksud sedikitpun dari penulis untuk membela diri . Kebenaran adalah kebenaran ; dan kebenaran sesungguhnya merupakan suatu kenyataan ilahiah yang bebas sama sekali dan tidaklah bisa dimanipulasikan sebagai pembenaran identitas ataupun autoritas pemilikan bagi suatu pribadi atau pandangan dari suatu sistem tertentu saja walaupun setinggi atau serendah apapun kita mengidentifikasikan anggapan atas diri dan golongan kita sendiri.Dan sesungguhnya buku ini terutama memang ditujukan sekedar untuk media katarsis dan resume analisis dari pencarian kebenaran selama sekian tahun yang perlu tersusun bagi penulis sendiri walaupun tidak menutup kemungkinan jika kemudian sejumlah informasi yang diberikan bisa juga dijadikan sebagai referensi pelengkap bagi pengetahuan maupun penenpuhan yang anda lakukan. Daripada menjadi ‘api dalam sekam’ yang meresahkan diri sendiri adalah lebih baik untuk mengungkapkannya kepada sesama karena walaupun mungkin hal ini terasa begitu memalukan namun demikian seperti lilin yang membakar dirinya sendiri penulis masih dapat berharap bahwa nyala kecilnya sedikit banyak akan mampu memberikan terang bagi para pencari kebenaran yang memerlukannya. Demikianlah akhir kebimbangan dan awal pengungkapan dari literatur ini.

Kemudian dengan menepis rasa malu dan ragu, kami akhirnya mulai menuliskannya. Dan bagaikan hanya menabur mimpi, penulis tidak perduli apakah kemudian akan ada penerbit yang bersedia menyebar-luaskan karya yang mungkin tidak cukup ‘marketable’ untuk dijual dikarenakan autoritas dan identitas keberadaan penulis yang ‘kurang-meyakinkan’; dan jika ternyata kemudian ada penerbit yang bersedia mencetak dan memasarkannya penulis juga tidak perduli apakah kemudian buku ini kemudian cukup menarik untuk dibeli dan dibaca oleh para pencari kebenaran yang memerlukannya ; dan jika seandainya saja buku ini kemudian tidak disambut dengan baik sekalipun penulis akan siap menerimanya. Yang jelas penyelesaian tugas ini harus segera tergenapi karena mungkin hanya karya kecil ini satu-satunya persembahan sederhana yang bisa penulis berikan pada kehidupan ini kepada Tuhan dan bagi dunia, khususnya anda sebagai pemerhati masalah spiritualitas.

Bukan Kriteria ideal paradigma :

1. Kebenaran Mutlak yang sesuai dengan kenyataan sesungguhnya ; tidak sekedar

2. Memungkinkan penempuhan yang berkelanjutan tidak sekedar

3. Mencakup pemberdayaan keseluruhan secara detail tidak sekedar global

® Pandangan hipotesis

Segala bahasan dan ulasan dari buku ini sesungguhnya bukanlah rhetorika penulis yang ditujukan untuk memanipulasi anda agar langsung menerima dan membenarkan segala wacana yang dipaparkan. Bahkan penulis justru mengharuskan kepada para pembaca untuk senantiasa kritis mengkaji literatur ini dengan kecerdasan nalar dan kejernihan nurani agar senantiasa terjaga dari kesesatan dikarenakan walaupun sesungguhnya penulis senantiasa mengharapkan perlindungan Tuhan agar diberikan keahlian dan kearifan dalam memilah dan memilih kebenaran dari kesesatan yang mungkin disengaja ataupun mungkin tidak disengaja dan untuk itu melalui usaha semaksimal mungkin dalam merangkum permasalahan spiritualitas selama sekian tahun ini; penulis tetap berkeyakinan karya ini masih jauh dari kesempurnaan dan bahkan tidak menutup kemungkinan banyak terdapat kekurangan bahkan bisa jadi kekeliruan yang terdapat didalamnya dikarenakan keterbatasan penulis dalam menganalisis suatu permasalahan. Singkat kata, buku ini hanyalah karya sederhana seorang anak manusia yang memiliki keterbatasan untuk disikapi secara jeli dalam mengkajinya.. Dan untuk menjaga kemungkinan dari penyesatan yang mungkin saja secara tidak disadari akan terjadi maka buku ini dilengkapi juga dengan Kuis dianektisi pada akhir pembahasan untuk diisi sesuai dengan pandangan anda sendiri. Anda boleh mengisi apapun juga sesuai dengan keyakinan ataupun keinginan anda sendiri – walaupun itu mungkin saja berbeda sama sekali dengan sejumlah pandangan yang dipaparkan penulis. Kuis – yang merupakan penerapan dari Sistem majeutice dari seorang filsuf terkemuka bernama socrates ini – dimaksudkan agar anda bisa menentukan cara memandang dan menjalani kehidupan ini. Kebenaran harus lahir secara otentik berdasarkan kesadaran anda sendiri . Dikarenakan tanggung jawab eksistensialitas seorang pribadi dibebankan pada pundak dirinya sendiri maka sudah selayaknya kebebasan menentukan keputusan bagi perjalanan kehidupannya sepenuhnya juga berada di tangannya sendiri .Keberadaan buku ini bisa dikatakan hanyalah sebagai bidan yang mencoba membantu anda untuk menghadirkan kesadaran tersebut ke permukaan agar kemudian anda bisa menentukan kepastian bagaimana anda selanjutnya mensikapi dan menjalani kehidupan anda sendiri. Uraian dalam pembahasannya tidak dimaksudkan untuk mempengaruhi pilihan anda dalam menentukan keputusan jawaban namun hanya sebagai perspektif pelengkap dalam memperluas wawasan anda akan adanya sekian banyak sudut pandang dalam memahami setiap aspek kehidupan yang sama dari kebenaran yang satu tersebut. Oleh karena itu kuis tersebut bisa juga digunakan baik sebagai batu ujian pemantapan bagi para penganut dari sistem tertentu maupun penentuan sikap hidup bagi para penempuh ataupun sekedar referensi wawasan bagi para pembaca biasa. Kebenaran Mutlak hanyalah milik Tuhan dan hanya pada kuis ini anda diberi privacy kebebasan untuk menafsirkannya sendiri secara autentik dan subyektif dimana tidak satupun jawaban yang bisa dikatakan benar atau salah – jadi segalanya terserah anda dan seluruhnya tergantung Dia.

Pengharapan :
· Kemanfaatan → sesama Pencari Kebenaran,Penempuh Kehidupan,Pemerhati keabadian,Pengamat Kenyataan

Dengan segala keterbatasannya kami berharap akan sangat bermanfaat sebagai referensi panduan maupun sekedar literature wawasan bagi para pembaca yang mungkin terpilah dalam 4 (empat) kelompok berikut :
(1) Pencari Kebenaran :
Walaupun pada hakekatnya setiap kita adalah pencari kebenaran ; namun yang kami maksudkan disini adalah
sesungguhnya target pertama dan terutama dari maksud dan tujuan penulisan buku ini adalah .sebagai referensi pustaka bagi mereka. Para truth seeker,dharma sekha , pembelajar dan pemberdaya diri,
(2) Penempuh Kehidupan, :
Kita semua
(3)Pemerhati keabadian, :
Tidak semua manusia
(4) Pengamat Kenyataan :
Dalam eksistensialitas kita
· Pensikapan → Sikap terbuka dan sekaligus terjaga ini seharusnya senantiasa anda jalani dalam segala hal ;

Untuk kesekian kalinya penulis berharap ,hendaklah sebagai pembaca sekaligus penempuh anda tetap senantiasa terbuka dan terjaga dalam memahami dan mensikapi permasalahan. Terbuka dalam pengertian reseptif dalam memahami suatu dialektika bahasan suatu permasalahan ; namun sekaligus juga bersikap terjaga untuk tidak harus menerimanya mentah-mentah sebagai pandangan yang benar dimana kemudian anda tidak harus menyetujuinya sebagai pandangan yang anda ambil.

Sikap terbuka dan sekaligus terjaga ini seharusnya senantiasa anda jalani dalam segala hal ; termasuk di dalam mengkaji literatur ini. Walaupun sesungguhnya penulis senantiasa mengharapkan perlindungan pada Tuhan agar Dia senantiasa memberikan petunjuk supaya kami mampu untuk senantiasa menyatakan hanya kebenaran saja dan berusaha semaksimal mungkin untuk menyusunnya dalam kejelasan pada seluruh bahasan di lieratur ini ; namun penulis tetaplah mengakui dan merasakan tidak seluruhnya dari risalah pandangan ini merupakan kebenaran yang harus diyakini . Karya ini - sebagaimana mungkin juga karya manusiawi lainnya - masih memiliki banyak kekurangan untuk diisi, kekeliruan untuk diperbaiki , dan keterbatasan untuk disempurnakan. Oleh karena itu tetap sangat diperlukan kedewasaan dari pembaca sendiri dalam mensikapi dan menerima ulasan sehingga mampu memilih dan memilah sesuai dengan kemanfaatan yang diperlukan.
· Pengertian ®kebenaran hanyalah karena Tuhan; kesalahan yang berasal dari diri pribadi penulis sendiri .

Seandainya ulasan yang terungkap sungguh merupakan kebenaran ; maka kebenaran itu hanya karena hidayah Tuhan semata dikarenakan Dialah sesungguhnya sumber dari segala kebenaran yang ada sehingga tiada hak bagi penulis untuk menyatakan kebenaran ini dikarenakan upaya diri sendiri. Namun jika dalam pengungkapan terdapat kekurangan dan kekeliruan atau bahkan mungkin penyesatan ; sesungguhnya kelalaian tersebut disebabkan karena keterbatasan manusiawi penulis sendiri yang tak tersadari ; dan dengan tetap selalu mensucikan Tuhan Yang Maha Benar dari segala kesalahan ulasan pembahasan pada buku ini.-adalah haq bagi kami untuk mengakui kekeliruan tersebut sebagai kesalahan yang berasal dari diri pribadi penulis sendiri . Semoga Tuhan mengampuni dan pembaca bisa memaklumi.

Terakhir ; Selamat Membaca .





BAB I =

REFERENSI = Pengertian

Prolog = Hipotesis Paradigma :
Referensi ini kami jadikan dasar awal dalam pengkajian paradigma Dhamma dipathera (pendekatan kebenaran absolut) ini. Dhamma dipathera tidak sekedar pembenaran loka dipathera saja ataupun atta dipathera belaka. Kami berharap wawasan paradigma yang tersaji cukup akurat untuk memuaskan akal agar kemudian kita merasa perlu untuk bersegera menempuh realisasi tindakan pemberdayaan diri dan sekaligus pembuktian bagi hipotesa yang dipaparkan. Pantha-Rei , biarkan segalanya mengalir apa adanya sebagaimana harusnya.

Langkah awal haruslah dimulai. Untuk dapat melangkah dengan benar kita memerlukan pandangan yang relatif benar juga. Osho menyatakan walaupun tetap perlu dilakukan namun sesungguhnya langkah awal cenderung sebagai sesuatu kekeliruan. Dikarenakan kebenaran sesungguhnya melingkup secara nyata pada kita . Dia tidak dimana-mana. Pengetahuan yang terserap dalam bentuk informasi dan bukan realisasi memang kurang memadai dan terkadang justru malah menghambat keberhasilan suatu penempuhan dikarenakan senantiasa ada kecenderungan dari kita untuk merasa cukup sekedar mengerti saja untuk kemudian merasa tidak perlu menjalaninya, ataupun sering juga terjadi interferensi kesalah-fahaman dalam menafsirkan dikarenakan perbedaan dan kesenjangan dengan apersepsi pengetahuan sebelumnya, ataupun keterlalu-melekatan pada pandangan tersebut justru akan menghambat realisasi pengembangan kebijaksanaan dan peningkatan kesadaran yang mungkin dapat dicapai ; atau bisa juga terjadi adanya penyesatan dan keterpedayaan yang tidak selalu disengaja sebagai manipulasi kelicikan pemapar demi kepentingan pribadinya sendiri namun juga bisa suatu kekeliruan informasi karena keterbatasan pengetahuan walaupun dia memiliki maksud tulus untuk memberdayakan .

Osho mungkin benar namun demikian kami juga berpandangan. GIGO (garbage in,Garbage Out). Jika yang masuk sampah, keluarnyapun cenderung sampah). Tetap diperlukan kejelasan dan ketepatan pengertian bagi kita semua untuk dapat menghayati kebenaran tersebut. Pandangan yang benar adalah separuh langkah tindakan yang benar.. Namun demikian memang sangat perlu kewaspadaan bagi kita semua dalam menyimak dan mensikapi referensi pandangan awal ini. Sikap terbuka dan terjaga haruslah tetap menjadi senjata anda dalam mengkaji setiap hipotesis bahasan pada buku ini.

asumsi pensikapan : terbuka & terjaga

Sikap terbuka dan terjaga adalah perpaduan sikap yang tampak saling bertentangan satu sama lain namun sesungguhnya sikap ilmiah ini saling melengkapi satu sama lain.

Jika anda terlalu terjaga anda akan cenderung untuk tidak mempercayai wacana apapun juga dan tidak memperdulikan dampak penolakan tersebut untuk kemudian secara spontan langsung menolak suatu pandangan tertentu. Anda akan terhindar dari keterpedayaan yang akan merugikan anda dan sekaligus terhalangi juga dari keberdayaan yang akan berguna bagi anda. Sikap selalu terjaga mungkin memang sikap yang paling aman namun juga paling stagnan. Jika system 100 % aman kemungkinan besar system tersebut tidaklah berjalan. Bagaikan katak didalam tempurung sikap terjaga bisa diibaratkan sebagai tempurung yang menutup segala masukan

Sebaliknya Jika anda terlalu terbuka anda akan percaya begitu saja akan kami. Sikap ini mungkin sangat riskan .

Kisah keterjagaan & keterbukaan :

Ali b Abi Tholib :

® terbuka untuk siaga menghadapi dalam segala kemungkinan yang mungkin terjadi.;

‘kalama sutta’ :

® : selama belum ada realita yang membuktikan kebenarannya ; segalanya barulah hipotesa.

terjaga untuk hanya menerima kebenaran melalui penempuhan dan

Edward S Bono mengutarakan suatu kata tanggapan “Po” sebagai alternatif jawaban spontan “ya” atau “tidak”. Segala hiPOthesis (pandangan ) adalah Possible (mungkin). Mungkin Ya , mungkin juga tidak. Bisa “Ya” jika memang benar adanya; bisa “Tidak” jika memang tidak demikian nyatanya. Sikap PO ini tidak menuntut anda untuk segera mempercayai ataupun menyangkal segala sesuatu sebelum nyata kebenarannya. Tetap terjaga karena selama belum ada realita yang membuktikan kebenarannya; segalanya barulah hipotesa.namun juga terbuka untuk tetap senantiasa bersiaga menghadapi dalam segala kemungkinan yang mungkin terjadi.dengan mempersiapkan keberdayaan diri yang diperlukan. Segalanya ada waktunya. Kebenaran tetap akan terjadi walaupun kita tidak meyakininya, kenyataan tetap akan terjadi walaupun kita tidak menginginkannya. Pandangan perlu dibuktikan keabsahannya. Kesejatian perlu diberdayakan untuk kesiagaannya. Kehidupan perlu diusahakan untuk kesuksesannya. Pilihan perlu ditentukan untuk kepastiannya. Tindakan perlu dilakukan untuk pemenuhannya,

1) GNOSIS : Keakuratan paradigma (W) :

prolog : KeIlahian ?

Kehidupan yang sejati seharusnya menyandarkan pada Kebenaran Absolut yang nyata bukan sekedar pembenaran keinginan subyektif ego (atta dipathera) semata ataupun keyakinan relatif pandangan superego (loka dipathera) belaka. Oleh karenanya diperlukan Premis Pandangan yang benar (setidak-tidaknya tepat) untuk memahami realitas kebenaran abadi dan fenomena kenyataan sebagai dasar acuan kita dalam mensikapi dan menjalani hidup ini.
Berbicara tentang Kebenaran dan keMutlakan membawa kita pada pandangan tentang KeIlahian yang dimuliakan dalam risalah religiusitas agama tradisional dan spiritualitas mistik esoteris serta dalam sejumlah pandangan filsafat dan estetika yang sebagian besar memandangnya dipandang sebagai Sumber Mutlak kebenaran dalam dogma,wacana maupun hipotesa theologinya masing-masing..

KeIlahian dalam Agama + Mistik & Filsafat + Ethika =

Mediteran : Yahudi – Kristen – Islam : Ibrahim ,Musa , Daud , Yesus dan Muhammad & Mistisme Kabala , Esena dan Sufisme

India ‘Hindustan” sebagai negeri mistis dan filsuf timur melahirkan kultur religi hinduisme yang beragam , termasuk juga Buddhisme, & Sikh . Mistisme Yoga . Cina Taoisme. Babilonia Zoroaster . Mesir Ikhnaton.

Perenialist , Theosofist

konsideran asumsi 3 ;

Sebelumnya kita simak dulu sejumlah sikap pandang manusia mengenai permasalahan keTuhanan ini beserta dialektika pensikapan

(1) mempercayai atau mengingkari KeIlahian? ® Konsep Menerima :

Konsep Mengingkari :

Sejumlah filsuf empiris , rasionalist > vitalist , atheist,

Konsep Mempercayai :

Sejumlah filsuf religius > positivist agnosis,

® Konsep Menerima :

Prinsip terbuka untuk mempercayai kemungkinan adanya ‘keMutlakan’ / keIlahian.

Atheisme adalah kemustahilan ontologis . Atheisme adalah tempurung Osho. Mulhad
(2) Menerima KeIlahian secara familiar atau absolut? ® Konsep Tauhid =

Umumnya terdapat 2 (dua) sudut pandang dasar dalam mensikapi keTuhanan , yaitu secara familiar dan absolut

Konsep familiar : Sudut pandang yang familiar memandang Tuhan; keberadaanNya secara pasti dapat dipersonifikasikan secara akrab dan juga kehendakNya secara positif dapat diidentifikasikan. walaupun pada prakteknya Pandangan yang terlalu familiar tentang keTuhanan tepat dikarenakan memungkinkan adanya hubungan antara makhluk dengan Tuhan yang berpribadi dan mudah difahami. Sayangnya, seringkali cara pengenalan Tuhan dipersonifikasikan secara naif sesuai dengan anggapan dan kepentingan pandangan tersebut yang terkadang menyebabkan idea keTuhanan dan kebenaranNya malah menjadi ‘rentan’ terhadap aneka kekacauan identifikasi yang membataskan sesuai dengan anggapan keyakinan dan atau bahkan sekedar keinginan kita sendiri. Sehingga Tuhan menjadi terrendahkan secara kasar karena ke”terbatas’annya tersebut dan seakan justru menimbulkan kesan hanya memanipulasi kekudusan idea keTuhanan dan keluhuran idea Dharma demi kepentingannya sendiri.

Konsep Absolut ;

Sejumlah besar filsuf cenderung untuk lebih memandang Tuhan dalam aspek transendentalNya. Karl Jaspers,sebagai contoh, menyatakan kepercayaan (Faith) adalah transendensi. Ketidak percayaan transendental keTuhanan akan membawa kita kepada nihilisasi,demonologi dan deifikasi.

1. nihilisme : menganggap segala sesuatu {termasuk Tuhan } nihil .

2. demonologi :

3. deifikasi :

Namun demikian Jaspers juga menyatakan chiffers ; semacam : inspirasi (keilhaman) , revilasi (pewahyuan) , illuminasi.(pencerahan)

Sudut pandang yang absolut memandang Tuhan begitu sempurna untuk dapat difahami, sehingga segala pengenalan yang pasti dan positif tentang Tuhan sesungguhnya adalah mustahil. ignoramus,ignorabimus (kita tidak mengenalNya,dan tidak mungkin akan mengenalNya]- demikian kata seorang filsuf bernama Dubois. Pandangan ini kemudian tumbuh dan berkembang menjadi aliran agnostisme. Mengakui keberadaan Tuhan (yang Absolut) namun meragukan keabsahan agama dengan Tuhan yang didogmakan sangat familiar. Pandangan yang terlalu absolut tentang keTuhanan walaupun pada hakekatnya tampak benar dikarenakan dalam hal esensiNya memang Tuhan bebas dari penyerupaan dengan wujud makhluk. Namun hal ini menyebabkan hubungan kita dengan Tuhan sebagai Landasan dan Tujuan bagi spiritualitas justru menjadi terlalu absurd. Tuhan menjadi begitu jauh diluar jangkauan pengertian sehingga tidak memungkinkan sama sekali adanya hubungan diantara keduanya. Tuhan yang terlalu dipandang transenden absolut malah menjadi ‘asing- tak dikenal’. Sehingga Tuhan menjadi tersingkirkan secara ‘halus’ justru karena kesempurnaanNya. Pandangan ini begitu ironis seakan malah disalih tafsirkan memiliki maksud tersirat untuk menyangkal mampu dan perlunya hubungan antara manusia dengan Tuhannya.
® Konsep Tauhid =

Jika kau memandangnya tanzih semata kau membatasi Tuhan.

Jika kau memandangnya tasbih belaka kau menetapkan Dia

Namun jika kau menyatakanNya tanzih dan tasybih;

kau berada di jalan Tauhid yang benar

Sufi Ibn Arabi memandang KeIlahian Tuhan secara Esa - utuh dalam keseluruhan. Tuhan dipandang sekaligus sebagai Dzat Mutlak yang kekudusanNya tak tercapai oleh apapun/siapapun juga (transenden/tanzih) namun keluhuranNya meliputi segala sesuatu (immanen/ tasybih) sehingga walaupun pada dasarnya Kekudusan dan kesempurnaan Tuhan secara intelektual tak terfahami (agnosis)dengan keberadaan yang mungkin terlalu agung untuk kemudian tak diPribadikan(impersonal) dan mandiri (independent) namun kemulian IlahiahNya sering disikapi sebagai figur yang berpribadi(personal) dan Dharma kehendakNya dapat difahami(gnosis) sehingga memungkinkan terjadinya hubungan antara makhluk dengan Tuhan sesuai dengan ketentuanNya (dependent).

Prinsip Tauhid ini tampak bisa menjembatani 2 (dua) ekstrem cara memandang keIlahian Tuhan.® Konsep Tauhid = Prinsip tengah untuk mempercayai kemungkinan

(3) Menerima keIlahian secara Tauhid sebatas pengertian atau peribadahan?®Konsep Ehipasiko: Prinsip penempuhan dianektis

Mahatma Buddha tampaknya lebih menitik beratkan spiritualitas dalam penempuhannya daripada sekedar membicarakan dan memperbincangkan teorinya saja sehingga kemudian dia tidak ingin berspekulasi dan terjebak dalam rimba perselisihan pendapat konseptual yang tidak begitu perlu ketika seseorang menanyakanNya tentang hakekat Tuhan . Dia hanya meletakkan telunjuk di bibirnya.sebagai ‘jawaban’. Mungkin karena ini masalah keTuhanan hampir tak pernah disebut-sebut dalam ajaran Buddhisme ; sikap ini kemudian sering disalah tafsirkan sebagai penegasan bahwa ajaran Buddhisme menyangkal adanya Tuhan. Padahal sesungguhnya dengan sikap tersebut Buddha mengisyaratkan jawaban bahwa Tuhan yang Maha Esa itu ada namun Dia terlalu sempurna untuk digambarkan dengan kata-kata..

Dalam kitab suci Uddana 8.3 Parinibbana (3) Buddha bersabda :

O,bhikkhu ; ada sesuatu yang tidak dilahirkan,tidak menjelma,tidak tercipta, Yang Mutlak

Jika seandainya saja tidak ada sesuatu yang tidak dilahirkan,tidak menjelma,tidak tercipta, Yang Mutlak tersebut maka tidak akan ada jalan keluar kebebasan dari kelahiran penjelmaan ,pembentukan , dan pemunculan dari sebab yang lalu.

Tetapi karena ada sesuatu yang tidak dilahirkan,tidak menjelma, tidak tercipta, Yang Mutlak tersebut maka ada jalan keluar kebebasan dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu itu.

Ini secara tidak langsung mungkin menunjukkan dua hal sekaligus ,yaitu : kesaksian akan adanya keilahian yang diistilahkan sebagai ‘yang tak terbatas” dan yang kedua penjelasan bahwa nibbana pencerahan sebagai puncak pencapaian spiritualitas Buddhisme hanya mungkin terjadi karena adanya ‘Yang tak terbatas’ tersebut. Hal ini akan kita bahas lebih lanjut pada masalah pencerahan spiritual

Prinsip penempuhan dianektis melalui hipotesa sementara pengertian dialektis

1) Bagi Atheist :

2) Bagi Mu’min yang Familiar :

3) Bagi Mu’min yang Absolut :

· perspektif insaniah 4 (3 + 1);

perspektif insaniah 4 (3 + 1);

Jendela Pengamatan Manusiawi : Jnana – Bhakta - Karma

+ Turiya : ® : Metafisik ; Spiritual ; Robbaniah
manusia memberikan bingkai persepsi keIlahian dengan menghayati Tuhan sebagai kebenaran dalam pengertian intelektualnya yang kemudian direalisasikannya dalam jalan pengetahuan (jnana yoga); sebagai keindahan dalam pengertian emosional yang kemudian direalisasikannya dalam jalan kebaktian (bhakta yoga) ; sebagai kebaikan dalam pengertian aksional yang kemudian direalisasikannya dalam jalan perbuatan (karma yoga).

Osho menambahkan jendela pendekatan intuitif mistik sebagai jendela keempat (Turiya) untuk merealisasikan keIlahian tersebut melalui kesadaran langsung

formulasi konsep 3

· konsideran asumsi 3 ;
(keberadaan; kenyataan ; kebenaran ); ® KeIlahian dalam wujud,kuasa dan kasih .

Dengan tanpa maksud sedikitpun untuk mencabut anda dari kepercayaan dogmatis ataupun bahkan pandangan atheistik yang telah anda yakini sekalipun, berikut ini akan kami paparkan gnosis dasar spiritualitas esoterik mengenai keTuhanan,Keabadian dan kehidupan melalui pendekatan filosofis. Pandangan ini kami ajukan bukan hanya untuk menjaga netralitas dan obyektivitas pembahasan dari keberfihakan pada suatu ajaran atau faham tertentu ataupun hanya berdasarkan kecenderungan perkembangan pandangan filosofis dewasa ini. namun juga dikarenakan adanya sejumlah keidentikkan kedalamaman perspektif esoteris yang terdapat pada sekian banyak ajaran religi dan mistik tradisional yang tampak berbeda pada eksoteris di permukaannya.
Trilogi KeIlahian : Wujud keberadaan; Fakta kenyataan ; Nilai kebenaran

® Realitas KeIlahian dalam Wujud, Kuasa dan Kasih.

® Trilogi KeIlahian : Wujud keberadaan; Fakta kenyataan ; Nilai kebenaran

Dhamma dipathera haruslah selaras

® Realitas KeIlahian dalam Wujud, Kuasa dan Kasih.

1) Kaidah Wujud = Tuhan (kholik) adalah wajibul wujud yang keberadaanNya mutlak adanya ; selain itu (makhluk ) adalah mumkimul wujud yang keberadaannya relatif adanya ~ bisa ada, bisa juga tidak ada ~ terserah dan berserah kepada kehendakNya. Tanpa Tuhan , segalanya tidak akan pernah ada. Tanpa segalanya sekalipun, Tuhan tetap ada.

2)Kaidah Kuasa = Tuhan adalah Dzat Mutlak yang keluhuran ilahiyah laten deitasNya melingkupi segala sesuatu (immanent) namun kekudusan Dzat MutlakNya tak terjangkau oleh apapun atau siapun juga (transcendent) ® monotheistic x pantheistic,

3)Kaidah Kasih = Tuhan adalah Hakekat yang merupakan pangkal dan akhir segala yang ada. Segalanya berada dalam kuasa kehendakNya

Dalam ketentuan kuasaNya ; Tuhan mengarahkan segalanya dengan dhamma kenyataan. Segala nya berada dalam PengaturanNya

Dalam kehendak kasihNya ; Tuhan mengarahkan segalanya dalam Dharma kebenaran ; Segalanya berada dalam PemeliharaanNya

1. Hipotesis keBeradaan Tuhan (w) :


Kaidah Wujud :Tuhan (kholik) sebagai wajibul wujud ; (makhluk ) adalah mumkimul wujud

®Tanpa Tuhan , segalanya tidak akan pernah ada. Tanpa segalanya sekalipun, Tuhan tetap ada.

Premis Dasar

1. Hipotesis keBeradaan Tuhan :

Kaidah Wujud :

Tuhan (kholik) adalah wajibul wujud yang keberadaanNya mutlak adanya ; selain itu (makhluk ) adalah mumkimul wujud yang keberadaannya relatif adanya ~ bisa ada, bisa juga tidak ada ~ terserah dan berserah kepada kehendakNya. Tanpa Tuhan , segalanya tidak akan pernah ada. Tanpa segalanya sekalipun, Tuhan tetap ada.

Tuhan adalah Wujud Mutlak (al wujud al muthlaq) Wujud yang keperiadaanNya wajib ada – karena jika tidak ada maka segala perwujudan lain (makhluk) yang hanya bersifat relatif dan mungkin (al wujud al mumkinat) tak mungkin ada juga. Tanpa apapun,Dia bisa ada maujud ; namun Tanpa Dia tiada sesuatupun yang maujud. Dia adalah Hakekat yang merupakan pangkal dan akhir segala yang ada.

® GENESIS = fase keberadaan (w) : Dhyana Dharma – Dharma Dhyana


Dhyana Dharma Keberadaan :
Fase 1 : Fase KeMaha-Adaan Absolut Tuhan. purwaning Dumadi ( Dhyana ® Swadika ! )

Fase 2 : fase peng’ada’an. KeEsaan karena Tuhan. sangkaning Dumadi ( Dharma ® Kehendak Ilahi )

Fase 3 : fase keberadaan Keesaan di dalam Tuhan gumelaring Dumadi ( Tanazul ®Keberadaan Mandala )

Dharma Dhyana Keberadaan :

Fase 3 : fase keberadaan Keesaan di dalam Tuhan gumelaring Dumadi ( Tanazul ®Keberadaan Mandala )

Fase 4 : fase peniadaan. Keesaan kembali ke Tuhan. paraning Dumadi ( Taraqqi ®Mandala Keberadaan )

Fase 5 : fase KeMaha-Adaan Absolut Tuhan. purnaning Dumadi ( Dhyana ® Pralaya ? )

® GENESIS = fase keberadaan (w) : Dhyana Dharma – Dharma Dhyana

Sangkan Paraning Dumadi

Dhyana Dharma Keberadaan :

Dharma Dhyana Keberadaan :
Fase 1 : Fase KeMaha-Adaan Absolut Tuhan. purwaning Dumadi ( Dhyana ® Swadika ! )

Nun ~ Hanya keberadaan Tuhan yang berada dalam Dhyana. tiada apapun jua selain Dia

Nun – Hanyalah Tuhan Keberadaan Absolut . Esa Tanpa siapapun – Swadika dalam Dhyana

Sejumlah filsuf Mistik memandangnya sebagai ketentuan Azali Transendental Tuhan dengan tanpa apapun dan siapapun jua. KeEsaan hanya Tuhan.

Fase 2 : fase peng’ada’an. KeEsaan karena Tuhan. sangkaning Dumadi ( Dharma ® Kehendak Ilahi )

Kun – Hanyalah karena Keberadaan Absolut . Semesta keberadaan terjadi dari ketiadaan karena kehendakNya – Dharma Mandala

Kun ~ Hanya karenaNya, segala yang tiada menjadi ada

Karena kasihNya ; Tuhan menghadirkan segalanya . Dimensi ruang dan semesta terwujud, dan Dimensi waktu dan zaman bergerak.

Sejumlah Filsuf Scientist memandangnya sebagai ‘big bang’ emanasi darii suatu keberadaan agung yang memancarkan kemajemukan esensi nya menjadi beraneka ragam keberadaan dalam mandala yang bersesuaian dengan

Sejumlah Religi Mediteran memandangnya sebagai kreasi penciptaan sang Kholik atas setiap makhlukNya melalui proses bertahap dan berkelanjutan

Sejumlah Mistisi Pantheist memandangnya sebagai tanazul perpisahan dirinya dengan TuhanNya. Karena kesadaran keakuan dia membedakan keberadannya dalam keEsaan bersama Tuhannya. Dengan semakin kuatnya fantasi keakuan dan semakin liarnya sensasi kemauan yang mengikutinya dia semakin menjauh dari hadirat keEsaan TuhanNya dalam ilusi mandala keberadaan sebagai figur keberadaan yang semakin individualis. Tanazul Perpisahan ini menimbulkan kehampaan dan kerinduan untuk Taraqqi kemanunggalan kembali.

Awal penciptaan dunia ini adalah kecintaan Tuhan terhadap diriNya dan dalam diriNya. Melalui cintaNya Dia ingin dikenal dan IlmuNya ingin Dia manifestasikan. Demikian pandangan Ibn Arabi dan juga sejumlah aliran mistik theosofis.Cinta merupakan sebab daripada penciptaan (tajalli = manifestasi diri yang satu dalam bentuk-bentukNya yang tak terbatas).

Fase 3 : fase keberadaan Keesaan di dalam Tuhan gumelaring Dumadi ( Tanazul ®Keberadaan Mandala )

Aum – Hanyalah Esa Keberadaan Absolut. Segalanya berada dalam Laten Deitas mandala DharmaNya – Strata Mandala

Aum ~ Keberadaan terwujud dalam jagad Qodim Mandala keberadaan sejak masa Azali Mandala Keabadian.

Dalam kuasaNya ; Tuhan mengarahkan segalanya dengan dhamma kenyataan.

Dalam kasihNya ; Tuhan mengarahkan segalanya dalam Dharma kebenaran ;

Pandangan monistik : Aum-sarvam khalv idam Brahman Esa; demikianlah segalanya berada dalam Brahman

Saat ini dan disini kita berada dalam fase 3.

Fase 4 : fase peniadaan. Keesaan kembali ke Tuhan. paraning Dumadi ( Taraqqi ®Mandala Keberadaan )

Kun – Hanyalah Esa Keberadaan Absolut. Segalanya kembali ke hadiratNya – Dharma Mandala

Kun ~ Hanya karenaNya, segala yang ada kembali tiada.

Karena kuasa Nya ; Tuhan mensirnakan segalanya. Dimensi ruang dan semesta musnah, dan Dimensi waktu dan zaman berhenti.

Sejumlah Religi dan Mistisi memandangnya sebagai Pralaya (kiamat) sebagai pemusnahan sebagian dimensi dan meneruskannya dengan penghisaban , sejumlah mistisi bahkan menyatakan sebagai Maha Pralaya sebagai pemusnahan seluruh dimensi mandala keberadaan. sebagai peleburan total .

Sejumlah Filsuf Religi dan Mistisi memperkirakan kedatangannya secara negatif dikarenakan keingkaran makhluk telah merajalela hingga mencapai puncaknya yang mengakibatkan ketidak harmonisan mandala keberadaan tersebut; sebagian lagi memperkirakan kedatangannya secara positif dikarenakan terjadinya Pencerahan spiritual secara universal yang mengakibatkan transformasi kemurnian mandala .

Fase 5 : Fase KeMaha-Adaan Absolut Tuhan. purnaning Dumadi ( Dhyana ® Pralaya ? )

Nun – Hanyalah Esa Keberadaan Absolut. Esa tanpa siapapun – Swadika dalam Dhyana

Nun ~ dalam kehampaan , tiada apapun jua . Hanya Tuhan yang berada dalam Dhyana.

Sejumlah filsuf mistik memandangnya sebagai ketetapan Abadi Transendental Tuhan dengan tanpa apapun dan siapaun jua . KeEsaan hanya Tuhan.

2. Hipotesis KeTauhidan Tuhan (k):


Konsep Kuasa :Tuhan adalah Dzat Mutlak (immanent+transcendent) ® monotheistic x pantheistic,

2. Hipotesis KeTauhidan Tuhan :

Konsep Kuasa :

Tuhan adalah Dzat Mutlak yang keluhuran ilahiyah laten deitasNya melingkupi segala sesuatu (immanent) namun kekudusan Dzat MutlakNya tak terjangkau oleh apapun atau siapun juga (transcendent) ® monotheistic x pantheistic,

® MANDALA = tataran keberadaan (k) : Tanazul Makrokosmos – Taraqqi Mikrokosmos

Tanazul Makrokosmos = Dimensi paralel semesta

1) Advaita = mandala transcendent keIlahiyahan (Kasih – Kuasa ) :

Dhyana : ‘mandala’ KeEsaan Mutlak (Dzat) ® “tiada” keberadaan selain Dia. (DIA)

1. Indefinit – Dzat Mutlak Tuhan yang tiada dapat terjangkau dan sebaiknya tetap menjadi misteri yang perlu dan wajib dimuliakan kekudusanNya.

Dharma : ‘mandala’ keEsaan Mutlak yang merealisasikan kenyataan dhamma dan kebenaran dharma ® “sirna” keberadaan selain Dia (ESA)

2. Infinitum – ‘hijab’ kekudusan Kuasa Tuhan yang tidak dapat terjangkau namun seharusnya dihayati (KUN) ® kenyataan hanya karenaTuhan

3. Infinitum – ‘hijab’ keluhuran Kasih Tuhan yang tidak dapat terjangkau namun seharusnya dihayati (KUN) ® kebenaran hanya karena Tuhan

2) Universe = mandala immanent kesemestaan keabadian (AUM) :

Dimensi Tanazul Terjangkau oleh Taraqqi dalam Wuwei Kesadaran Universal : Esa (ekstase)

1. Dimensi Nirvanik : Wilayah kesadaran realisasi autentik akan hakekat ketiadaan diri (kefanaan diri & kebaqoan Tuhan) : annata

2. Dimensi Kosmik: Wilayah kesadaran realisasi autentik akan hakekat kosmik

3. Dimensi Spiritual : Wilayah kesadaran realisasi autentik akan hakekat spiritual

Dimensi Tanazul yang terjangkau oleh Taraqqi dengan Zazen Kesadaran Individual : Ego (metode)

4. Dimensi Mental : Wilayah kesadaran realisasi autentik akan keberadaan mental keakuan (budhasetra,dll)

5. Dimensi Astral : Wilayah kesadaran realisasi autentik akan keberadaan astral kemauan (devata,dll)

6. Dimensi Eterik : Wilayah kesadaran realisasi autentik akan keberadaan sukma eteris (siluman,dll)

7. Dimensi Fisik : Wilayah kesadaran keberadaan eksistensial figur ‘mental’ berfisik (manusia,dll)

Taraqqi Mikrokosmos = Dimensi paralel pribadi

1) Universe = mandala immanent kesemestaan keabadian (AUM) :

1. Dimensi Fisik : Wilayah kesadaran keberadaan eksistensial figur ‘mental’ berfisik (manusia,dll)

Dimensi Tanazul yang terjangkau oleh Taraqqi dengan Zazen Kesadaran Individual : Ego (metode)

2. Dimensi Eterik : Wilayah kesadaran realisasi autentik akan keberadaan sukma eteris (siluman,dll)

3. Dimensi Astral : Wilayah kesadaran realisasi autentik akan keberadaan astral kemauan (devata,dll)

4. Dimensi Mental : Wilayah kesadaran realisasi autentik akan keberadaan mental keakuan (budhasetra,dll)

Dimensi Tanazul Terjangkau oleh Taraqqi dalam Wuwei Kesadaran Universal : Esa (ekstase)

5. Dimensi Spiritual : Wilayah kesadaran realisasi autentik akan hakekat spiritual

6. Dimensi Kosmik: Wilayah kesadaran realisasi autentik akan hakekat kosmik

7. Dimensi Nirvanik: Wilayah kesadaran realisasi autentik akan hakekat ketiadaan diri (kefanaan diri & kebaqoan Tuhan) : annata

2) Advaita = mandala transcendent keIlahiyahan (Kasih – Kuasa ) :

Dharma : ‘mandala’ keEsaan Mutlak yang merealisasikan kenyataan dhamma dan kebenaran dharma ® “sirna” keberadaan selain Dia (ESA)

1. Infinitum – ‘hijab’ keluhuran Kasih Tuhan yang tidak dapat terjangkau namun seharusnya dihayati (KUN) ® kebenaran hanya karena Tuhan

2. Infinitum – ‘hijab’ kekudusan Kuasa Tuhan yang tidak dapat terjangkau namun seharusnya dihayati (KUN) ® kenyataan hanya karenaTuhan

Dhyana : ‘mandala’ KeEsaan Mutlak (Dzat) ® “tiada” keberadaan selain Dia. (DIA)

3. Indefinit – Dzat Mutlak Tuhan yang tiada dapat terjangkau dan sebaiknya tetap menjadi misteri yang perlu dan wajib dimuliakan kekudusanNya.

3. Hipotesis Kebijakan Tuhan (ks):

3. Hipotesis Kebijakan Tuhan :

Konsep Kasih : ketentuan kuasa Sunatullooh Nya ; kehendak kasih ShibghotulloohNya

Tuhan adalah Hakekat yang merupakan Sumber awal dan Tujuan akhir pengarahan samsara segala keberadaan yang ada

Dalam ketentuan kuasaNya ; Tuhan mengarahkan segalanya dengan dhamma kenyataan. Segala nya berada dalam PengaturanNya

Dalam kehendak kasihNya ; Tuhan mengarahkan segalanya dalam Dharma kebenaran ; Segalanya berada dalam PemeliharaanNya

Tuhan melingkup Immanensi keberadaan yang diwujudkanNya dengan kaidah trinitas : wujud , kuasa dan Kasih

Tiada keberadan tanpa immanensi laten Deitas immanensi Tuhan

Tiada kekuasaan tanpa immanensi kaidah Kuasa Tuhan

Tiada kebenaran tanpa immanensi kaidah Kasih

Dalam immanensi keberadaan tersebut ditetapkan kaidah Sunnatullaah sebagai keberadaan yang mengatur segala perwujudan

Dalam immanensi keberadaan tersebut ditetapkan kaidah Shibghotullooh sebagai keberadaan yang mengatur segala perwujudan

Hakekat Setiap Mandala beserta Setiap MakhlukNya berada dalam pancaran laten Deitas perwujudan kekuasaan dan pengawasanNya.

Dalam Immanensi keberadaan tersebut ditetapkan kaidah Sunnatullaah kuasa Tuhan seagai kekuatan yang mengatur segala perwujudan

Hakekat Setiap Mandala beserta Setiap MakhlukNya berada dalam laten Deitas kekuasaan dan pengawasanNya.

Dalam Immanensi keberadaan tersebut ditetapkan kaidah Shibghatullah kasih Tuhan sebagai kebaikan

Hakekat Setiap Mandala beserta Setiap MakhlukNya berada dalam laten Deitas kekuasaan dan pengawasanNya.

Karena kasih Nya Tuhan dipandang secara estetis sebagai personal dan merealisasikan sebagai bhakta secara moralitas

Karena kuasaNya Tuhan dipandang secara empiris sebagai impersonal dan merealisasikannya d

Karena wujudNya Tuhan dipandang secara filosofis sebagai immanensial

KeEsaan immanensi

Dualisme Kuasa dan Kasih yang mengatur immanensi keberadaan

Trinitas Wujud , Kuasa dan Kasih

®SAMSARA=keberadaan diri (ks):Spiritualitas Keabadian– Eksistensialitas Kehidupan

® SAMSARA = keberadaan diri (ks) : Spiritualitas Keabadian – Eksistensialitas Kehidupan

Kita adalah makhluk spiritual yang menjalani kehidupan kemanusiaan (Deepak Chopra )

1) anugerah Samsara keRobbanian Pribadi pada Spiritualitas Keabadian– Eksistensialitas Kehidupan

Sadari kenyataan Pribadi sebagai satuan individual makhluk universal ilahiyah yang berperan dalam suatu keberadaan eksistensial tertentu. Samsara kehidupan merupakan segala problematika yang sedang dihadapi dan dijalani oleh diri sebagai basis keberadaan eksistensial saat ini.

2) amanah Pemberdayaan keRobbanian diri pada Spiritualitas Keabadian– Eksistensialitas Kehidupan

= kehidupan merupakan amanah Tuhan untuk kita pergunakan dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya dalam memberdayakan keseluruhan diri dalam perjalanan keabadiannya.

3) Ekstase keabadian adalah kebijakan memberdayakan diri x kejahilan memperdayakan diri ; mensikapi kuasaNya dan menjalani kasih kehendakNya

Amor Dei,amor Fati.

Epilog : Keyakinan ? ®

kaidah pemuasan akal hipotesis awal untuk diterima sebagai dasar pengertian x akidah dogmatis untuk langsung diyakini sebagai kebenaran yang sesungguhnya.( (Ilmul Yaqin, ‘ainul Yaqin, haqqul yaqin).

· Pandangan diatas hanyalah merupakan kaidah hipotesis untuk diterima sebagai dasar pengertian bukan akidah dogmatis untuk langsung diyakini .

· Keyakinan hanyalah pada kebenaran yang sesungguhnya. Tidak sekedar melalui pengertian keilmuan (Ilmul Yaqin) , ataupun hanya pada input lanjut penempuhan ( ‘ainul Yaqin) namun harus pada aspek akhir pencerahan keseluruhan (haqqul yaqin).

· Kami memandang hipotesis ini lebih sebagai ketepatan daripada kebenaran. Suatu langkah bijak

Secara mistis Sekedar pemuasan akal

2) WISDOM = Kemantapan metanoia (K) :

prolog : kearifan ? (kemajemukan pendapat; keberagaman pandangan ; keterbatasan kemampuan)


kemantapan menerima hipotesis sementara sebagai acuan dasar ® kecerahan akurasi paradigma hipotesis

Hakekat = Vs atheistic : Vs absolutis :

Genesis = Vs jaqad qodim :. Vs zaman azali :

Mandala = Vs Pantheisme ; Vs Empirisme

Samsara = vs Sekulerisme ; Vs Liberalisme

® kecerahan paradigma hipotesis vs penyangkalan dan peluriusan

HAKEKAT =

Vs Pandangan atheistic : Tidak ada Realitas Tuhan yang ada hanyalah fenomena keberadaan.

® Fenomena keberadaan hanyalah mumkimul wujud yang hanya mungkin ada atau malahan tiada karena adanya di-adakan oleh wajibul Wujud yaitu Realitas Tuhan.

Vs Pandamgan absolutis : Realitas Tuhan adalah begitu absolut dan transenden sehingga mustahil kita dapat mengenal dan berhubungan denganNya.

® Walaupun kekudusanNya memang

GENESIS = tentang keberadaan (rimba pendapat)

Vs Pandangan jaqad qodim : alam semesta sudah ada dan qodim sejak dulu hingga nanti..

® dimensi ruang, seluruh mandala (hingga alam semesta pada dimensi fisik) baru ada setelah fase genesis / tanazul. Tuhan telah ada dalam keEsaan DhyanaNya sebelum mewujudkan nya.

® dimensi ruang mungkin saj a akan mengalami pralaya (kemusnahan alam semesta pada dimensi fisik) dan bahkan mahapralaya (pemusnahan total seluruh mandala semesta ) jika Tuhan menghendaki. Tuhan tetap ada dalam keEsaan DhyanaNya walau semesta mandala telah dimusnahkanNya.

Vs Pandangan zaman azali : Waktu melaju sejak zaman azali dulu dan terus bergerak dalam keabadian.

® dimensi waktu baru ditentukan Dengan roda zaman menyertainya bergerak pada fase genesis bersamaan dengan keberadaan mandala. Sebelumnya hanya ada keMutlakan yang Esa yang sehingga keberadan selainNya adalah sebagai tiada ditentukan adanya.

® dimensi waktu akan ditentukan berhenti pada fase (maha)pralaya karena kemudian hanya ada keMutlakan yang Esa yang sehingga keberadan selainNya adalah sebagai tiada ditentukan adanya.

MANDALA = dalam keberadaan

Vs Pantheisme ;

Vs Empirisme

SAMSARA =

1) kenyataan diri sebagai pribadi yang sedang menjalani kehidupan dan mungkin juga menghadapi keabadian

2) keharusan bersikap untuk segera bertindak (tidak memilih juga merupakan pilihan yaitu mengabaikan suatu kemungkinan yang bisa saja akan terjadi)

3) kebijakan menempuh keseluruhan ® kesegeraan aktualisasi pemberdayaan kehidupan dan keabadian secara harmonis dan berkelanjutan dalam mencapai akses keabadian (swadika, talenta, visekha) dan asset kehidupan (persada, karisma, bahagia)

1) Khilafiyah Theologi :


Hakekat Theologi sebagai Ilmu tentang Tuhan ® usaha pendekatan dengan segala keterbatasan intelektual Keberadaan dan kesempurnaan Tuhan .

prolog : kearifan ?(kemajemukan pendapat; keberagaman pandangan ; keterbatasan kemampuan)

kemantapan menerima hipotesis sementara sebagai acuan dasar

1) Khilafiyah Theologi : kemustahilan membatasi Tuhan ?
Tuhan dalam ajaran religiusitas agama tradisional dan spiritualitas mistik esoteris serta dalam sejumlah pandangan filsafat dan estetika dipandang sebagai sumber kebenaran dalam dogma,wacana maupun hipotesa theologinya masing-masing.
Hakekat Theologi =

Istilah Theologi sebagai Ilmu tentang Tuhan sesungguhnya bukanlah terma yang tepat untuk digunakan dikarenakan adalah mustahil bagi kita untuk melogikakan masalah keIlahian. Walaupun dalam batas tertentu Keberadaan dan kesempurnaan Tuhan bukanlah hal yang absurd dan irrasional untuk difahami dan diterima namun sesungguhnya pengertian Keilahian secara utuh adalah bersifat trans-rasional - melampaui jangkauan pemikiran dan pemahaman kita - ; sehingga tidak memungkinkan bagi kita membatasinya dalam lingkup penalaran intelektual kita. Theologi haruslah kita sadari hanyalah merupakan suatu usaha pendekatan dengan segala keterbatasan intelektual yang kita miliki untuk memberikan kejelasan perspektif tentang keIlahian dan permasalahan spiritualitas yang berkaitan dengannya dalam kehidupan ini.

Bhinneka tunggal ika,tan hana dharma mangrwa

- walau berbeda tetap satu,tiada kebenaran yang mendua (mpu tantular-sutasoma)

Ada begitu banyak pandangan theologis yang tumbuh berkembang di dunia ini ; baik yang secara populer tersebar-luas di masyarakat maupun yang secara esoteris terrahasiakan dan hanya diketahui oleh kalangan tertentu saja..Pada hakekatnya setiap ajaran spiritualitas tersebut hanya mempercayai, dan mengagungkan satu Tuhan yang sama.dan mereka juga memuliakan dan melaksanakan Dharma Kebenaran IlahiahNya . Namun dikarenakan mereka memandang dari sudut pandang yang berbeda maka sekilas tampak adanya perbedaan yang terkadang cukup mendasar pada akidah keyakinan dan dalam merealisasikan ibadah kebaktian dan amaliah kecintaan kepada Dia itu. Tetapi hendaknya perbedaan ini tidak perlu terlalu diperselisihkan karena sesungguhnya pada hakekatnya mereka berasal dari sumber yang sama. Seperti seberkas cahaya putih yang mengenai sebuah prisma yang kemudian membiaskannya dalam spektrum cahaya yang berwarna-warni.- Demikianlah Kebenaran absolut tersebut diterima. Walaupun Perbedaan yang mendasar hanyalah sebatas di permukaan dan bukan dalam kedalamannya.

→ kecerahan paradigma diantara Rimba Pendapat (keIlahian ; keberadaaan; ketentuan)


bagai spektrum cahaya yang terbiaskan prisma seberkas cahaya putih Kebenaran absolut ® Hendaknya perbedaan tersebut dipandang sebagai suatu kewajaran yang niscaya terjadi di permukaan x kedalaman.

1.KeIlahian(TUHAN)=pembatasan nama, berfihak/ milik; Dilihat?®dihayati; Leburan?®jumbuhan

2.Keberadaan (DHARMA): ketentuan Kenyataan Sunnatullaah ; Kebenaran ketentuan Shibgatullaah :

3.Ketentuan(Takdir: kebebasan>keterikatan ® ketentuan ikhtiar ) ; Hisab ( langsung ; rebirth ® kesiapan saat ini)

→ kecerahan paradigma diantara Rimba Pendapat

Ibarat lautan , Spiritualitas (MahaDharma) sering ditafsirkan sebagai riak ombak bagi setiap sistem ajaran spiritualitas ( agama ,mistik ,). Aneka perbedaan pandangan di permukaan yang ada dari lautan kebenaran dan kenyataan yang sama tersebut seringkali menjadi permasalahan bagi para penganut sistem dalam memandang faham lain yang ‘berbeda ’ untuk kemudian terkadang timbul perselisihan dan pertengkaran, penghujatan hingga peperangan yang sesungguhnya tidak perlu diantara mereka. Suatu hal yang sesungguhnya sangat bertentangan dengan landasan dasar dari setiap sistem ajaran tersebut yang sesungguhnya ditujukan untuk membawa kedamaian dan kesejahteraan di muka bumi ini dan bukan menebar kebencian dan pengrusakan apapun alasan dan tujuannya. Semesta kenyataan dan kebenaran yang tercipta adalah semesta kemajemukan ; dan dalam kemajemukan tersebut pastilah ada perbedaan perspektif dalam memandangnya. Hendaknya perbedaan tersebut dipandang sebagai suatu kewajaran yang niscaya terjadi

(keIlahian ; keberadaaan; ketentuan)

KeIlahian :

1. Tentang = KeIlahian ® TUHAN

pembatasan nama sebutan Tuhan : Varnatmak – Dunyatmak → transendental Dunyatmak (Asmaul Husna / Ismul Azham : ta’zim)

keberfihakan dan kepemilikan Tuhan : Tuhan bukan milik kita. Kitalah milik Tuhan ; Tuhan tidak selalu berfihak pada kita dan sudah seharusnya

berfihak padaNya

Absolut Transendent ( Wujud) ® immanent : Impersonal ( kuasa) & Personal (kasih)

Dilihat ? bisa dihayati keberadaannya sesuai dengan maqom keberadaan makhlukNya; Leburan? tidak mungkin karena Tunggal-tanTunggal (wujud dzat MutlakNya kudus transcendent tidak immanent ; kuasa-kasih laten deitasNya immanent universal tidak sekedar individual ). Tuhan melingkup makhlukNya tetapi tidak sebaliknya Hanya batin yang reseptiflah yang berpeluang besar mampu menghayati keberadaanNya.

2. Tentang Keberadaan DHARMA

Kenyataan ketentuan Sunnatullaah :

Kebenaran ketentuan Shibgatullaah : kebenaran ( spiritualitas religius / estetika budaya )

3. Tentang Ketentuan :

TAKDIR : Keterikatan : keterbatasan ; tanggung jawab Kebebasan :

HISAB : langsung ; rebirth

2) Problema Theodice:


Istilah Theodice sebagai membela Tuhan ®usaha pembenaran keyakinan pandangan spiritualitas Robbaniah (Dharma berkeTuhanan).

+dakwah?Cara umum(indoktrinasi dogmatis,argumentasi,persuasi,); cara lain (intimidasi/ provokasi/ manipulasi); cara baru (realisasi)

®Spiritualitas&religiusitas adalah hal yang luhur dan adalah tidak selayaknya (Niat &cara®Kedewasaan )

2) WISDOM = Kemantapan metanoia (K) :

prolog : kearifan ?(kemajemukan pendapat; keberagaman pandangan ; keterbatasan kemampuan)

kemantapan menerima hipotesis sementara sebagai acuan dasar

2) Problema Theodice : kemustahilan membela Tuhan?

Istilah Theodice sesungguhnya juga bukanlah merupakan istilah yang tepat. Theodice – berdasarkan etimologi kata – berarti membela keberadaan Tuhan dan juga Dharma kebenaranNya..Suatu pengertian yang terdengar agung yang mana akan membuat kita merasa terpanggil untuk segera menjalankannya . Namun sebelumnya marilah kita kaji dahulu kebenaran dan ketepatan pandangan ini. Begitu lemahkah Tuhan dan DharmaNya sehingga kita perlu dan harus membelanya dengan segala tindakan radikal seperti Dharma Yudha , Jihad Fi Sabilillah , Apologetika Salib dan sebagainya ?

Sesungguhnya Tuhan dan DharmaNya tidaklah begitu lemah sehingga sangat memerlukan segala bantuan kekuatan kita. Tuhan tetaplah menjadi Tuhan Penguasa Mutlak yang Nyata dan KehendakNya merupakan Dharma Kebenaran yang tetap berlaku di seluruh alam semesta ini walaupun jika seluruh makhluk menyangkal kebenaran dan tidak mengakui kenyataan tersebut. Sebenarnya bukanlah kita yang membela Tuhan tetapi Tuhanlah yang membela kita dan bukanlah kita yang menjaga Dharma tetapi Dharmalah yang menjaga kita. Hanya karena karuniaNya kita dilimpahi dengan hidayah keimanan dan kemudian Dia menunjukkan kepada kita Jalan Dharma sesuai dengan agama dan kepercayaan kita masing-masing yang seharusnya kita tempuh agar kita senantiasa terjaga dan berdaya dalam kehidupan ini. Seandainya Dia menghendaki seluruh makhluk di alam semesta ini menjadi beriman semuanya pastilah dapat diwujudkannya segera dengan tanpa perlu mengharapkan bantuan kita untuk itu. Kesempurnaan dan KeperkasaanNya sebenarnya sama sekali tidak memerlukan keterbatasan bantuan dan pertolongan kita.

Namun demikian sebagai orang yang beriman adalah tidak salah dan justru sebaliknya kita memang seharusnya membela keimanan kita kepadaNya secara benar dan tepat. Theodice sesungguhnya merupakan usaha pembenaran keyakinan kita akan pandangan spiritualitas Robbaniah (Dharma berkeTuhanan). Dalam Kehidupan senantiasa banyak terjadi perubahan yang terkadang berimbas kepada keimanan kita terhadap keIlahian Tuhan dan Dharma kebenaran Nya. Kadar keimanan kita sering kali berfluktuasi naik-turun . Disitu Theodice berperanan dalam mempertahankan dan meningkatkan kadar keimanan agar kita senantiasa mampu berintegritas dengan spiritualitas dan beraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari. Singkatnya agar dengan senantiasa ita tetap mantap berdiri dalam keseimbangan dan lancar melangkah dalam keberimbangan pada titian kehidupan ini.

Pengertian Theodice kemudian berkembang lebih meluas sebagai usaha penjelasan dan penyebaran suatu keyakinan dari sistem ajaran tersebut kepada khalayak ramai yang mana kemudian sering diikuti konflik yang bersifat internal inter-sistem maupun external antar-sistem spiritualitas. Setiap firqoh aliran menganggap pandangannya sendiri yang benar dan menghujat aliran lain sebagai kesesatan yang harus dibungkam. Setiap firqoh aliran menganggap tindakannya sendiri yang benar dan menghujat aliran lain sebagai kesesatan yang harus dihancurkan. Setiap firqoh aliran menganggap keberadan umatnya sendiri yang benar dan menghujat aliran lain sebagai kesesatan yang harus dimusnahkan.

(ragam apologetika : dogmatis,argumentasi,persuasi,realisasi

Ada banyak cara yang mungkin ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut .

1. Indoktrinasi dogma = Sacra scriptura verbum Dei -

Indoktrinasi merupakan cara theodice dengan menggunakan dan memanfaatkan kewenangan dari legitimasi dan autoritas yang dimiliki. Ini adalah cara paling mudah diantara cara yang lain. namun sekaligus cara yang paling naif. Mungkin inilah sebabnya penghayatan awal . Umumnya para cendekiawan religi melakukan penyebaran keyakinannya dengan argumentasi melalui rasionalisasi pembenaran terhadap ajaran yang dianut. Mereka menggunakan hujjah autoritas kitab sucinya sebagai dasar kebenaran.

2. Argumentasi =manusia berasal dari kata manas

Argumentasi merupakan cara theodice dengan menggunakan dan memanfaatkan kemampuan serta kelihaian rasional akal fikiran . Para filosof religius membela pandangan keyakinannya melalui dialektika rasionalitas.

3. Persuasi = Persuasi merupakan cara theodice dengan memanfaatkan kemampuan interaksi em Pribadi simpatik Keteladanan karisma Lebih effektif

4. Realisasi = Ehipasiko merupakan Kalama sutta No fact,no truth,no faith Pembuktian Penempuhan Paling effektif Sesunnguhnya terdapat cara lain untuk me

Manipulasi : memanfaatkan kebodohan , menyebabkan kenyamanan

Provokasi : memaksakan , Ketidaknyamanan dalam penekanan dan ketidak

Namun demikian Spiritualitas adalah hal yang luhur dan adalah tidak selayaknya

Niat dan cara ; Kedewasaan – keberlanjutan –

® kebijakan metanoia diantara faham pandangan (fanatisme; skeptisme ; vitalisme)


Kemantapan menerima pandangan lain secar arif :

1.kearifan terhadap : fanatisme/mistisme :

=Fanatisme Agama: (1) .kondisi historis ajaran; (2.) proses perkembangan rohaniah (Syariat.;Thariqat ; Haqeqat ; Ma’rifat) ; (3). persepsi dan manipulasi terhadap ajaran;

= Alienasi Mistik = (1)idealisme (2)reaksi terhadap dunia (3)pencerapan metafisik spiritualitas

2.kearifan terhadap : Skeptisme / vitalisme :

= Skeptisme (Manas Rasionalisme;Empirisme – Positivisme) : (1)keengganan naluriah vitalisme (2) reaksi terhadap kekasaran fanatisme (3) pengamatan empiris /pemahaman positivis

=Vitalisme hedonis (1.) kepolosan kodrati alamiah (2)pengaruh lingkungan pembentuk (3)potensi kesadaran ilahiah kundalini

Kemantapan mensikapi Realisasi : M.Peck ®

® kebijakan metanoia diantara faham pandangan

1. kearifan terhadap : fanatisme/mistisme :

1. Fanatisme Agama :

Hidup memerlukan tatanan Militansi – Manipulasi < diniah religi – taqlid mistik Tatanan

Manusia memerlukan kepastian dalam keyakinanyan sehingga Sikap fanatis sebenarnya dalam batas-batas tertentu memang haruslah dimiliki oleh seorang penganut untuk memperkuat kadar keimananannya sehingga semakin memantapkan dia dalam menjalankan amal kebajikan dan menegakkan kebenaran sesuai dengan keyakinannya tersebut . Namun seringkali fanatisme tersebut berkembang menjadi trium falisme

Walaupun sesungguhnya sikap fanatis terhadap suatu pandangan justru akan menghalangi peluang pemberdayaan diri untuk mencapai yang lebih luas dikarenakan sifat ketertutupan dan keangkuhannya. Sikap fanatisme memang merupakan hak yang diperbolehkan namun seharusnya juga ditegakkan secara haq yaitu sesuai dengan kebenaran. Hendaklah sikap fanatis tersebut dibarengi dengan kearifan untuk senantiasa dewasa memahami bahwa orang lainpun berhak meyakini akidah keimanan yang berbeda dan menjalani amal ibadah yang sesuai dengan fahamnya tersebut. Sikap fanatisme yang sehat hendaklah dibarengi dengan sifat toleran dan sikap moderat dalam mengaktualisasikannya. Kebenaran milik Tuhan dan b

Prinsip lakum dienukum dan lama amakalana Dalam

Maksudnya - walaupun mungkin terdengar naif dan liar– anda mungkin boleh saja mengklaim faham yang anda anut sebagai yang terhebat (tentu saja anda sebagai penganutnya juga akan tampak sebagai yang terhebat)dan juga memuji amalan yang anda lakukan sebagai yang termulia (semoga saja anda benar-benar menjalankannya dengan segenap kemurnian bukan kepalsuan) atau bahkan menganggap aliran anda sebagai yang paling mulia ( semoga saja demikianlah kenyataannya tidak sekedar anggapan anda)

(1)kondisi historis ajaran : Tidak semua agama maupun faham spiritualitas hadir dalam lingkungan kondusif yang langsung seketika menerima kehadiran dan pandangannya untuk kemudian segera menunjang keberadaan dan perkembangannya. Sebagaimana , potensi yang akan muncul. Tradisi peradaban Yunani dan kebudayaan India dengan kebebasan berfikir dan berpendapat . Islam lahir dalam lingkungan masyarakat jahiliah . Kristen hadir dalam lingkungan masyarakat yang fasik

(2)persepsi dan manipulasi terhadap ajaran

(3)proses perkembangan rohaniah Syariat.;Thariqat ; Haqeqat ; Ma’rifat

2. Alienasi Mistik =

mistisme

alienasi asketisme

(1)idealisme

(2)reaksi terhadap dunia

(3)pencerapan metafisik spiritualitas

2. kearifan terhadap : atheisme/vitalisme :

Hidup memang memerlukan vitalitas kegairahan. .Vitalisme – Hedonisme <moralitas & keilahian> Naluri

sikap vitalis sesungguhnya merupakan sifat alamiah setiap makhluk hidup. Dengan naluri tersebut kita hadir eksis dalam kehidupan ini.

manusia walaupun memang memiliki potensi untuk menjadi baik dan maju memberdayakan diri menuju kemuliaaannya namun cenderung menjadi liar terperdayakan oleh egonya sendiri.

(1) kepolosan kodrati alamiah

(2) pengaruh lingkungan pembentuk

(3) potensi kesadaran ilahiah kundalini

M.Peck

3. kearifan terhadap : skeptisme /empirisme :

Skeptisme =

Manas Rasionalisme ; Empirisme – Positivisme = Atheisme - Agnostisme pemikiran sikap skeptis

(1)keengganan naluriah vitalisme

Vitalisme kebebasan atheisme

(2)reaksi terhadap kekasaran fanatisme

Sikap trium falisme (merasa dan terlalu membanggakan d pertikaian kesal agnostisme

(3) pengamatan empiris /pemahaman positivis

comte : positivist meditasi intuitif >argumen intelek (ehipasiko)

Theodice ® Kesadaran Robbani

3) Masalah Theosofi:


Istilah Theosofi berarti mencintai Tuhan ® kerancuan

3) Masalah Theosofi: kemustahilan mencintai Tuhan ?

Istilah Theosofi sesungguhnya juga bukanlah merupakan istilah yang tepat. Theosofi – berdasarkan – berdasarkan etimologi kata – berarti mencintai Tuhan . Tuhan mewujudkan keberadaan makhlukNya

Sesungguhnya Tuhan dan DharmaNya tidaklah begitu lemah sehingga sangat memerlukan segala bantuan kekuatan kita. Tuhan tetaplah menjadi Tuhan Penguasa Mutlak yang Nyata dan KehendakNya merupakan Dharma Kebenaran yang tetap berlaku di seluruh alam semesta ini walaupun jika seluruh makhluk menyangkal kebenaran dan tidak mengakui kenyataan tersebut.

®kebijakan apologia diantara ragam kenyataan


1. Bagaimana kita bisa mencintai Dzat yang tidak tampak ?

2. Bagaimana kita bisa mencintai Dzat yang membiarkan adanya penderitaan dan kezaliman ?

3. faktitas ananiyah/nafsiyah : keterbatasan alamiah individualitas :

®kebijakan apologia diantara ragam kenyataan

1. kegaiban Tuhan ;

keterbatasan alamiah individualitas :

Bagaimana kita bisa mencintai Dzat yang tidak tampak ?

Karena kesempurnaan wajahNya dan keterbatasan indra dia tidak terjangkau. Dalam realisasi keberadaan mandala yang lebih dalam Cahaya keberadaanNya akan semakin jelas. Kecenderungan ananiyah keakuan semakin menghalangi dan kecenderungan nafsiyah kemauan semakin memalingkan diri kita dari pengenal ini.

Kegaiban adalah kebijakan Tuhan

2. penderitaan/kezaliman ;

Tentang faktitas alamiah : penderitaan :

Bagaimana kita bisa mencintai Dzat yang membiarkan adanya penderitaan dalam kehidupan ?

Kehilangan ; Religiusitas

Penderitaan adalah kebijakan Tuhan

tentang fenomena insaniah : kezaliman

Bagaimana kita bisa mencintai Dzat yang membiarkan adanya penderitaan dalam kehidupan ?

Kezaliman adalah kebijakan Tuhan

3. ananiyah/nafsiyah :

keterbatasan alamiah individualitas :

Bagaimana kita bisa mencintai Dzat yang tidak tampak ?

Karena keakuam

epilog : keimanan ?


Kemantapan persepsi : ketentuan awal > kepastian final → aktualisasi penempuhan & realisasi pembuktian

epilog : keimanan ?
Kemantapn menerima pandangan lain secar arif Walaupun demikian diperlukan Kemantapn menerima pandangan lain secar arif

ketentuan awal > kepastian final → aktualisasi penempuhan & realisasi pembuktian
3) EXODUS = kesadaran penempuhan (Ks):
prolog: anjing dan serigala

prolog: anjing dan serigala

Spiritualitas tidak hanya untuk dibicarakan atau diketahui saja namun terutama harus dilaksanakan.

/ Baca dulu keseluruhan buku ini ® tentukan keputusan mandiri /
1.pengetahuan :® batas intelektual; & 2. pembicaraan :® batas kebahasaan ;
3. aktualisasi penempuhan (mazhab menjadi : kegairahan holistic) & 4. realisasi pembuktian : hipotesa (mazhab pembukti : keberanian heuretik)
Langkah Penempuhan : kathani – karani – rahni : (Pariyati, Patipathi–Pativedha) ; Penyimak,Truth Seeker,Satguru Pemandu, Sekha penyeru.(x layak ® perlu)
prolog: anjing dan serigala
Fabel : anjing dan serigala® pembahasan pengetahuan ataupun pembicaraan ® aktualisasi penempuhan & realisasi pembuktian
Fabel : anjing dan serigala ® pembahasan pengetahuan ataupun pembicaraan ® aktualisasi penempuhan & realisasi pembuktian
(pengetahuan ,pembicaraan ® aktualisasi penempuhan & realisasi pembuktian )
Siagakan ekstasis transformasi pemberdayaan diri tidak hanya untuk kesejahteraan dalam peran kehidupan saat ini tetapi terutama bagi keberlanjutan untuk penempuhan keabadian seterusnya.
tidak sekedar pembahasan pengetahuan ataupun pembicaraan ® aktualisasi penempuhan (keberanian heuretik&kegairahan holistic) & realisasi pembuktian : baca dulu hipotesa

Spiritualitas bukanlah sesuatu yang hanya cukup dibicarakan tetapi yang utama haruslah dijalankan

Pengkajian dan pembicaraan tentang spiritualitas mungkin memang sangat mengasyikkan kesenangan emosional dan mungkin juga akan melambungkan kebanggaan intelektual akan tingkat pemahaman spiriualitas kita . Namun demikian hendaklah kita sadari Tingkat Spiritualitas tidaklah ditentukan dengan seberapa jauh kita mampu memahami dan seberapa lihainya kita dalam mengungkapkannya dan tidak juga dari seberapa tinggi penghormatan atau ‘kedudukan steruktural’ yang diberikan orang lain kepada kita maupun dari anggapan terhadap diri kita sendiri tetapi sesunnguhnya ditentukan oleh seberapa dalam kita menghayati dan menyelami ,seberapa tekun kita menjalani dan melandaskan kehidupan kita padanya. Keimanan terhadap keberadaan,ketauhidan dan kesempurnaan Tuhan tidaklah hanya cukup untuk dikatakan tetapi juga haruslah diyakini dan dijalani dalam kehidupan sehari-hari.

Singkat kata,walaupun pengetahuan dan pembicaraan mengenai spiritualitas itu secara esensial diperlukan ; prioritas pelaksanaannya tetaplah haruslah diutamakan. Spiritualitas tidak hanya untuk dibicarakan atau diketahui saja namun terutama harus dilaksanakan.

Premis Hipotesis


ketepatan > kebenaran pandangan : Totalitas ; Utilitas ; Kontinuitas

Kriteria Paradigma :

Deepak chopra :

1) TOTALITAS = mencakup keseluruhan (W):


asumsi 1: Kesadaran sesungguhnya hanya ada satu Kebenaran yang dipandang secara berbeda dan menerima kebhinekaan tersebut sebagai kewajaran untuk dapat diterima dan disikapi secara arif .

® Hanya ada satu kebenaran yang sama®maqom pencapaian; basic paradigma; sudut pandang yang berbeda ;

® keseimbangan pandangan (ekstrem) & keberimbangan penempuhan (dualisme?)

1) TOTALITAS = mencakup keseluruhan (W)

→ Hanya ada satu kebenaran yang sama : keseimbangan pandangan (ekstrem) & keberimbangan penempuhan (dualisme?)

1) asumsi 1: Kesadaran sesungguhnya hanya ada satu Kebenaran yang dipandang secara berbeda dan menerima kebhinekaan tersebut sebagai kewajaran untuk dapat diterima dan disikapi secara arif .

- maqom pencapaian yang berlainan ;

- basic paradigma yang digunakan.

- sudut pandang yang berbeda ;

2) PRAGMATISME = membawa kemanfaatan (Ks)


asumsi 2 : orientasi penempuhan adalah transformasi pemberdayaan diri secara simultan individual dan universal dalam kehidupan dan keabadian secara berimbang & menyeluruh (Pragmatisme )

® kebermanfaatan tujuan® kegairahan tindakan ; Kejelasan tujuan ®ketepatan langkah;

→ Transformasi pemberdayaan simultan ( Realitas : wujud – kuasa – kasih ® input realisasi keabadian 3: swadika – talenta – visekha® asset refleksi kehidupan 3 : regista – persada regista – karisma bahagia )

2) PRAGMATISME = membawa kemanfaatan (Ks)

→ Transformasi pemberdayaan simultan (input realisasi keabadian 3 ; asset refleksi kehidupan 3)

2) asumsi 2 : orientasi penempuhan adalah transformasi pemberdayaan diri secara simultan individual dan universal dalam kehidupan dan keabadian. (Kejelasan tujuan pencapaian → ketepatan langkah pengusahaannya ); kebermanfaatan tujuan ® kegairahan tindakan) Pragmatisme = da

- kata kunci : memberdaya kan diri x memperdayakan diri

- kata kunci : individual & universal (sholih – muslih )

- kata kunci : kehidupan & keabadian (swadika Mahatma,talenta legenda,visekha ; persada regista, karisma legenda, bahagia ) ~ Realitas : wujud – kuasa – kasih

Immanesi keabadian : swadika – talenta – visekha

Refleksi kehidupan : regista – persada regista – karisma bahagia

® Input Keabadian :

swadika : 7 kemantapan mandala keberadaan =

talenta legenda: 7 intelgensia kecerdasan = EQ, IQ, PQ + ESQ ,

visekha : 7 garansi keberadaan lanjut = kelayakan mandala hisab bardo. → aktualisasi moralitas religius & integritas

®Asset Kehidupan :

bahagia berdaya : kebahagiaan ilahiyah dan keberdayaan alamiyah →

persada regista : kecukupan finansial dan kemapanan eksistensial →

karisma legenda: kerukunan simpatik dan kenyamanan holistik →

- kata kunci : berimbang & menyeluruh
3) KONSISTENSI = bersifat mantap (K)

asumsi3: menerima dan menjalani aktuliasasi hipotesa untuk merealisasikan ketuntasan transformatif realisasi maqom final kebenaran utama secara bertahap dan berkelanjutan secara tepat dan benar.
→ Berkelanjutan : ketuntasan & kelanjutan aktualisasi (kriteria hipotesa : ketepatan & kebijakan ; kriteria realisasai : kebenaran akhir (maqom final x ); kriteria kelanjutan : kebijakan
3) KONSISTENSI = bersifat mantap (K)
→ Berkelanjutan : ketuntasan transformatif & kelanjutan aktualisasi

3) asumsi 3 : menerima dan menjalani aktulisasi hipotesa untuk merealisasikan kebenaran untuk diyakini selanjutnya.

- kriteria hipotesa : ketepatan & kebijakan

- kriteria realisasai : kebenaran akhir (maqonm final x

- kriteria kelanjutan : kebijakan

epilog : anjing &sufi (mengatasi : ketidak-mengertian; ketidak-perdulian ; ketidak-berdayaan)

Fabel anjing & sufi
Vs penghalang : ketidak-mengertian (kebodohan,kesalahan); ketidak-perdulian (kemalasan, kemaksiatan ) ; ketidak- -mantapan diri (kebosanan,kekesalan: kecemasan irrasionalitas,Kekuasaan eksternal); ketidak-berdayaan (kerepotan,keterbatasan)

epilog : anjing &sufi
Fabel anjing & sufi
® (mengatasi : ketidak-mengertian; ketidak-perdulian ; ketidak-berdayaan)
® Penghalang : kebodohan , kemalasan; kebosanan, kecemasan ; kekuasaan (irrasionalitas : internal/external)

ketepatan > kebenaran pandangan

Penempuhan : kathani-karani-rahni : Penyimak, Truth Seeker, Satguru Pemandu, Sekha penyeru , (x layak ® perlu)

Epilog = Komitmen Penempuhan :


Komitmen Penempuhan : Pemanfaatan dan pembuktian kebermaknaan / keberdayaan kehidupan

Epilog = Kemantapan Penempuhan : sholat & shobar

Epilog : ketepatan > kebenaran ; keberimbangan & keseimbangan ; keseluruhan


BAB II.
REALISASI = Penempuhan

Prolog :


kesadaran realisasi → evolusi spiritualitas (transformasi sufisme & yogisme)

evolusi sadr spiritual X biologis tansadar (individual>kolektif) ;

Wujud Realisasi Immanent Meditasi; Kuasa Distansi Intensif Distansi ; Kasih Refleksi Authentik Adhikari

Prolog : kesadaran realisasi → evolusi spiritualitas (transformasi sufisme & yogisme)

evolusi sadr spiritual X biologis tansadar (individual>kolektif) ;

® moralitas kundalini (yogisme) : kesadaran diri, transformasi nafsani (sufisme)

Wujud : Meditasi (Wujud : realisasi penempuhan ; Kasih : kebhaktian ; Kuasa : kehandalan )

Kuasa : Distansi Intensif (Wujud : Sati Videha ; Kuasa : Yogi Tapasa ; Kasih : kecerahan moralitas )

Kasih : Refleksi Autentik (Wujud : kebenaran integritas Kasih : kecerahan moralitas Kuasa : ketepatan globalitas)

1) ADHIKARI : kelayakan moralitas (kasih)

prolog : kisah : orang baik ® Hakekat, Manfaat


prolog : kisah : orang baik ® kelayakan moralitas kisah ibrohim b adham ‘wadah belum bersih’

Hakekat : Aktualisasi autentik > Harmonisasi estetis > Manipulasi hipokrit;Hakekat.

moralitas spiritual vs estetika cultural = x arogansi publik ; defisiensi nafsi ; manipulasi publik

manfaat = transformasi swadika , aktualisasi visekha , harmonisasi bersama,

prolog : kisah : orang baik kelayakan moralitas ® kisah ibrohim b adham ‘wadah belum bersih’

® Hakekat & Manfaat :

Hakekat .: ® Aktualisasi autentik > Harmonisasi estetis > Manipulasi hipokrit

(moralitas spiritual vs estetika cultural ); x arogansi publik ; defisiensi nafsi ; manipulasi publik

manfaat = transformasi swadika , aktualisasi visekha , harmonisasi bersama,

1) Kebenaran Integritas (w) = kejujuran : pemuda & gembala.


Kisah kejujuran : pemuda & gembala.

Brahma Cariya: Hidup dalam Tuhan adalah hidup dalam kebenaran > selibat

® kebenaran :keikhsanan ma’rifatullaah+ ketakziman mahabatullah® keikhlashan ibadah muroqobatullah)

1) Kebenaran Integritas (w) = kejujuran : pemuda & gembala.

dan akan tiba saatnya dan sekarang suah tiba penyembah akan

kisah kejujuran : pemuda – anak gembala

Sebuah kisah tentang kejujujuran

Dikisahkan pada masa yang lalu hiduplah seorang pemuda – sebut saja si Fulan. Si Fulan sangat dikenal sebagai pemuda sombong yang suka berdusta dan membual. Disamping itu dia memiliki banyak sifat yang tidak baik ,seperti melacur,berjudi,menipu dan sebagainya.

Penggembala

landasan keimanan: Ikhsan Robbaniyah (ma’rifatullaah + mahabatullah® muroqobatullah) / Dharma Brahma Cariya® Hidup dalam Tuhan adalah hidup dalam kebenaran > selibat

landasan kearifan : Shobar Robbaniyah / kedhamma . Brahma Vihara ® sifat KeIlahian /kemuliaan theosofi agape lmetta bhavana

® kemurnian (ikhsan kemahabahan & ikhlash peribadahan)

: keikhlasan : kebenaran landasan amaliah : cara amaliyah(politisasi, harmonisasi, defisiensi,aktualisasai lillaah billah filalaah)/ visuddhi nishkarama

2) Kecerahan Moralitas (ks) = pertaubatan : alim & arif


kisah pertaubatan : raja vs orang filsuf moralis & arif robbani

Brahma Vihara : Mencintai kebenaran Tuhan

® kebajikan : Uswah sholih Pemberdayaan Individual + Qudwah mushlih keperdulian universal

2) Kecerahan Moralitas (ks) = pertaubatan : alim & arif

Berakhlaqlah dengan akhlaq (yang diridhoi) Allooh ® Kasih

kisah pertaubatan : raja vs orang filsuf moralis & arif robbani

Sebuah kisah tentang pertaubatan

Dikisahkan pada masa yang lalu raja zalim menghadapkan dua tawanan perang

Kecerahan Moralitas =

Pemberdayaan Individual = swadika, talenta, persada, visekha (akhlaqul karimah, amilush sholihah)

Pemberdayaan Universal = swadika, talenta, persada, visekha (akhlaqul karimah, amilush sholihah)

® keteladanan : sholih & mushlih

moralitas dasar : samma 8 Buddhisme

1. Kebhaktian dan keshalihan =KebhaktianManembah :

2. Keterarahan dan kesahajaan =samma 8 - prasojoSampajana Thaharah

3.Kesatriaan dan kesantunan =asthaiya - sila ; danaKesatriaanKesantunan

4. Keberdayaan dan kebahagiaan =keberdayaan & kebahagiaan : svadhaya - santouch

( Pemberdayaan Individual + keperdulian universal ® keteladanan : sholih & mushlih )

® keteladanan : sholih & mushlih

Pemberdayaan Individual = swadika, talenta, persada, visekha (akhlaqul karimah, amilush sholihah)

® kebajikan ( Pemberdayaan Individual + keperdulian universal )

3) Ketepatan Globalitas (k) = dilemma : Yudhistira


kisah dilemma : dusta Yudhisthira di Kurusetra

Brahma Satiya : Memperhatikan ketentuan Tuhan

® kebijakan ( prioritas kemanfaatan + faktitas keadaan + proporsionalitas ketepatan)

3) Ketepatan Globalitas (k) = dilemma : Yudhistira

kisah dilemma : dusta Yudhisthira di Kurusetra

Sebuah kisah tentang pertaubatan

Dikisahkan pada masa yang lalu raja zalim menghadapkan dua tawanan perang

® kebijakan ( prioritas kemanfaatan + faktitas keterbatasan )

mengatakan kebenaran membanggakan diri,mencela usaha,mengungkap rahasia,pertimbangan lain menyuarakan kebenaran - dengan kelembutan, ketepatan,ketulusan,keteladanan

Keterbatasan internal : sumber daya (waktu & daya)

Keterbatasan External : dimensi ruang & waktu

® kebijaksanaan : proporsional : ketepatan sasaran ( satya sila - metta dana ):ketepatan tindakan

metta dana : sifat kasih naif, beri bantuan-dana,jala,dana

epilog : kisah : karani ®Bina nafsa


Bina nafsa : Integritas Transformasi Membina Moralitas karakter = authentik reseptif ;

® pembiasaan watak : Metode (takholi ,tahalli , tajalli ) & Kaidah (satu mantap,yang lain menyusul):

epilog : kisah : karani ®Bina nafsa : takholi ,tahalli , tajalli ® Metode & Kaidah :

Integritas Karakter Membina Moralitas : watak – pembiasaan

® Transformasi karakter = authentik reseptif ; takhali-tahali, keberanian [xgentar,berani,satria]

2) DISTANSI = kesiagaan transformatif (kuasa)

prolog : Psikosomasi Esoteris


Psikologi Esoterik : Totalitas dimensi paralel Diri :, duniawi peran/kesejatian diri (jiwa x fikiran xtubuh)

® Harmonisasi diri : Ummi ® integrasi reseptif

® Integritas diri : Sati ® aktualisasi harmonis

® Transformasi diri : Yogi ®

prolog : Psikosomasi Esoteris ® harmonisasi holistik, aktualisasi integral , integrasi reseptif

kemantapan power ® kearifan integritas transformasi neurotisme & kekuatan totalitas psikosomasi diri

Asumsi ® psikomasi holistic ; Solusi → Psikologi Esoterik

Totalitas Diri : dimensi paralel , duniawi peran/kesejatian diri,jiwaxfikiran,fikiranxtubuh ® Integritas diri harmonisasi energi

Transformasi Diri : Neurotisme

1) UMMI → keaslian adhikari (ks) :


® keaslian adhikari (ks) : Ummi : ketulusan x kecerdasan

1. muhasabah pertobatan : tawaddhu’

2 .mujahadah perbaikan : Nasuha

3. muroqobah pendekatan : Ibadah

1) UMMI →keaslian adhikari (ks) :

kemantapan adhikari (ks) : kesucian & kebaikan ®kehandalan Transformasi kekuatan diri Distansi Santhara Yogi Tapasa:

= peningkatan kecakapan swadika semesta (laku-tapasya - santhara)dari ketergantungan-kemekekatan-keberdayaan+Kesiapan:perubahan kesadaran,lapisan jiwa holistik

= Ummi : ketulusan x kecerdasan

muhasabah pertobatan ; mujahadah perbaikan ; muroqobah pendekatan

- muhasabah pertobatan ;

- mujahadah perbaikan ;

- muroqobah pendekatan

2) SATI → kearifan nivritti (w) :


® kemantapan nivritti (w) : Sati Videha ® kearifan penyadaran & kebaikan pengarahan

1. Resertivitas harmonisasi = penyadaran diri mensikapi /menanggapi (Reseptif x raeaktif)

2. Asertivitas aktualisasai = pengarahan diri bertindak (proaktif terarah x impulsive neurotik )

3. Integritas : pemantapan diri

2) SATI → kearifan nivritti (w) :

kemantapan nivritti (w) : Sati Videha ® kearifan penyadaran & kebaikan pengarahan

reseptivitas penyadaran ; aktualitas pengarahan ; integritas pemantapan

kemantapan Refleksi kearifan nivritti holistic Sati Videha :

integritas penyadaran universal nivritti dan aktualisasi pengarahan holistic diri. :+ penyadaran lapisan-harmonisasi energi-kesadaran kekinian-aktualisasi tindakan

integritas penyadaran universal nivritti dan aktualisasi pengarahan holistic diri. :+ penyadaran lapisan-harmonisasi energi-kesadaran kekinian-aktualisasi tindakan

Dalam menjalani disiplin spiritual hendaklah senantiasa diperhatikan totalitas psikomasi diri.

Prinsip holistik tersebut perlu dijaga agar tidak hanyut oleh arus alienasi diri yang mungkin saja akan terjadi.

Disiplin Integral :pencerahan (nivritti holistik : nivritti holistik melampaui dan mengatasi diri x nihilisasi ‘absurd’/pravritti ‘semu’)

orang yang kehilangan ego akan

Nivritti holistik adalah sistem disiplin esoteris yang digunakan para penempuh untuk dapat melampaui tingkat kesadaran individualitas dirinya sendiri(ego) yang sempit menuju tahap kesadaran universalitas diri (Esa) yang lebih luas.. Melalui metode ini seorang penmpuh akan mampu mensikapi dan menjalani kehidupan dengan kesadaran yang lebih obyektif,realistis dan teraktualisasi sesuai dengan Reallitas kenyataaan yang sesungguhnya dan tidak lagi berada dalam tingkat pemahaman yang subyektif,romantis dan terdefisiensi oleh keinginan dan kepentingan egonya belaka. .

Pada bab ini kami membatasi Nivritti dalam kerangka pemahaman positif sebagai usaha universalisasi perluasan kesadaran dengan tetap memperhatikan keseimbangan holistik diri Nivritti positif kami kira lebih mudah dan lebih tepat untuk dijalankan daripada nivritti negatif. Lagipula dengan cara ini penempuh spiritualitas akan terlindungi dari resiko nihilisasi diri yanmg ekstrem dan bahkan deifikasi diri yang absurd yang mungkin akan dialami para penempuh

Sati vivekha ditujukan untuk mengembangkan integritas penyadaran dan aktualitas pengarahan diri. Dengan demikian akan timbul kondisi mental yang reseptif dan tidak terlalu reaktif dalam mengamati dan mensikapi knyataan. Disertai aktualisasi moralitas diri yang terjaga dari kepicikan dan kelicikan ego dan senantiasa berada dalam kesadaran dan ketulusan.

Kearifan: pravritti/nivritti; konsep(anatta shandha-atman vivekha-fana al baqa)

pengembangan kesadaran Holistik Nivriti: (sati sampajjana - vivekha vairaga)

- Resertivitas harmonisasi = penyadaran diri mensikapi /menanggapi ® (harmonisasi kesadaran) (Reseptif x raeaktif) : netralisasi , vs irassionalisasi

- Asertivitas aktualisasai = pengarahan diri bertindak ® aktualisasi tindakan (proaktif terarah x impulsive neurotik ) : refleksi meditataif , sholat daim

+ Integritas : pemantapan diri

- reseptivitas penyadaran ;

- aktualitas pengarahan ;

- integritas pemantapan

3) YOGI →kekuatan distansi (k) : Yogi Tapasa/Yogi Muzahid


® kehandalan distansi (k) :Yogi Tapasa ® keuletan swadika eksternal & kekuatan keberdayaan internal

1. keswadikaaan eksternal : ketidak melekatan, ketidak bergantungan , ketidak kecanduan :

2. keperkasaan universal : mengatasi ketidak berdayaan :

3. kewasesaan integral : keawasan. Kewaspadaan :

3) YOGI →kekuatan distansi (k) :

kehandalan distansi (k) :Yogi Tapasa ® keuletan swadika eksternal & kekuatan keberdayaan internal

keswadikaan eksternal ; keberdayaan internal ; keperkasaaan universal

kehandalan Transformasi kekuatan diri Distansi Santhara Yogi Tapasa:

= peningkatan kecakapan swadika semesta (laku-tapasya - santhara)dari ketergantungan-kemekekatan-keberdayaan+Kesiapan:perubahan kesadaran,lapisan jiwa holistik

= peningkatan kecakapan swadika semesta (laku-tapasya - santhara)dari ketergantungan-kemekekatan-keberdayaan+Kesiapan:perubahan kesadaran,lapisan jiwa holistic

Distansi Yogi Tapasa : mengsawdikakan diri dari ketergantungan/kemelekatan eksternal dan memperkasakan universalitas diri.

Yogi vairaga ditujukan untuk meningkatkan vitalitas kemantapan dan kehandalan diri. Dengan melalui disiplin distansi yang berimbang bukan sistem asketis diharapkan diri mampu mengurangi tingkat ketergantungan dan kemelekatan dan kecanduan pada obyek eksternal tertentu.

Yogi tapasya

Sufi muzahid

peningkatan kecakapan swadika semesta (laku - tapasya - santhara)

Kesiapan:perubahan kesadaran~fisik;olah rasa,lapisan jiwa ;olah tapa,raga holistik

- keswadikaaan eksternal : ketidak melekatan, ketidak bergantungan , ketidak kecanduan :

- keperkasaan universal : mengatasi ketidak berdayaan :

+ kewasesaan integral : keawasan. Kewaspadaan :

- keswadikaaan eksternal : ketidak melekatan, ketidak bergantungan , ketidak kecanduan :

- keperkasaan universal : mengatasi ketidak berdayaan :

+ kewasesaan integral : keawasan. Kewaspadaan :

- keswadikaan eksternal ;

- keberdayaan internal ;

- keperkasaaan universal

epilog : antenna karunia


® kesucian ummi : ® sepon reseptif cahaya keIlahian

® kearifan sati : ® sakshin

® kekuatan yogi : ® siaga voltage

epilog : antenna karunia ® reseptivitas, sugestivitas,

Katarsis autentik neurotisme ; Disiplin meditative neurotisme kemanusiaan -hipokrisi kebersamaan ® dynamics catharsis -individu autentik; visuddhi authentic wadah bersih murni batin
3) MEDITASI = kerahnian Immanensi (wujud)

prolog : Hakekat Meditasi

Kisah meditator

Hakekat Meditasi : sebagai metasains mistisme religi

® bertentangankah dengan sains dan agama ?

® Jung Individuasi ® Immanensi / transendensi ? : illuminasi >revilasi – inspirasi

1. Pengetahuan Esoterik tentang kematian dan kegaiban

kematian : pandangan ® mensikapi kematian secara realistis & menguasainya dalam meditasi

kegaiban :wilayah,makhluk,kuasa gaib®mensikapi kegaiban secara realistis & mengatasinya pada meditasi

2. Pengertian Esoterik tentang kaidah dan metode meditasi :

kondisi meditatif : sabai-alpha

Aneka metode : asana.obyek (wuwei & zazen )

prolog : Hakekat Meditasi (Jung Individuasi ® Immanensi/transendensi ? : illuminasi >revilasi - inspirasi)

Kisah meditator

Menmahami meditasi : metasains- mistisme religi ;

Pandangan seputar meditasi : bertentangankah dengan sains dan agama ;

Kematian & Kegaiban :

Pandangan tentang kematian : dari sains , budaya , agama : mistik :

Pengalaman seputar kematian : kisah lazarus - mati suri - penyelaman meditative)

mensikapi kematian : -secara realistis -terhadap kematia)

kegaiban :

Makhluk gaib :- malaikat dan dewa :

Kuasa gaib : Mu’jijat dan kesaktian ::

Menjalani meditasi : pengertian ; referensi literarur ; kesadaran meditative ;

Menjalani meditasi -metode: asana.obyek; kondisi meditatif :sabai,alpha, Orientasi Meditasi menembus kesejatian>mencapai keilahian



1) kemantapan dasar (w) : Referensi Meditasi


Ragam Bhavana : Anubodha & Pativedha (lokiya bhavana & turiya bhavana )

Aneka Lokiya Bhavana : kemantapan metafisik ; -MAGISME : -YOGISME :-TAOISME

® Pelatihan : kontemplasi & visualisasi ; konsentrasi & integrasi.

- penguatan : Hatha Taois ; Prana Reiki

- percobaan : kepekaan intuitif ; experiment osho

Aneka Turiya Bhavana : BUDDHISME ; MISTISME ;

® peracutan : proyeksi racut ; meditasi bardo

- penguasaan : jhana vasi samatha / panna nana Vipassana ;

- pelintasan : 7 dimensi Osho ; Radha Soami

Dalam penempuhan & pencapaian = vs ghurur (arogansi spiritual); jadzab (fikiran obsesif)

Lokiya Bhavana : kemantapan metafisik ; -MAGISME : -YOGISME :-TAOISME

- Pemantapan : kontemplasi & visualisasi ; konsentrasi & integrasi.

- Penguatan : Hatha Taois ; Prana Reiki ; iddhipada ; experiment osho

Turiya Bhavana : jhana,racut (keterbukaan x kepercayaan ® anubodha x keterjagaan ® blocking alpha )

- Penguasaan : Penyadaran jhana vasi samatha / panna nana Vipassana ;experiment osho , penguasaan proyeksi racut ; meditasi bardo

Dalam pencapaian : & penempuhan :GHURUR kedewasaan pencerahan & JADZAB penyadaran totalitas diri

ghurur : arogansi spiritual,

kebanggaan merasa sudah berada pada maqom tinggi walau sesungguhnya masih rendah . Sesungguhnya jika maqom memang sudah tinggi sifat merendah pasti akan semakin intensif. Pada puncaknya justru sikap kerendahan hati yang sadar dan tulus secara autentik haqqul yaqin akan terwujud dengan sendirinya.

Contoh : Obhasa dianggap Union Mystica ;

jadzab : fikiran obsesif

Orang yang menjalani spiritualitas sering digambarkan sebagai orang yang sangat serius dan tegang dengan sistem energi yang begitu ketat dikarenakan desakan ketegangan oleh obsesi terhadap pencapaian spiritualitasnya, tekanan kewajiban disiplin yang harus dijalankannya . Menjadi penyendiri dan seakan tak perduli dengan keberadaan lingkungan sekittarnya. Begitu keras dan sinis caranya mensikapi segala fenomena kenyataan dunia ini. Begitu gelap dan kelam nyaris tanpa kecerahan dan keceiaan yang terpancar dari dirinya. Kenyataan yang sungguh ironis jika kita kaitkan dengan hakekat spiritualitas yang seharusnya justru membebaskan kita dari kegelapan dan membawa kita dalam kebenaran sehingga akan membawa kita dalam keselamatan dan kebahagiaan. Saya pernah mengalaminya dan tidak akan menyangkal bahwa kejadian tersebut cenderung akan dialami oleh para pemula yang begitu antusias dan terobsesi pada spiritualitas yang ditempuhnya.

® Prinsip Kebenaran pencerahan & :Pencerahan spiritual dan kedewasaan psikologis

- wuwei & zazen : WUWEI integrative & ZAZEN utilitarian ® Keseimbangan integritas dan keberimbangan aktualitas

- wuwei & zazen : Keseimbangan integritas dan keberimbangan aktualitas

WUWEI integrative : passive

Khrisnamurti tanpa metode hanya totalitas kesadaran pasrah menerima keberadaan

ZAZEN utilitarian : active

Typical aktualisasi pembumian perlu konsentrasi utilitarian

Realisasi diusahakan zazen methode hingga akhirnya tiba saat wuwei utilitarian.

Hanya Zazen ? mandeg immanensi sebatas individual ; Hanya Wuwei ? hanya satori kilasan pencerahan

3) kemantapan lanjut (ks): kesadaran transenden


® Analisis pencapaian : perbedaan & kesesatan

pensikapan : kesaktian metafisik ( to product / by product : macam ® sikap ): vs magisme ; kerahnian spiritual (puncak immanensi; realisasi transendensi ?) vs monisme pantheistic; vs ladunni avatara

® Analisis Kebijakan Spiritualitas Religius = Agama (Syariat-Thariqat-Haqeqat-Ma’rifat ) = Hindu & Buddha; Tao & Zoroaster; Yahudi :& Kristen :& Islam ; Mistisme (Sufisme & Yogisme) + Filosofis

Pasca Pencapaian :

- perbedaan & kesesatan : analisa pencapaian (kesaktian & keilahian) & pensikapan

- perbedaan & kesesatan : analisa pencapaian (kesaktian & keilahian) & pensikapan

kesaktian metafisik :

Kesaktian metafisik macam : sikap :

Kesaktian tidaklah menunjukkan ketinggian spiritualitas .

Kesaktian to product : dituju ; dilalui dengan : kekuatan sendiri atau bantuan makhluk eteris / astral.

Kesaktian by product : keniscayaan realisasi meditasi penembusan dimensi ; distansi penempaan bahkan kemurnian adhikari moralitas.

Pemanfaatan dan penghindaran :

Pemanfaatan karena kepicikan ; karena kefasikan perampok ; karena kelicikan perampok

Penghindaran karena kemurnian, kelanjutan

Pemanfaatan

kerahnian spiritual :

Batas akhir realisasi pencapaian adalah pada puncak immanensi ; mungkinkah realisasi transendensi dengan persatuan keilahian ?

Mungkin ini bukan kebenaran tetapi saya tetap konsisten dengan pandangan semula sehingga adalah ketepatan

Nihilsme Buddha ?

Transendensi mistik ?

Jika saya membenarkan itu semua, maka saya juga membenarkan :

1)rasionalisasi pembunuhan

Kenapa harus dibunuh

2) rasionalisasi pendustaan

3) rasionalisasi pembatasan transendensi Tuhan hanya dan kedudukan Tuhan ternyata bisa setara

4) rasionalisasi perayaan

5)

Dengan catatan jika yang dimaksud Tuhan adalah Dzat Mutlak yang tidak hanya immanen pertingkatan mandala atau per indiividu samsara (monisme pantheistics) namun juga transenden (monotheistic robbaniyah) maka kriteria ideal nya bagi persatuan adalah kesetaraan dengan wujud, kuasa dan kasih Tuhan. Suatu hal yang mustahil karena ; namun jika diartikan sebagai suatu ke

1. Kasih : realisasi kebenaran kasih ® berakhlaq dengan (akhlaq yang dirihoi) Allaah (walau sulit namun dapat); jika keberdayaan panna ladunni sungguh paripurna tanpa cela kesalahan maupun noda kelalaian selama hidupnya . Tidak sekedar dimaafkan atau dibenarkan saja, (figur ideal para perintis Nabiyullaah : )

2. Kuasa : realisasi kekuatan kuasa ® kuasa metafisik immanent dari realisasi spiritual (walau nyaris mungkin tapi mustahil); jika keberdayaan karomah nana sungguh paripurna tanpa kelemahan penuh kekuasaan . Tidak sekedar dimaafkan , (figur ideal para perintis Nabiyullaah : )

3. Wujud : realisasi kesatuan wujud ® diri mewujud sebagai Tuhan ( mustahil dan tidak mungkin ) ® Keilahiahan satguru ?

Dengan kriteria ideal tersebut cukup gilakah kita untuk menyamakan diri dengan Tuhan ?

Dengan catatan

Dengan kriteria ideal tersebut cukup gilakah kita untuk menyamakan diri dengan Tuhan ?

kisah tragis-ulasan , hakekat pencerahan

Kebijakan pensikapan atas Pencerahan =

Kejatuhan Al Halaj :

Tajalli Tuhan atas gunung adalah kesirnaan

Al Halaj sesungguhnya adalah seorang spiritualis religius yang baik. Dan mungkin karena keautentikan peribadahan dan penempuhannya,Kebenaran tampaknya menganggap layak untuk mengaruniainya kesempatan pengalaman ekstasis.

Dalam ekstasis peniadaan kefanaan keakuan dirinya,kebaqoan yang Esa melingkupnya dalam lautan ekstasis. Pengalaman ekstasis yang dahsyat itu menjawab tuntas kerinduan spiritualnya ; Dia merasakan kesatuannya dengan yang dicintai, Al Haq, Tuhan. Yang kemudian diungkapkannya sebagai “annal haq” (akulah kebenaran).

Sejumlah Sufi Pantheistik dan para Yogi monistik memandang pencapaian maqom kebaqoan aku setelah kefanaan aku ini sebagai maqom yang paling tinggi, namun tepatkah pandangan dan pernyataan annal haq tersebut ? Se

1. bukan pandangan benar karena jika memang ada Tajali peleburan Tuhan pada makhlukNya maka seharusnya tidak hanya kesadaran namun seluruh keberadaan makhluk tersebut pastilah sirna bagaikan hancurnya gunung karena tajali Tuhan padanya

2. bukan ungkapan yang tepat karena sesungguhnya Laten deitas keilahiahan Tuhanlah yang melingkup makhluknya; bukan sebaliknya. Cahaya Tuhan mungkin hanya mampu . Namun secara keseluruhan

3. bukan ungkapan yang bijak karena kalupun itu dibenarkan juga sebagai hysteria union-mystica yang terjadi pada realisasi ekstasis saja

Tampaknya pandangan Al Halaj kemudian menganggap ; di hukum mati.

Kebijakan Buddha :

“Yang mencapainya akan diam ; yang berbicara sesungguhnya tidak memahami apa-apa”.

Buddha tidak menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan kepdanya tentang pencerahan kebuddhaan , “siapakah yang mencapai nibbana ?”.

Tidak menjawab adalah jawaban yang tepat. Karena seandainya dia menjawab , “aku” maka itu adalah jawaban salah. Dia berdusta karena dalam nibbana pencerahan kesadaran ‘aku’ sesungguhnya sudah tidak ada lagi.). Dan seandainya dia menjawab : “ bukan aku” – dia pun menyangkal pencerahan kebuddhaannya sendiri. Hanya dengan keannata-an “tanpa aku” lah dia mencapai pencerahan Zazen Kesadaran aku sudah terlampaui sebelumya bahkan sejak terlampauinya kristalisasi ego pada dimensi kesadran individual. Dalam wuwei keesaan pada dimensi universal tidak ada lagi ‘aku’. Dalam keesaan,keakuan dipandang sebagai ‘anatta’ (keakuan yang semu dan tanpa inti) :Annata adalah pendekatan rasionalitas kebahasaan negatif dalam sudut pandang keimmanentan mandala. Dan Buddha terlalu bijak untuk tetap bersikap autentik dengan tidak jatuh pada ‘keakua’an yang semu tersebut.

Realitas Kenyataan adalah hal yang pelik untuk dijabarkan dan demikian juga Nibbana Pencerahan adalah hal yang sulit untuk dijelaskan . “Yang telah mencapainya akan diam; yang berbicara sesungguhnya tidak memahami apa-apa”. Kebenaran Realitas sesungguhnya bersifat trans-rasional bahkan transcendental sehingga segala formulasi konsep pandangan apalagi rhetorika kebahasaan yang digunakan sebagai media pengungkapan tidaklah cukup mampu untuk merengkuh kejelasan seluruh kebenaran yang hanya bisa dihayati dan dicapai melalui penempuhan realisasi yang autentik hingga mencapai puncaknya ini. Karena begitu rumitnya permasalahan ini untuk difahami lingkungan awam, adalah bisa dimaklumi jika kemudian dia secara bijak membentuk koloni kebhiksuan sebagai wahana pembabaran Dharmanya. Dalam koloni yang terbatas dan terpandu itulah ma’rifat kebenaran, hakekat kenyataan dan tarekat penempuhan Dharma dibabarkan. Sedangkan untuk kaum awam dia hanya menyampaikan ‘syari’at’ praktis demi harmonisasi kebersamaan dan transformasi kesiapan diri untuk Panna kebijaksanaan berikutnya melalui pemantapan awal Sila moralitas dan pelatihan dasar Samadhi Secara keseluruhan adakah makhluk yang setara dengan Tuhan ?

Kebijakan pensikapan atas Pembumian =

® Analisis Kebijakan Spiritualitas Religius :

Syariat sebagai landasan eksoterk Agama ;

Mistisme India :

1. Hindu :

2. Buddha :

Faham Harmonium dualitas :

1. Tao :

2. Zoroaster : api ?

Religi Mediteran :

1.Yahudi : Musa (ikhnaton – Mesir)

2. Kristen : Isa ( Yogi India ? tradisi mistik Esena yang kemungkinan berkaitan dengan tradisi mistik Israel Caballa ? )

3. Islam : Muhammad (revilasi pewahyuan -) / illuminasi (mi’raj)

® Analisis Kebijakan Spiritualitas Mistisme :

1. Sufisme :

2. Yogisme :

® Analisis Kebijakan Spiritualitas Filosofis :

Kebijakan

Ketepatan :

epilog : kemantapan pencerahan →kedewasaan Robbaniyah.


Mensikapi meditasi = kelanjutan moralitas yang transrasional; Perlunya realisasi jika hasil akhir bisa kita fahami ; ketepatan robbaniyah (holistic religius – integral pembumi) dalam kewajaran dan kesadaran

Mensikapi realisasi ®

+ kelanjutan moralitas yang transrasional

dan menjalani meditasi ®

Perlukah realisasi jika hasil akhir bisa kita fahami ?

1. pada hakekatnya meditasi bermakna luas

2. realisasi memungkinkan ekstensi yang lebih tinggi (pencerahan melampaui samsara ; surga yang lebih tinggi)

3. realisasi memungkinkan tingkat kecerdasan/kebijaksanaan lebih tinggi (panna/ laduni) : pemurniaan batin dari akar karmaik

4. realisasi memungkinkan kesiagaan sakaratul maut (

5. realisasi memungkin kebaikan tersirat dalam penempuhannya

- kebijakan & ketepatan : kebijakan (kebebasan ?) ® ketepatan (holistic religius – integral pembumi)

- kebijakan & ketepatan : kebijakan (kebebasan ?) ® ketepatan (holistic religius – integral pembumi)

mensikapi ekstasis = mensikapi hasil meditasi

Epilog = Kewajaran Eksistensi


→ Aktualisasi totalitas : harmoni ; refleksi ; sinergi =

Realisasi hanyalah awal bukan akhir; pribadi robbani,‘uebermensch’ spiritual

dhamma dutta faber mundi viator mundi rahmat dan berkah yang memberdayakan dan membahagiakan

Vs Jung individuasi ? Vs Osho : celebrasi permainan x rakit moralitas ; Vs Pearls : keneurotisme autentik ?

Vs ‘Nietzche” uebermensch’

epilog : Kembali membumi (kemantapan pencerahan →kedewasaan Robbaniyah)

Epilog = solusi kedewasaan pembumian vs ‘uebermensch’ Nietzche

® Realisasi pencerahan Individuasi yang dilanjutkan hingga Realisasi pencerahan immanensi hanyalah awal bukan akhir penempuhan. Input dari Ekstasis bukanlah suatu perayaan yang membebaskan kesadaran diri dari rakit estetika moralitas adhikari pada kaidah kasih dari system metode spiritualitas dan religiusitas namun justru memantapkannya menjadi sangat berkualitas dalam panna kebijaksanaan robbaniyah yang sangat cerah sebagai keniscayaan luapan kasih ilahiyah yang terserap selama realisasi ekstasis tersebut. Akhir dari realisasi adalah terbentuknya pribadi robbani, ‘uebermensch’ spiritual yang tidak secara naïf menafikan atau mematikan Tuhan karena arogansi kebodohan akan pemahamannya ~ tetapi justru secara arif menyandarkan keterbatasan dirinya dalam kesempurnaan Tuhan karena pencerahan kesadaran realitasnya; yang tidak mengumbar keliaran nafsnya dalam vitalitas neurotik wild wisdom dengan menggunakan kebuasan rasionalisasi pembenaran logika kekuatan ~ tetapi justru mengaktualisasikan secara holistik integritas kebaikan Dharma kasih dengan menggunakan metalogika kebenaran transrasional panna kebijaksanaan Robbaniyah.. Realisasi pencerahan adalah perkembangan kedewasaan berkelanjutan bagi keberadaannya sebagai dhamma dutta yang secara arif berintegritas dan secara baik mengaktualitaskan keterkaitan dan Keperdulian pemberdayaan individualitas dirinya dan juga lingkungan universalnya sebagai faber mundi (‘pencipta dunia’) walau tanpa kepamrihan dan tiada kemelekatan. sebagai viator mundi (‘penziarah dunia’). Sehingga keberadaannya tidak menjadikannya laknat dan musibah yang memperdayakan dan membahayakan bagi kehidupan individualnya sendiri maupun lingkungan universalnya; tetapi menjadi rahmat dan berkah yang memberdayakan dan membahagiakan bagi semesta kehidupan karena kebaikannya

holistic Dharma yang membawa rahmat bagi aktualisasi pembumian seluruh alam sebagai walau dan tiada kemelekatan.

Vs Jung : kedewasaan adalah jika seorang telah tuntas menjalani individuasi ?

Vs Osho : setelah pencerahan kehidupan adalah celebrasi permainan ; rakit moralitas tidak diperlukan lagi karena kesadaran sudah mencukupi ?

® Kehidupan menjadi celebrasi kasih ~ sebagai keniscayaan dari pencerahan immanensi.: refleksi pemuliaan dharma ~ ; moralitas lebih berkualitas karena kesadaran robbaniyah ®

Vs Pearls : kedewasaan adalah suatu sikap autentik ?

® Tidak hanya autentik tetapi holistic . Bukan refleksi yang naïf dan liar tetapi refleksi yang arif dan baik karena senantiasa berintegritas pada Dharma tidak sekedar vitalitas neurotik nafs.

Vs ‘Nietzche ; jadilah ” uebermensch’ dalam vitalitas wild wisdom yang menggunakan logika kekuatan , menjadi Tuhan yang telah mati ?

® Jadilah uebermensch spiritual yang tidak mengingkari keIlahiyahan ; memfanakan diri dan membaqokan Tuhan dan mengaktualisasikan integritas fine wisdom.

dalatheisme : realisasi kebenaran > keilahian.




BAB III.

REVITALISASI = Pembumian

Prolog : Sufi Pembumi


kisah seeker yang ditolak sufi pertapa dan belajar ke sufi pembumi

® Sufi Pembumi : Menyadari tanggung jawab eksistensialitas & universalitas

Prolog : Sufi Pembumi →Menyadari tanggung jawab eksistensialitas & universalitas

(MEMBUMIKAN DHARMA ) : kisah seeker yang ditolak sufi pertapa dan belajar ke sufi pembumi

Wujud : Eksistensialitas

Kuasa : Kehandalan Aktualisasi

Kasih : Harmonisasi

1) PERSPEKTIF = kecerahan pandangan


prolog : ketepatan pandangan ® kearifan mensikapi : Amati – Alami – Atasi

ketepatan pandangan = Totalitas holistic x ekstrem dualisme ; sanatana dharma x aranyaka dharma

kearifan tindakan: amati ® alami ® atasi (kesadaran Dhamma Bhumi ; Dhamma Sekha & Dhamma Dutta)

1) kecerahan Mahadharma (w) : Sanatana dharma – Bhinneka Dharma

satu sanatana Dharma pada bhineka dharma ® Satu Agama baru ? tidak perlu (kronologis agama)

2) kepastian Transformasi (ks) : pemberdayaan keabadian – pemberdayaan kehidupan

pemberdayaan individualitas ® pemisahan Dunia & Akherat ? total gestalt (atsar simultan)

3) kebijakan Aktualiser (k) : transformasi Individual – Transformasi universal

pemberdayaan universalitas ® tentang Reformasi + Globalisasi : transformasi (lingkungan kondusif )

epilog : kecerahan komitmen ® kebaikan menjalani : Dhamma Bhumi, Dhamma Sekha ; Dhamma Dutta

pembumian spiritualitas universal = pemberdayaan keabadian & kehidupan (individual-universal)
1) PERSPEKTIF = kecerahan pandangan

prolog : ketepatan pandangan

® kearifan mensikapi : Amati – Alami – Atasi

1) kecerahan Mahadharma (w) :

Sanatana dharma – Bhinneka Dharma

(satu Agama Dharma ?)

2) kepastian Transformasi (ks) :

pemberdayaan keabadian – pemberdayaan kehidupan

(Dunia & Akherat)

3) kebijakan Aktualiser (k) :

transformasi Individual – Transformasi universal

(Reformasi + Globalisasi)

epilog : kecerahan komitmen ® kebaikan menjalani : Dhamma Bhumi, Dhamma Sekha; Dhamma Dutta

MENSIKAPI dan MENGATASI KEBENARAN =

Prolog : Aktualisasi Eksistensial

Harmonisasi Kehidupan :

dualisme kehidupan yin-yang

1. diantara dualisme =

timur dan barat : timur dan barat tak akan pernah bersatu ?

pria dan wanita : jiwa spiritualis harus feminim ?

tua dan muda : spiritualitas hanya untuk orang tua ?

duniawi dan akherat

2; kewajaran pembumian :

Kehidupan duniawi dengan segala kompleksitas permasalahannya tidak tepat untuk menjalani Spiritualitas justru karena itu .

aranyaka bukan sanatana dharma® spiritualitas aktualiser yang berimbasng dan seimbang

spiritualitas tidak hanya ditujukan bagi keselamatan akherat tetapi juga membawa kesejahteraan bagi a

viator mundi dan fabr mundi dunia bukanlah ilusi dan tidaklah kotor : dunia bukanlah ilusi dan tidaklah kotor - politik spirituaslisasi politik x polisisasi spiritual

aktualiser =

muzzamil,berbenah,affirmasi

istiqomah,muhasabah

Universalitas Spiritual : kesadaran peran dan

Problematika Kehidupan : kebutuhan vital

Tujuan dalam kehidupan =

Apaun tujuan kita spiritualitas harus menjadi landasannya

1. kebahagiaan tujuan klise hedonis dan alamiah karena memnguntungkan kepentingan diri

2. kesuksesan

3 keberadaan

Memahami kebutuhan = Uang

1. kebutuhan dasar : kehidupan & kesehatan

2. kebutuhan emosi : kenyamanan & kesenangan / afeksi & respek

3. kebutuhan : kecukupan & kemapanan

4. kebutuhan : aktualisasi eksistensial & internalisasi spiritual

DHAMMA SEKHA : karani ® aktualisasi keseimbangan penempuhan

DHAMMA DUTTA : Rahni ® aktualisasi keberimbangan pencerahan

Epilog : kewajaran pembumian

Epilog : mengalir bersama

1) Mahadharma (w) :

2) Aktualiser (ks) :

3) Transformasi (k) :

ketepatan > kebenaran pandangan

Epilog : kholifatullooh ® Menghargai kehidupan manusiawi & duniawi


Kholifatullooh :

® Menghargai kehidupan manusiawi & duniawi

Epilog : kholifatullooh

® Menghargai kehidupan manusiawi & duniawi


PENUTUP :
Kesimpulan ( QUO VADIS ? ) ® pandangan & tanggapan

Pandangan : kesimpulan ® Robbani ( x sensasi bahagia ; taraqqi mandala ; fantasi ahamkara) ;
Tanggapan : opini terhadap Asumsi hipotesis dan solusi dianektis (Wujud; Kuasa; Kasih)

Pandangan & Tanggapan :

1. diperlukan pandangan yang benar dan tepat untuk memahami

2. diperlukan realisasi penempuhan untuk membuktikan kebenaran dan sekaligus mengaktualisasikan

3. diperlukan keberimbangan

4. diperlukan kebijakan untuk

5. diperlukan
Pandangan : kesimpulan: Robbani ( x bahagia ; mandala ; ahamkara) ;
Tanggapan : opini terhadap Asumsi hipotesis dan solusi dianektis
Syukur & Terima kasih :

Syukur : Alhamdulillaah ~ Hanya karena Dia
Terima kasih : bantuan & panduan + staff penerbitan & percetakan & pemasaran
→ Syukur : Alhamdulillaah ~ Hanya karena Dia
® Terima kasih : bantuan & panduan + staff penerbitan & percetakan & pemasaran

Pengharapan :


Kemanfaatan : referensi panduan , literature wawasan , bacaan hiburan, wacana perenungan

Ma’af ;

Saran perbaikan dan masukan pelengkapan

® Kemanfaatan : referensi panduan , literature wawasan , bacaan hiburan, wacana perenungan

® Ma’af : Saran perbaikan dan masukan pelengkapan

Pustaka

Biodata







MEDITASI


1. RACUT :

Menggeser dimensi kesadaran diri dari tubuh fisik ke tubuh subtil ( sukma eteris ).

PROYEKSI ASTRAL SCOTT ROGO

Gnosis Buddhisme : Kesadaran bersifat universal ( x individual ) sehingga dapat saja melakukan pemindahan kesadaran diri ke suatu obyek/suyet & proyeksikan kesadaran diri ke suatu tempat/waktu.

: kesedian melibatkan diri ® atasi kecemasan alamiah (avidya sosial awam : mati,gila,terasingkan) ® baca literatur pemandu ® penunjang program =- diet vegetaris ( Keller ),dll

Proyeksi eteris =

pelatihan awal :

® pernafasan Yoga :

: standar pranayama ® penguatan badan & supplier energi kesadaran untuk PLB

: berdiri ® pernafasan diafragma sempurna

: berjinjit ® pernafasan segitiga dalam tiga gerakan ( - jinjit - )

: bersila ® penahanan pernafasan ( penyebaran prana ke tubuh )

: telentang ® pernafasan kebatinan ( + visualisasi osmosis prana pada tubuh )

: (+) pernafasan silang : lubang hidung kanan/kiri bergantian

Pelaksanaan :

(1) ® Relaksasi ( Haraday ) =

POP ( pengenduran otot progresi ) untuk mengurangi ketegangan fisik dan kecemasan batin

pengenduran fisik : telentang ( miring kanan x kiri ) > duduk ( hipnose otomatis x insrtuktif protokoler )® tegang dan kendurkan kelompok otot tubuh secara bertahap ( pernafasan berirama , interval waktu , rasakan kenyaman pelepasan ketegangan )

pengenduran mental : pasifkan fikiran

®1.1. detak jantung ( Muldon ):

: fokuskan perhatian pada jantung ( rasakan denyut jantung ®kehendak kuat agar denyut jantung menjadi teratur kecepatan ® turunkan denyut jantung secara bertahap capai kondisi alpha untuk PLB )

®1.2. intensitas getaran ( Monroe ):

: setelah relaksasi® telentang ® masuki keadaan hipnagogik(batas tidur – terjaga ) Kondisi A = terjaga (=pertahankan satu obyek kesadaran tunggal sebagai indikasi )

Kondisi B = keadaan hipnagogik ( obyek telah beralih pada obyek lain ® sati pasif

Kondisi C = Keadaan mendalam ( tiada kesadran fisik & kontak indrawi )

Kondisi D = getaran ( = rasakan dan kuasai secara pasif dengan tetap relax mengamati )

=> intensifkan dan tingkatkan getaran

: visualisasi PLB secara bertahap

®1.3. tersebar ? : Visualisasi :

Kubus Necker + Kembangkan keahlian imajinasi kreatif penciptaan image mental & pertahankan visualisasi fikiran sadar dalam mengkondisikan batin bawah sadar eteris untuk PLB

: Brent = visualisasi terkontrol ~ skenario tahapan ( hypnotism sugestible )

: Muldoon = bayangan cermin eteris diri

: Lancelin = pengarahan tujuan lokasi tertentu

: Hermetics = visualisasi fikiran kuat akan mewujud dalam dimensi fisik secara nyata ( minimal akan berpengaruh pada kondisi si pelakunya ) ® terkaan batin bebas pada sesuatu di balik tabir

konsentrasikan pada satu titik ½ meter di atas kepala dimana terdapat tali yang menarik tubuh eteris ke luar tubuh fisik melalui kepala ;

®1.4 . tertidur ? ; Kontrol Mimpi Jelas :

: reseptif dan apresiate terhadap pesan mimpi dan memanfaatkan mimpi /tidur sebagai media kontrol keadaan hipnagogik ( Program mimpi terbang untuk keluar tubuh / PLB ).

Pertahankan kesadaran diri hiongga tidur dan bermimpi ® kesadaran dan pengamatan mimpi kemudian Fokuskan pada program mimpi jelas untuk maksud PLB ( kehendak pasif > aktif )

Proyeksi Mental =

1. pengeluaran tubuh eteris :

® proyeksi kehendak dinamis ( Lancelin ) =

Kemauan sadar yang sangat kuat mensugesti batin bawah sadar menyebabkan PLB secara spontan.

: fokuskan fikiran/kesadaran pada seluruh tubuh ® Rasakan ( > khayalkan ) keberadaan tubuh astral.

: fokuskan segenap energi pada kening/pusar ® Kehendak kuat (> inginkan ) agar tubuh astral keluar dari tubuh fisik .( : Rasakan keberadaan tubuh astral di luar badan fisik )

2. pengamatan zarah eteris :

: Green = pengembangan proyeksi kesadaran eteris ke luar tubuh fisik ( Swain ® PLB dalam keadaaan tetap terjaga secara bertahap : pengamatan jarak jauh x perkiraan ; )

3. pemunculan zarah eteris :( bilokasi )




BUDDHA

Perintis :Siddharta ‘Buddha’ Gautama

PEMAHAMAN KESADARAN =

Prinsip Ehipassiko = Saddha > Iman [ kepercayaan karena pembuktian]

:pariyati(pelajari)®patipati(praktek)®pativeda(realisasi)

KAIDAH BUDDHISME =

~ Kesadaran akan hukum paticca samupada ® kontak bijak ( Let It Be )

Mental noting : Satipatthana

( berkesadaran penuh : Sati Sampajjana )

Zazen Batin : Eka Bhisamaya ( samahito + parisudha ® kamaniya)

~ Kesadaran akan Catur Ariya Satyani ® Jalan Spiritual =

(1) Sila : Kemurnian Sila dan kebajikan berprilaku

(2) Samadhi : ketekunan meditasi dan

(3) Panna : kebijaksanaan paramatha sacca ( kebenaran mutlak )

SAMATHA BHAVANA

® : 40 obyek meditasi ~ carita ( perwatakan) dan fungsi (penggunaan)

Rupa-Jhana = kegairahan sensasi

(1)Jhana1=vitakha,vicara,piti,sukha,ekagat((2) Jhana 2 = piti,sukha,ekagata

(3) Jhana 3 = sukha,ekagata

(4) Jhana 4 = ekagata

® Abhinna : Iddhi kesaktian ( dengan obyek : kasina) ,

Arupa-Jhana = keheningan nuansa

(1) Arupa Jhana 1 = pengheningan keadaan ruang tanpa batas

(2) Arupa Jhana 2 = pengheningan keadaan kesadaran tanpa batas

(3) Arupa Jhana 3 = pengheningan keadaan kosong ( sang habis )

(4) Arupa Jhana 4 = pengheningan keadaan tanpa pencerapan

® santa vihara : penghidupan yang penuh kebahagiaan

KEAHLIAN = JHANA-VASI

VIPASSANA BHAVANA

® : 4 objek meditasi ~ carita (perwatakan)

KESIAPAN =

( 1 ) Sila visuddhi : Kesucian sila

( 2 ) Citta visuddhi : Kesucian fikiran ( minim : Jhana 1 )

PROSES =

( 3 ) ditthi visuddhi : Kesucian pandangan ( pembedaan : nama – rupa)

( 4 ) kankhavitarano visuddhi : Kesucian keraguan ( hubungan kausalitas)

( 5 ) magga amagga : tilakkhana universal & 10 kilesa

( 6 ) patipadana : sankharupekkha keseimbangan batin terhadap obyek ®anuloma ( penyesuaian jalan tengah x ekstrim)

PENCERAHAN =

(7)Patipada:Pencerahan-lokuttara(Gotrabu ®Magga®Phala:sotapana,sakadagami,anagami,arahat ) ® pacchavekha peninjauan kembali.




RADHA – SOAMI

Satguru : Swami Ji ; Baba Jaimal – Sawan Singh – Sardar Bahadur – Charam Singh ; Gurinder

Kaidah Sant Mat :

- Moralitas untuk harmonisasi nurani yang menenangkan jiwa.

- Diet Vegetaris untuk menunjang kelancaran bermeditasi.

- Gurbhakti untuk ‘total surrender’ ,Seva ( pelayanan) dan pemurnian ego.

- Nambhakti untuk media konsentrasi dan ‘visa’ meditatif
Proses Meditasi =

Simran ( Dzikir 5 nama suci penguasa 5 wilayah rohani ) pada tisratil sambil Dhyan ( kontemplasi wujud astral Satguru ) ® : Bhajan < menyimak Shabda >

Vs mekanisme anti-kundalini fikiran ( ke bawah & ke luar ® ke dalam& ke atas ) ® pada tataran : Pinda / material creation/ melalui 6 chakra bawah

(1) pusat akar ®muladhara chakra : Kilyang

( 2 ) pusat seks ®indri chakra : Onkar

( 3) pusat pusar ®nabhi chakra : Hiryang

(4) pusat jantung ®hrida chakra : Sohang

(5)pusat tenggorokan ®kanth chakra : Shiriyang

(6)pusat dua mata ®Dodal Kanwal = pineal

® : Level : Yogi Puran

Menjelajahi Wilayah Rohaniah

Pada tisratil : terdengar suara binda/jhinga (gemuruh/sepur) & tampak wujud guntur,

( 1 ) Sahansdal Kanwal : Niranjan desh ® bell & cronch

Nama sufisme : Maqam I Allah

Terdengar 10 suara : lautan,guntur,

Tampak juga : langit,matahari,bintang

~ Chidakash : surga/neraka

~ sahansdal kanwal : Jyoti Niranjan

~ kolam Tirbeni

3 bagian :

~ jhongran dep

~ shyan

~ sett sunn

® Level : Sikh ( Siswa Sejati )

( 2 ) Trikuti Murakashi : Brahm loka ® sound of Onkar

Nama sufisme : Maqam I Allah Hu ( Wilayah asal : fikiran )

Terdengar suara : Onkar dalam guntur

Tampak wujud : sunnya , gunung (Mer,Sumer,Kailash)

® Level : Yogishwar

( 3 ) Daswan Dwar : Par Brahm ® King Ri (Spiritual lute)

Nama sufisme : Alam I Lahut

Terdengar suara : Onkar dalam guntur

Tampak wujud : sunnya , gunung (Mer,Sumer,Kailash)

( 4 ) Banwar Gupha : Sohang ® Bansri ( flute )

Nama sufisme : Alam I Hahut

Terdengar suara : Kingri

Tampak wujud : sunnya , gunung (Mer,Sumer,Kailash)

( 5 ) Satta Loka : Sat Purush ® Bin ( big pipe )

Nama sufisme : Maqam I Haqq ( Rumah Sejati : Jiwa )

Terdengar suara : Bin ( Big Pipe)
Tampak wujud : Sach Kkand ( Sat Nam ) di Alakh Lok ® Agam Lokh ® Anami Lokh

® Level : Param Sant ® Satguru




OSHO

PANDANGAN =

Evolusi tansadar bersifat kolektif , sedangkan evolusi sadar bersifat individual.

: Hiduplah secara Total = hidup religius meditatif dalam Tao = kenyamanan dari ketegangan )

MEDITASI CHAOTIC =

Dalam bermeditasi diperlukan kemurnian fikir , kealamian tubuh

1. Chaotic breathing : 10 ‘

® kacaukan sistem masif neurotik diri untuk membebaskan emosi yang tertekan/mengendap

:penafasan dalam & cepat ( tubuh kelimpahan oksigen ® alive/vitale : alamiah hewani )

= fisik terasa tidak lagi terasa sebagai materi tetapi seperti sistem energi yang meluap.

2. Catharsis : 10 ‘

®theraphy pelepasan seluruh limbah emosi yang tertekan /mengendap secara bebas .

:pembersihan : menjerit,menangis ; tertawa,melompat ; menari , dll ( terserah )

= tubuh fisik terasa ringan alamiah dan batin fikiran murni dari segala limbah mental.

3. Sound : HOO : 10 ‘

® menghantam sentra sex / chakra vitale agar kemudian terjadi proses kundalini energi.

: teriakan- teriakan HOO sekeras mungkin terarah ke sentra sex untuk menaikkan energi.

= terjadi proses aliran energi kundalini di dalam dan menuju ke atas.(exhausted)

4. Jump : Meditasi :

® memasuki alam meditasi dengan seluruh totalitas kesadaran diri tanpa konflik ( wuwei )

: menjadi pengamat yang mantap (sakshin upeksha) atas apapun juga yang dihadapi.

= secara bertahap terjadi pertumbuhan spiritualitas melalui pengalaman batiniah langsung.
TRANSENDENSI 7 TUBUH =

= consciousness ( kesadaran ) ®witnessing (pengamatan)®awareness(kemurnian)®enlightment

Desireless = just the absence of desiring x the opposite ( passive x active )

meditasi bersifat passive ( total surrender)® x kehilangan awareness

manusia memiliki 7 dimensi paralel keberadaan yang saling terpadu dan berkait.

jika bermeditasi mulailah dari tubuh pertama paling luar ( jangan fikirkan ‘pengetahuan tingkat tinggi’ agar tidak mengganggu kelancaran dan kesejatian transformasi diri )

atasi ketegangan yang timbul karena adanya ketidak-nyamanan dalam transformasi(kesenjangan antara kenyataan dan keinginan).® ® Pintu dimensi kesadaran pada setiap tubuh berikutnya akan terbuka otomatis jika tiada ketegangan didalam badan tersebut ( kenyamanan holistik)

Jadilah : sakshin upeksha ( kesadaran pengamat yang indifferent ® equilibirium ; tanpa konflik karena membedakan kutub polaritas yang ada sehingga tidak terjadi perpecahan diri ) = mentransendensi polaritas ( kenyamanan batin dari ketegangan alamiah eksistensial dengan tidak perlu melekat/menolak polaritas yang ada )

metode = melekat ®melepas ( langkah permulaan akan menjadi rintangan perkembangan lebih lanjut jika terlalu dilekati )

(*) HORIZONTAL (MASIH INSANIAH ) = DARI LUAR KE DALAM =

1. FISIK

terbatasi ruang dan waktu

PRAMEDITASI =

rasakanlah keberadaan fisik dari dalam (tidak sekedar dari luar ) : kayanupasana.

MEDITASI =

polaritas : breathing ( incoming x outcoming )

vision : khayalan mimpi fisiologis

transend : sadari setiap saat rasa dari dalam [ holistik ]

penyesuaian : hidup dalam kekinian ; ketika bertindak disadari ( actor ~ action ) ; seks ®ekspresi positif cinta kasih ( x pelepasan ketegangan)

2. ETERIK

transparan & antigravitasi ( sukma 13 hari pasca kematian ); terbatasi waktu tetapi ruang tidak

PRAMEDITASI =

sadarilah keberadaan dan pergerakan dari dalam (tidak sekedar dari luar ) : sati kayanupasana.

MEDITASI =

polaritas : influence ( attractive /love/well-being x repulsive/hatred/diseased )

vision?mantra,parfum(jakfaron/misik;hio/dupa,dll) , warna (biru eterik ,dll)

vision : tetap sadar terjaga dengan sarana mantra ( ®tidak efek hipnotis/tertidur )

transend : sukma plb ,sugestible hipnotik & zarah kundalini ( kenali vitalitas mekanisme nya dari dalam )

penyesuaian : cinta kasih murni (sikap fikiran dalam diri terhadap seluruh kosmik bukan sekedar hubungan antar personal X pemenuhan hasrat nafsu sex/ego ) dengan tanpa harapan/tuntutan

3. ASTRAL

tidak terbatasi ruang dan waktu lampau

PRAMEDITASI =

sadarilah keberadaan dan pergerakan dari dalam (tidak sekedar dari luar ) : sati kayanupasana.

MEDITASI =

polaritas:magnetisme(powerful/confident/bravery – powerless/inconfident/coward )

vision : jangan pastikan dulu prakonsepsi keabadian diri ( realisasi : truth pativedha >proyeksi : faith anubodha )

transend : ungkapkan keberadaaan di dalamnya ( totalitas kehendak )

penyesuaian : gudang timbunan pengharapan /hasrat keinginan yang begitu menimbulkan ketegangan ( kewaspadaaan meditator ? )® terima saja hasrat tersebut sebagaimana adanya (akan timbul ketenangan // berhasrat tanhasrat ? neurotis )

4. MENTAL

rumah terakhir fikiran ( tidak terbatasi ruang dan waktu lampau dan mendatang )

PRAMEDITASI =

sadarilah keberadaan dan pergerakan dari dalam (tidak sekedar dari luar ) : sati kayanupasana.

MEDITASI =

polaritas : thought ( incoming – outcoming )

vision : waspadai proyeksi ciptaan mental ® jangan harapkan/identifikasikan apapun

transend : lampaui seluruh proses mental ( awas ! schizoprenia : fikiran tidak dalam keadaan harmoni – secara simultan bekerja terpecah ke 2 arah yang berlawanan : berdiri di luar & melihat ke dalam/ ke atas ® Mulailah dari lapisan terluar setinggi apapun ‘ pengetahuan ‘ anda )

penyesuaian :konflik pemikiran yang saling posesif menguasai keseluruhan ®kekalutan

sadari saja fikiran hanyalah klise proyeksi timbunan ingatan fisik dan terimalah kealamiahan hal tersebut tanpa persetujuan/penyangkalan yang memang tidak perlu ® jangan identifikasikan diri dengan fikiran/buah fikiran tertentu (bebaskan badan mental dari kekacauan)

(*) VERTIKAL (MULAI ILAHIAH ) = DARI BAWAH KE ATAS =

ke Chakra ajna ( Tuhan ) ; sirshasan ®arus energi berubah ( ketidak-nyamanan fikiran yang terbiasa antikundalini )

5. SPIRITUAL

keabadian yang tidak terbatasi ruang dan waktu

PRAMEDITASI =

sadari kematian dan kehidupan hanyalah fenomena luar bukan realitas inherent pada keabadian diri.

MEDITASI =

polaritas : Life itself = Prana ( life – dead )

vision : tiada dualitas ( cermin perbedaan tanpa kelainan ) ® refleksi bayangan dari ralitas saja.

dalam kesendirian total bebas dari segala bentuk mentalitas ® jangan identifikasikan diri sebagai apa/siapapun juga

transend : kesadaran monad (atom tanpa jendela-Leibniz) / kesadaran Ego

penyesuaian : atasi kebodohan diri dengan Atma Gyana ( pengenalan diri ; Dengan tidak mengenal dirinya tiada guna orang mengenal apapun ?) ® Mengetahui ( secara langsung : pasti ) X pengetahuan ( pengertian pinjaman : sangsi )

6. KOSMIK

kosmik

PRAMEDITASI =

ego drop ® no ego ( become one with all )

MEDITASI =

polaritas universal : kosmik ( srishti /creation – pralaya/destruction )

Realitas ‘diri’ : Avatar Vishnu untuk siapa Brahma menciptakan dan shiva menghancurkan.

vision : realitas otentik tanpa cermin ( fikiran universal Brahman ) ® samadhi sabeej ( + benih )

transend :4- 5 : ego®non ego

koan Zen ‘ansa dalam botol’ (gerbang tanpa gerbang ) ® jangan identifikasikan diri sebagai kristalisasi ego ; sadari saja (tanpa metode; karena setiap metode memperkuat ego ) / x satori

penyesuaian : individualitas dalam universalitas kosmik ® berhentilah menjadi individu pribadi (Kita adalah samudra keESAan /oceanic feeling/ x kristalisasi individualitas keakuan = keberadaan sebagai insan kosmik ) Tuhan = (tan)individualitas keberadaan kosmik

7. NIRVANA

sunna

PRAMEDITASI =

Hakekat diri : ketiadaan ( negativisme Buddha ) karena keberadaan adalah Brahman ( Shankara)

vision : pusat keberadaan murni ( tanpa positif/negatif ) ® samadhi nirbeej ( x benih )

MEDITASI =

polaritas universal : Truth ( being – not being )

transend : melompat dalam keheningan ( pencerahan sejati ! sudah ada sebelum adanya ciptaan ,masih ada walau setelah pralaya ®saya tidak tahu (Buddha); karena tidak ada simbolisasi tepatnya)

penyesuaian : tegangan antara keberadaan – ketanberadaan ( untuk fahami keseluruhan : jadikanlah kehampaan sebagai satu-satunya keseluruhan )® hilangnya keberadaan ke dalam tankeberadaan [ Brahman : keberadaan + ketanberadaan = keseluruhan > Tuhan : keberadaan ]

® = Setelah itu ? ADWAIT ( Oneness )



BARDO =
Bardo thos grol chen mo :

Buku panduan untuk mencapai kebebasan abadi lewat pemahaman tentang kematian

The Tibetan Book of the Dead : Padma Sambhava ( abad VIII ) ® Karma Lingpa abad ( XIV )

Mahavira : pencerahan masih mungkin terjadi hingga pada saat kematian

Tibetan : ‘ menghadapi kematian adalah suatu keahlian untuk disiagakan dan dibiasakan ’

Persiapan :

latihan meditasi racut ( PLB ) pada saat hidup ® meditasi bardo untuk saat ajal.

® Hadapi dan jalani kematian dengan penuh kesadaran & kasih ( + : munajat Robbani )

Proses :

Usahakan pencerahan dengan menyatu pada cahaya kesadaran murni Ilahiah Semesta.

1. Chikkhai Bardo : ( saat kematian )= Astral

langsung bermeditasi : simak ikuti cahaya murni kebenaran yang bersih dan jernih .

gagal ? cahaya dengan sosok figur mistisi (Satguru,Buddha ,Nabi,dll).

gagal ? jatuh ke Chonyid Bardo

2. Chonyid Bardo : (alam kausalitas ) = Etheric

sadari akan kematian diri dan perjalanan arwahmu ( awas ! ilusi proyeksi fikiran )

hari 1 : perhatikan cahaya biru kesadaran murni diri x cahaya putih ketidak-tahuan karmik

hari 2 : perhatikan cahaya putih bersih kebijakan sejati x cahaya kelabu kebodohan samsara

hari 3 : perhatikan cahaya kuning bersih keseimbangan diri x cahaya biru kotor kesombongan

hari 4 : perhatikan cahaya merah bersih kasih x cahaya merah kotor keterikatan

hari 5 : perhatikan cahaya hijau cerah kesempurnaan abadi x cahaya hijau kotor kepicikan

hari 6 : perhatikan cahaya 4 warna cerah pencerahan x cahaya 4 warna buram keresahan

hari 7 – 13: Awas dualitas fikiran ( cahaya kotor : coklat , putih,kuning,merah,hijau,aneka warna )

hari 14 : hari terakhir ( Atasi rasa bersalah/ketakutan/keraguan yang muncul karena fikiran yang terkondisi karma )

gagal ? jatuh ke Sidpa Bardo

3. Sidpa Bardo :( alam kelahiran kembali )= Etheric

Pertahankan kesadaran dari godaan rebirth( semuas hanya ilusi fikiran belaka )

walau sudah semakin sulit teruslah bermeditasilah kembali agar tetap mampu menyatu dengan cahaya murni kebenaran Ilahiah. ( Kenang ajaran Satguru )

® vs wujud/suara mencekam refleksi penyesalan atas kesalahan masa hidup.

® vs ilusi pengadilan / surga – neraka

Berada di alam Sidpa Bardo ,emosi batin begitu intens terasakan ® lampaui ilusi fikiran yang membuatmu terjebak dalam penderitaan yang sesungguhnya tidak perlu itu.( terus meditasi)

® masuki samsara ? perhatikan cahaya yang paling cerah dari keIlahian yang Maha Penyayang dan masuki meditasi ( putih cerah – alam dewa; kuning cerah – keluarga saleh ) X perhatikan cahaya buram (putih–dewa/malaikat;hijau-kuasa sakti;kuning-intelektual;biru-hewani; merah-arwah gentayangan ;abu2/hitam – alam terrendah)

® kelahiran kembali ( jika bayangan sudah terlihat kala bercermin/berjalan berarti sudah gagal di alam sidpa bardo ).

Berdo”a dan tetap tenang ; jangan tergoda ilusi sex ® pilih rahim yang sesuai( menunjang evolusi spiritualitas diri pada kehidupan mendatang ) :

Simbol Vision : tempat ibadah ( keluarga saleh/alam dewa)/ bangunan megah ( prospek peningkatan kesadaran). X : gua/lubang besar berkabut tebal ( hewani )/ gurun luas/rimba gelap ( kehidupan tanpa arti)/ hutan berapi (magis)/ danau & angsa ( kaya tetapi tidak spiritual),dlsb





UPDATE PARAMA DHAMMA

Desain Kosmik “Mandala Advaita “ bagi dagelan “nama-rupa”

Esensi Murni > Energi Ilahi > Materi Alami
kebajikan harus dengan kebijakan

Kebijaksanaan harus dalam keberimbangan

Keberimbangan harus dalam keselarasan

Walau memang ada kebahagiaan & penderitaan ,Tidak ada yang harus dilekati – Tidak ada yang perlu dibenci

Walau memang ada keunggulan & kerendahan ,Tidak ada yang harus dipuja – Tidak ada yang perlu dicela

Tanpa obsesi tiada ambisisi

In Reality – Be Realistics – To Realize




Kesadaran

Kecakapan

Kelayakan




Esensi Murni

Ariya

Sekha

Zenka

Swadika


Energi Ilahi



Genia



Talenta


Materi Fisik







Visekha


Mandala Advaita : Desain Kosmik
Pandangan Sikap Batin In Reality

Formula Swadika

Pandangan Sikap Batin In Reality

Mahatma

Pandangan Sikap Batin In Reality



ANEKA RENUNGAN

Parama dharma bagi swadika advaita

Dharma (tdk) sederhana bagi mandala (tak) sempurna

Keutamaan > kebuddhaan

Taqwa ,< metta < anatta

Ketauhidan dalam keanattaan

Abhidhamma =

Hayati tandiri ke anattaan atas segala entity keberadaan

Sadari ke aniccaan atas segala process keberadaan

Fahami ilusi ke dukkhaan atas segala entitas keberadaan



Kesadaran melampaui = mandala advaita

Nibbana 1

Samsara 31



Mengarahkan batin kesadaran > mengerahkan fikiran

Transformasi diri

Kebijaksanaan

Keharmonisan

Kebahagiaan

Keberdayaan



Menyadari keakuan diri semu dengan mengamati aku, diriku, milikku sebagai dia.

Just Flow in relaxed mind without excessive energy



Jalaludin Rumi : tentang hikmah (Dilema Faqir) =

Janganlah kamu berlaku zalim dengan tidak memberi kepada orang yang berhak menerimanya. namun janganlah kamu berlaku zalim dengan memberi kepada orang yang belum layak menerimanya.






ZAZEN CANON : REALITAS TINDAKAN ® FOREVER AKTUALISER ~ ETERNAL UNIVERSIAD



Tindakan Aktual untuk segera merealisasikan Keberadaan Diri demi keberlanjutan dari Evolusi Spiritual Deitas Kosmik diri dalam Samsara Keabadian dan menunjang kehandalan diri sebagai Aktualiser dalam Kehidupan ini dan Eskatologi keberadaan Diri berikutnya .

Realisasi Tindakan– tidak sekedar Imaginasi Gambaran belaka – adalah sangat mutlak diperlukan untuk memperoleh hasil yang nyata dan feed-back perbaikan dan penyempurnaan dari suatu wawasan pandangan.

Keterarahan penempuhan dalam kebijaksanaan pandangan.

Orientasi hidup adalah pemberdayaan. Mantap dalam kesederhanaan, Handal dalam keberdayaan dan Lancar dalam kebijaksanaan.

Plus = Ada keridhoan dalam ketaatan. Ada kemurkaan dalam kemaksiatan

Prakata : Perlu kebenaran paradigma pandangan , kejelasan tujuan pencapaian, kepastian realitas tindakan dan ketepatan langkah strategis

Manual ini ditujukan sebagai panduan praktis untuk memberdayakan diri dalam menempuh universalitas keabadian dan kompleksitas kehidupan . Walaupun dikemas dalam wacana yang ringkas dan singkat namun lengkap dan cukup memadai untuk dipergunakan sebagai canon utama diri.

File Ke 1 = INTEGRITAS UNIVERSIAD

® 1. Vitale Zazen = Kesadaran Gnosis Eternal

2. Ekstase Swadika : Transendensi Keberadaan

3. Talenta Semesta : Transformasi Kehandalan

§ File Ke 2 = AKTUALISER UNIVERSIAD

4. Swadika Semesta : Kemantapan Universe Holistik

5. Karakter Personal : Kelancaran Flexible Autentik

§ File Ke 3 = AKTUALISER EKSISTENSI

6. Regista Persada : Rutinitas Kemantapan Pelancaran

7. Legenda Semesta : Vitalitas Kehandalan Penempaan

File Ke 4 = INTEGRITAS EKSISTENSI

® 8. Finale Zazen = Kesadaran Wisdom Forever

9. Reset Universiad : Kesabaian Akhir

10. Ready Aktualiser : Kesiagaan Mulai

1) REFLEKSI MEDITATIF = Mental Global paradigma dipathera :

Aware vitale in INTEGRITAS UNIVERSIAD

Vitale Zazen = Kesadaran Gnosis Eternal Kemantapan Faith Gnosis(Integritas Universiad) ® Kegairahan Truth Exodus

Aware gnosis – focus exodus – wuwei action – zazen vitale sesuai mahadharma dalam kesadaran alpha beta

resitasi paritta Ritual Mental ditujukan untuk penghayatan kebenaran dan bersegera memberdayakan universiade aktualiser diri secara tepat dan pasti.

refleksi empiris Aktual Global ditujukan untuk penyadaran kenyataan dan terus melanjutkan aktualisasi universiade diri secara bijak dan luwes.

1) Aware of Gnosis Wisdom in Faith Truth = Ketepatan paradigma Gnosis Realitas – kebijakan Wisdom Spektrum

MANTAP EXODUS = Realitas Keabaduan = ESA ( Mandala Genesis – Robbani ) Fenomena Kehidupan = aku (Dimensi Samsara – Pribadi )

HANDAL EMPIRE = Keterjagaan Labirin Avidya = Keswadikaan Ekstase Dharma =

Gnosis Wisdom : kemantapan & keakuratan menghayati paradigma heuritis bagi Integritas Kesadaran (Akidah Gnosis / Kaidah Wisdom)

- Faith Integritas : Kebenaran Gnosis Keabadian ® Ketepatan Hibrah Kehidupan (Menghayati paradigma heuritis / Mensikapi pengamatan empiris)

Aktualisasi holistik yang inklusif tidak exclusive (sbg Dharma Sekha; dlm Sangha Ariya ) x

- Truth Eksistensi : Kejelasan avidya Kebodohan ® Keluwesan Kiprah kenyataan (ketelitian penyadaran situasional / kecerdasan pengatasan keadaan)

Harmonisasi simpatik tanpa terexploitasi atau memanipulasi (thd Etika Publik ; utk Diniah Agama; ) x pengkhianat keberadaan

REFLEKSI MEDITATIF = Dijalankan setiap saat ® ketersediaan waktu. Faith Truth

® Aware Universalitas : Gnosis Realitas = Visualisasi Pengamatan Kenyataan Laten Deitas “ESA”

® Zazen Integritas : Wisdom Spektrum = Konsentrasi Pengarahan Kesadaran Figur Kosmik “ aku”

2) Vitale of Exodus Empire in : Kesegeraan & kelanjutan aktualisasi tindakan Komitmen pemberdayaan (Target Exodus / Qonaah Lanjut)

§ Focus Exodus to Evolusi Pribadi : Transformasi Gnosis untuk Akses Eternal zarah Universiad

Akses Universiad : Transformasi Keberadaan Universiad (Akses Keabadian ) ® Ekstase Swadika, talenta semesta , visekha samsara
Orientasi Tujuan : Akses Eternal Swadika Visekha ® Asset Forever Persada Regista

(a) Transformasi Evolutif Keabadian = Akses Swadika + Hisab Visekha

Akses Swadika = Transformasi Evolutif Kualitas Esensi Sejati

1. Basic Eternal Keswadikaan Arhad Jagad ® Super Figur

2. Input Forever Ketalentaan Arhad Jagad ® Smart Flair

Hisab Visekha = Transformasi Harmonis Moralitas Esensi

1. Basic Kemahatmaan Arhad Jagad ®Wahidah Nibbana

2. Input Keamaliahan Arhad Jagad ® Waridah Surgawi

(b) Aktualisasi Effektif Kehidupan = Block Regista + Asset Persada

Asset Persada = Kesuksesan pencukupan kekayaan Astaiya

1. Basic Profesi = Kehandalan ekonomi produktif

2. Asset Pensiun = Kemantapan deposit benefit

Block Regista = Kesuksesan pencukupan kejayaan Regista

1. Citra Positif = Keluwesan Simpatik Harmonis

2. Squad Bushido = Kekuasaan Guardian Imperium

§ Wuwei Action in Regista Semesta: Aktualisasi Kehandalan untuk Asset Forever Figur Eksistensial

- Focus Aktualiser : Aktualisasi Kehandalan Eksistensial (Asset Kehidupan) ®Eksist Persada, karisma regista, legenda semesta

Integritas mantap Evolusi Pribadi®Aktualitas handal Regista Semesta

§ Zazen Vitale = Exodus Gnosis

® DISIPLIN INTENSIF = Evolusi Pribadi

Integritas : Deitas Kosmik

Eternal Forever = Semadi Esensi – Centre Figure

Swadika Semesta = Sati Videha – Yogi Tapasa

Vitalitas : Exodus Universiad

Geniard Bushido = Genius Versus – Global Comrad

Maestro Cruiser = Master Expert – Tantra Wasesa

Rutinitas : Kasual Eksistensi

Reset Universiad = Sentra Agenda – Primus Exodus

Ready Aktualiser = Matrik Kosmik – Estate Figure

® REFLEKSI UNIVERSE = Regista Semesta

Integritas : Figure Kosmik

Holistik Universe = Aktual Wasesa – Mental Dewasa

Autentik Flexible = Swadika Robbani – Gestalt Bushido

Rutinitas : Aktual Eksistensi

Regista Publik = Senzei Publik – Patria Sangha

Bushido Estate = Steady Family – Aktual Estate

Vitalitas : Vitale Universiad

Reputasi Kosmik = Spectre Cruiser –Geniard Maestro

Hegemoni Publik = Bushido Regista – Leisure Swadika

§ Final Vitale of Total Zazen = Mantap Exodus – Handal Empire
4. Zazen Finale : Kemantapan Qanaah Output ® Kegairahan Revisi Lanjut

Fungsi =Qanaah Kesuksesan ® Revisi Kelanjutan .

Kesuksesan Asset Kosmik = Penerimaan feedback tindakan

Spektrum Exodus = Evolusi Pribadi + Regista Semesta

§ Evolusi Pribadi : Tahap Perluasan Eternal itas Deitas Kosmik

§ Regista Semesta : Level Kemapanan Eksistensial Figure Publik

Ekstasis Wisdom = Syukur Sukses + Qanaah lanjut

Kelanjutan Fokus Exodus = Perevisian kelanjutan tindakan

Orientasi Tujuan = Gnosis Exodus + Kosmik Publik

§ Gnosis Exodus : Kebenaran Prinsip Ariya

§ Kosmik Publik : Kehebatan Potensi Figur

Realisasi Tindakan = Revisi Lanjut + Sukses Proyek

2) DISIPLIN INTENSIF = Pengasahan refleksi intensif Tapasa Videha :

® Refleksi intensif Sati videha ditujukan untuk mengembangkan integritas penyadaran universal nivritti dan dalam aktualisasi pengarahan holistic diri.

® Distansi effektif Yogi Tapasa ditujukan untuk mengsawdikakan diri dari ketergantungan/kemelekatan eksternal dan memperkasakan universalitas diri. Refleksi Sati Videha : Keswadikaan penyadaran Holistik Nivriti:

- Resertivitas harmonisasi = penyadaran diri mensikapi (Reseptif x raeaktif) : visuddhi authentik

- Asertivitas aktualisasai = pengarahan diri bertindak (terarah x neurotik ) :

Sati Videha ( Kearifan diri : Nivritti Holistik )

Sati Videha = pengembangan kesadaran

1. Nivritti Holistik (sati sampajjana - vivekha vairaga)

2. Reseptif :Penyadaran diri : reseptif x reaktif (harmonisasi kesadaran)

3. Asertif :Pengarahan diri : proaktif x mekanis- impulsif (aktualisasi tindakan)

4. Holistik = Pelatihan tindakan meditatif Pembiasaan sikap muhasabah -penyadaran lapisan -harmonisasi energi -kesadaran kekinian -aktualisasi tindakan

Distansi Yogi Tapasa : Keperkasaan pengasahan swadika semesta

- KeSwadikaan diri = tanpa kemelekatan eksternal Keswadikaan Kosmik Figure ® Kesemestaan

- KeSemestaan diri = mampu independent universe

Yogi Tapasa = peningkatan ketahanan

1. Kuanta Universiad = mengatasi ketergantungan /kemelekatan kelemahan meningkatkan keberdayaan / keperkasaan menjalani kesadaran kehandalan.

2. Keswadikaan : kemantapan diri : menjalani kesadaran

3. Kesemestaan : kehandalan diri : mengatasi kelemahan

4.Integral = keberdayaan Holistik

3) MEDITASI EKSTASIS = transendensi intensif avatara bhavana Deitas Kosmik

® Meditasi ekstasis Semadi esensi untuk memantapkan pencerahan batin murni rahni ilahi dan menswadikakan pencapaian arhad jagad deitas esensi diri.

® Integrasi effektif Centre figure untuk menswadikakan patensi kosmik figure diri dan mengembangkan kewasesaan kuasa universal brahma sentra diri .:

Ekstasis Semadi esensi : Keswadikaan penyadaran Holistik Nivriti:

1. I’tikaf Robbani = sujud kudus

2. Jarah Jagad : proyeksi astral

3. Arhad esensi : ekstasis pencerahan

4. Buddha Gnosis = kebijaksanaan

- Dhyana Vihara = Transendensi : Ritual Gnosis Dhyana Bhakta ® Mental Exodus Dhyana Anatta (+ jarah jagad)

Ritual Gnosis = Dhyana Bhakta (Ritual Shalat – Dzikir – Munajat Robbani )

Mental Exodus = Dhyana Anatta ( Batin Murni – mantram – Centrum Swadika )

- Semadi Esensi = Realisasi : Pencerahan Spiritual Rahni Ilahi ®Kemantapan Arhad Jagad (+ Buddha prajna) Pencerahan kesejatian esensi

Rahni Ilahi = Pativedha ( Keheningan – Pencerahan – Keilahiahan )

Arhad Jagad = Iddhipada (

Integral Centre Figure : Keperkasaan pengasahan swadika semesta

Centre Figure : Penguasaan kesaktian kosmik

1. Swadika Mantram = raja yoga

2. Kuasa Jagad : forsa magis

3. Figur Kosmik : super figur

4. Kosmik Figure = maha yoga

- Centre Figure = Realisasi : kewasesaan universal Prima Zenka® Kehandalan SuperFigur (Raja Yoga) (Penguasaan Kesaktian : Super Figur )

- Brahma Sentra = Transformasi : kuasa jagad ® Forsa magis ( Maha Yoga) (Kekuatan daya : Swadika Universe )
4) DISIPLIN INTENSIF = penyerapan kewasesaan talenta aktual

VITALITAS – UNIVERSIAD Dari Kesediaan Waktu Global

® Vitalitas Sekha Universe untuk mengembangkan talenta kecerdasan intelgensia universal diri dan dalam menyerap data formula wisdom exodus diri.

® Aktivitas Prima ditujukan untuk memberdayakan kecakapan skill aktualiser diri dan mengeffektifkan kewasesaan flair universiad diri.

1) GENIUS VERSUS = Intelgensia Quasar Memory Diri .

MEDITASI = Radar Pakar / Gelar Wedar Realisasi Pencapaian Kecerdasan Disket diri.

REFLEKSI = Sekha Talenta / Input Formula Apersepsi Memorial

2) GLOBAL COMRAD = Rhetorics Interaktif

MEDITASI = Jerat Pikat / Realisasi Pencapaian Kepesonaan Profil diri.

REFLEKSI = Pragma Wacana / Ritual Formal Integritas Kehandalan Universe aktual diri

3) TANTRA WASESA = Gimnastics Figure Kosmik Diri .

MEDITASI = Super Figur / Flair Zahir Realisasi Pencapaian Kewasesaan Figure diri.

REFLEKSI = Senam Nature / Fight Athlet Integritas Kehandalan Universe aktual diri

4) MASTER EXPERT = Tehnokratics Aktual Tehnis Diri.

MEDITASI = Knowledge / Science Realisasi Pencapaian Kewasesaan Kosmik Figure diri.

REFLEKSI = Operational / Modifikasi Integritas Kehandalan Universe aktual diri

Sekha Universe : penjarahan kewasesaan aktual

Keluasan ilmu : Idea Talenta Genius Versus (Penyerapan Kelihaian : Smart Input )

- Riset Semesta = Kecerdasan universal ( serapan pengertian ; terapan penempaan )

Riset semesta = Keahlian

1. Osmose Intelgensi =kecerdasan

2. Serapan :pustaka sorcer

3. Terapan :latihan

4. Formulasi = formula

- Edisi Formula = Keakuratan tutorial (formulasi tutorial ; strategi kebijaksanaan)

Edisi formula =Formulasi

1. Prive Secret :Confidential

2. Squad Disket :Loyalitas

3. Massa Offset :Royalties

4. OtherChattering

Prima Integral : Penguasaan kewasesaan aktual

- Master Expert = Kemantapan Geniard Maestro ®Kehandalan Regista Bushido.

Serap talenta = Genius Versus Kehandalan Intelgensi

1. Prima Geniard = Genia dasar

2. Vedha Formula : Edisi

3. Krida Maestro : Skill

4. Genia Regista = Flair

- Tantra Wasesa = Kemantapan Hakei Cruiser ® Kehandalan Konfu Spectre

Flair swadika Tantra Wasesa Kemantapan Universiad

1. Tempa Figure = prima

2. Macho Raider : flair

3. Hakei Combat : fight

4. Flair Master = forma
5) KARAKTER PERSONAL = Keharmonisan Refleksi Pribadi Semesta :
Kemantapan Autentik Flexible Zenka Visekha = Citra Pribadi : Elite Regista : Hisab Robbani =

® Refleksi autentik Mahatma Robbani ditujukan untuk memantapkan integritas pribadi semesta dan mensiagakan garansi waridah robbani keabadian .

® Flexible estetik Regista Bushido ditujukan untuk mengesankan interaksi simpatik diri dan mengembangkan kecakapan wisdom guardian publik.

Mahatma Robbani : Kemantapan Karakteristik Integral Holistik pada keabadian

- Zenka Visekha : Kesadaran Gnosis → Akhlaq Dharma (Adhikari : kesatrian sifat Ariya Adhyatma , keagungan sikap Metta Mahatama) :

- Hisab Robbani : Kefahaman Diniah → Ibadah Islami (Amaliah: kekhusyuan peribadahan Robbaniyah , kelimpahan amaliyah muttaqien ):

Regista Bushido : keluwesan Personalisasi Flexible Simpatik Guardian pada kehidupan

- Chitra Simpatik = Keluwesan Profil → Simpati Pribadi ( perfomance Gentle Figure, interaksi Master Affair )

- Publik Guardian = Kebijakan social → Karisma Regista (Excelence custom wisdom, rhetorika actual formal )

6) STABLE VITALE = Kesiagaan effektif aktualiser universiad:

MENTAL GLOBAL =Refleksi effektif Mental : kesabaian (Gentle Master) + kecerahan (Affair Publik)

® Kecerahan mental dewasa agar diri dengan sabai mensikapi stress secara mantap dan dengan lihai menghadapinya secara handal .

® Ketegaran actual wasesa agar diri dengan tegar mengatasi azhab tanpa fatal dan mampu mengatasinya secara fresh bugar.

kecerahan Figure Publik : Kedewasaan mental integritas untuk tetap sabai dan mampu cerah

Mental Dewasa

Kesabaian samsara : Dalam Dalam keadaan berduka :Dalam tekanan dicela :Dalam kondisi cemas : Dalam situasi kalut :

kecerahan persona : Sineas Untuk refleksi karismatikSelalu tenang : Selalu nyaman : Selalu mantap : Selalu handal :

- Kesabaian samsara Gestalt Figure : tetap sabai dalam keadaan stressing ketika berduka : dicela : cemas : kalut :

- Kelihaian persona Maestro Sineas : mampu cerah Untuk refleksi karismatik Selalu tenang : nyaman : mantap : handal

Ketegaran Deitas Kosmik : Kewasesaan actual universiad untuk tiada fatal dan mampu bugar

Aktual Wasesa :

HANDLE SEMESTA =Kewasesaan aktual Handle pralaya Aktual : ketegaran (Alive Stable ) + kebugaran (Prima Vitale)

Ketegaran pralaya : terhadap nyeri : terhadap sakit :terhadap fatal :terhadap cacat : Stable

Kebugaran legenda :Kondisi alamiah diri untuk vitalitas universiad Senantiasa relax : Senantiasa total : Senantias fokus : Senantiasa zazen :

- Ketegaran pralaya (Alive stable):. tiada fatal terhadap : nyeri, sakit , fatal , cacat :

- Kebugaran legenda (Prima Vitale) : mampu bugar untuk : relax :total :fokus :zazen :

7) LEGENDA REGISTA : Aktualisasi Effektif Kehandalan :

®Vitalitas penempaan legenda Universiad untuk memberdayakan kemampuan secara optimal dan memperoleh kesuksesan pencapaian universal .

®Rutinitas kecakapan regista eksistensi untuk mengusahakan kecakapan handal regista dan mengembangkan kemapanan actual persada eksistensial.

Vitalitas kehandalan Universiad : Vitale kosmik & Empire Publik
Legenda Semesta ®Kehandalan Aktualiser = Kosmik Universe & Publik Imperium

Spectre Cruiser =

§ Geniard Maestro :

§ Regista Bushido :

Leisure Swadika =

- Vitale Kosmik : Dominasi Keunggulan Spectre Cruiser+Reputasi Kehandalan Geniard Maestro

Kosmik : kehebatan (Zenka Cruiser) + kecakapan (Flair Geniard)

Empire : kehandalan (Aider Bushido) + kemantapan (Elite Regista)

1. ZENKA RIDER = :Vitalitas Macho Universiad dari spectre cruiser (Kemantapan Deitas Bunker & Kehandalan Kosmik Vitale)

Deitas Bunker : Kearhadan Spectre

Datuk Semesta = Dharma Wisdom :Master Kosmik :

Jarah Mandala = Ninja Vitale : Zenka Nomade :

Kosmik Vitale : Kehebatan Cruiser

Macho Cruiser =Fight Martial :Champ Athlete :

Rider Fortune =Scout jelajah :Lucky treasure :

2. SMART FLAIR = : Vitalitas Genia Reputasi dari Geniard Maestro (Kepakaran Genius Expert & Kelihaian Comrad Global)

Genius Expert : Kecerdasan Genius Expert (pakar):

Smart Geniard = master genius : expert kosmik :

Flair Maestro = Sineas presenter: Kreasi impresario :

Comrad Global : Reputasi Kehandalan (lihai)

Aktual Worker = Reserve fielder : Service profesi :

Expert Comrad = Lobbiest merchant : Partner pemandu :

- Empire Publik : Hegemoni Kemantapan Bushido Regista + Relaksasi Kenyamanan Leisure Swadika

3. AIDER REICH: Reich Imperium bushido : Master Empire Kecakapan Master Empire & Kemapanan Respek Publik

Reich Imperium = Pandu Vihara : Chief warior :

Squad Sindikat = Triad Syncorp : Prima Galamar :

ELITE MASSA : Guardian regista : Respek Publik :

Elite Guardian = Intelectual Tehnokrat : Elite publik :

Massa Prestise = Bushido Patriarch : Guard people :

4. Leisure Swadika : Kenyamanan Relax Leisure ® Kelancaran Riset Swadika

MEDITASI = Reset Swadika Realisasi Pencapaian Kewasesaan Kosmik Figure diri.

REFLEKSI = Relax Leisure Integritas Kehandalan Universe aktual diri

Rutinitas kemantapan Eksistensi : Guardian Publik & Familiar Estate

Publik : kelancaran (Senzei Birokrat ) + kematangan (Social Patriarch)

Estate : kecakapan (Living Familiar) + kemapanan (Wealth Harmonia)

- Guardian Publik : Kelancaran Dinas Profesional Senzei Publik + Kematangan Elite Patriarch Patria Sangha

1. Senzei Publik = Kelancaran Dinas Profesional Kecakapan Genius Excellent® Kelihaian Master Guardian

Genius Excellent : Kecakapan profesional

Instruktur Guidance = Instruktur pembelajaran :Guidance pengarahan :

Aktualiser Mastery =Aktualitas kegiatan :Mastery keahlian :

Master Guardian : Kelihaian birokrat

Eksekutif Managemen =Eksekutif sistem : Managemen figure :

Birokrat Rhetorika =Birokrat urusan : Rhetorika humas :

2. Patria Sangha : Kematangan Elite Patriarch keluwesan Social Interaktif ® Kepakaran Master Protagonis

Social Interaktif : keluwesan pergaulan

Affair Custom : Affair warga : Custom tatanan :

Bhakti Sineas : Bhakti warga : Sineas massa :

Master Protagonis : Kepakaran sistem

Takmir Publik : Takmir custom : Majlis publik :

Sangha Expert : Expert comrad : Sangha senzei :

- Familiar Estate : Kemapanan keluarga Steady Family + kemapanan grhasta Aktual Estate

3. Steady Family : Kemapanan dalam keluarga

Kecakapan simpatik Familiar ® Kemapanan logistik Harmonia
Kecakapan ( Living Familiar ) : Kerukunan Grihasti

Familiar Intimate : Familiar figure : Romance intimate :

Logistik Guidance : Living logistik : Leisure Guidance :

Kemapanan ( Wealth Harmonia) : Kecukupan Fasilitas

Subsisten invest : Deposit estate : benefit invest :

Patriarch figure : Simpatik figure : Guardian patriarch :

4. Aktual Estate = Kemantapan Kasual Estate ® Kehandalan Aktual Worker

Kasual Estate :

Aktual Worker :

8) PERSADA PERFOMA : Integritas Effektif Kesuksesan & Kemantapan

® Kebiasaan reset universiade ditujukan untuk mengakses input progress pemberdayaan dan menyiapkan manuver lanjut aktualisasi berikut .

® Kesiagaan ready aktualiser ditujukan untuk menghandalkan kekuatan forever serta memantapkan kesiapan manuver aktualisasi harian
8. Finale Zazen Integritas Kesadaran

Output = Akses Eternal + Input Persada
§ Kondisi Negatif :
§ Situasi Positif :
Lanjut = Revisi + Exodus
Reset Universiad : sentra agenda & primus exodus
Penerapan Talenta Swadika Kehandalan & Perolehan Persada Regista Kosmik
Sentra Agenda = Daily Input + Tugas Fokus
§ Talenta Semesta : Pemantapan Kehandalan Forever ( Aktualiser Eksistensi )
§ Visekha Swadika : Pemantapan Keberadaan Eternal ( Integritas Universiad )
Primus Exodus = Akses Eternal + Prima Forever
- Sentra Agenda = Registrasi Journal Regista (Input Universiade: Daily Asset; Tugas Aktualiser : Tugas Fokus )
Input Universiade : Input masukan : Daily Journal :
Tugas Aktualiser : Tugas garapan : Fokus manuver
- Primus Exodus = Relaksasi Eternal Forever (Akses Eternal : Arhad Jagad + Akses exodus ; Prima Forever : Fresh figure + Super Figur )
Akses Eternal : Arhad Jagad : Input exodus :
Prima Forever : Fresh figure : Super Figur :
Ready Aktualiser : master raider & Estate Figure
10. Ready Aktualiser
Kesiagaan
Master Raider =
Prima Figure :
Zazen Aktual :
Estate Figure =
- Master Raider = Pemantapan Kehandalan Aktualiser (Prima Forever : kemantapan eternal patensi ; Zazen Scanner : kehandalan manuver strategi )
Prima Forever :
Zazen Scanner :
- Estate Figure = Pemantapan Kesiagaan Eksistensial (Benah Estate : ketemataan estate eksistensi ; Siaga Figure : kemantapan figure aktualiser )
Benah estate :
Kopen figure :
Penutup : Perlu ketegasan paradigma pandangan, keqonaahan input kenyataan, kesabaran input penempuhan,dan kelanjutan revisi langkah strategis
Kearifan Global untuk dewasa menerima Keberadaan Diri demi keberlanjutan dari Evolusi Spiritual Deitas Kosmik diri dalam Samsara Keabadian dan menunjang kehandalan diri sebagai Aktualiser dalam Kehidupan ini dan Eskatologi keberadaan Diri berikutnya .
Kearifan Global – tidak sekedar Imaginasi Gambaran belaka – adalah sangat mutlak diperlukan untuk memperoleh hasil yang nyata dan feed-back perbaikan dan penyempurnaan dari suatu wawasan pandangan.
· MEDITASI REFLEKTIF =
Dijalankan setiap saat ® ketersediaan waktu.
® Zazen Integritas : Wisdom Spektrum = Konsentrasi Pengarahan Kesadaran Figur Kosmik “ aku”
® Aware Universalitas : Gnosis Realitas  = Visualisasi Pengamatan Kenyataan Laten Deitas “ESA”








KUTIPAN PASADA 

Paguyuban Sangha Dharma (Pasadha) Gemawang – Nadi

Mahadharma (Ehipasiko : Kalama Dharma)

Prolog : Landasan paradigma.

1. Kesiagaan > kelengahan : kebijakan penentuan

2. Kepastian > keyakinan : kebenaran pandangan

3. Keluwesan > keketatan : ketepatan pembumian

menghadapi segala kemungkinan dalam kompleksitas keberadaan awal diri.

Monolog : Kehandalan menjelajahi pemberdayaan.

· Kemantapan dalam anatta x tersekap identifikasi ego

· Kenyamanan dalam dukkha x terlekat manipulasi ide

· Kelancaran dalam anicca x terjebak dinamika aum

Ekspansi Aktualiser Satya Ariya =

Dalam Tuhan segalanya ada. Kuasa Dharma harus difahami kenyataannya

1. Konsistensi Ketabahan : kecerahan Vitalitas positif (amor dei, amor fati ) - asertivitas (shabar ) – positivitas (syukur) Kegairahan > keengganan : Usaha dalam karunia (positif – shabar – syukur )

2. Aktualisasi Kecakapan : kegairahan memberdaya smart geniard – flair maestro – reich bushido

3. Eksistensi Kemapanan : keluwesan memberdaya profesi public – patria social – steady family

Refleksi Eksistensi Brahma Vihara =

Dalam Tuhan segalanya sama. Kasih Energi harus dijalani keberdayaannya

1. Satya kerobbanian : Bersahaja > takabur : Metta dalam upekkha ( kasih – dewasa – seimbang ) satya – ariya – metta

2. Ariya keperwiraan : Sila Prilaku Kepribadian : berpribadi ariya ( iffah – amanah – istiqomah )

3. Metta kemandalaan Dana Harmoni Kebersamaan : berprilaku mulia ( karuna – mudita – dewasa )

Meditasi Universiad Dharma Sekha =

Dalam Tuhan segalanya bisa. Wujud Esensi harus disadari kesejatiannya

1. Swadika > labil : prima dalam swadika ( atasi ilusi keberadaan diri )

2. Mandala : atasi ilusi penembusan wilayah

3. Advaita : atasi ilusi pencapaian maqomat

Epilog :

Keterarahan melanjutkan segala keberadaan.

· Kenyamanan menempuh pencerahan : nglampahi tanpo ngetoke

· Kemantapan menembus pencerahan : mantep tanpo anggep

· Kelancaran melampaui pencerahan : genah tetep nglumrah

Epilog : Orientasi pragmatis berpandangan ini ( jika hanya di dunia ini – jika ada akherat – jika samsara nyata )

1. Akumulasi Swadika Talenta keberdayaan Arhad Universiad

2. Akumulasi Persada Regista kemantapan Figure Aktualiser

3. Akumulasi Karisma Visekha keterjagaan Nafsi Eksistensial

PLUS = Meditasi adalah keniscayaan x kewajiban Ketika diri kembali sejati ( keberadaan dalam keanataan yang intens : reseptif - integrated ) air tanpa buih di lautan

KUTIPAN DHARMA ISLAMIAH

MAHADHARMA KALAMA SANGHA

Kalama Dharma sebetulnya sesuai jika seseorang lahir dari keturunan moderat, hidup dalam lingkungan demokratis dan kita telah berada dalam kedewasaan psikologis. Namun akan sulit diterapkan jika and Dharma ini tidak menyarankan anda untuk berkhianat pada keberadaan anda semula. Walau memang selalu akan ada celah pada akidah keagamaan, norma kenegaraan tidak perlu murtad. (Pergolakan eksistensial yang tidak perlu, k

Dalam kebenaran perlu kebijakan untuk menjaga keterahan kesadaran dan ketulusan Kepicikan bukanlah kemuliaan identifikasi Kelicikan bukanlah kemegahan intelgensi

KEBIJAKAN DHARMA ISLAMIAH

Dilemma muslim =Tak perlu murtad atau jihad. Perlu fleksibilitas untuk mensikapi, men

Ad. 1. Menerima keterbatasan (kelemahan, kesalahan, kepalsuan)

Selalu menyadari bahwa senantiasa ada tujuan kosmik dari faktitas kehadiran diri (kelayakan bhava, pengharapan tanha , penuntasan karma, ketersediaan media, pembelajaran nafsi, pemberdayaan esensi).

keterjagaan dari keterpedayaan mensikapi pandangan salah dari Kelemahan/ kepalsuan (?) agama =

keterjagaan dari keterpedayaan pandangan salah

Palsunya Realitas

Kacaunya Paradigma Risalah

Kearifan tuhan , kebaikan nabi

Rusaknya Dampak Komunitas

Historis = personal

Scientifik =

Kanonik =

1. kebenaran memahami kenyataan akan kelemahan

2. kedewasaan mensikapi kebenaran atas kepalsuan

3. Menjalani kebijakan demi kebajikan

Ad. 2. Memberdaya keberadaan Melayakan

1. kebenaran memahami kenyataan akan kelemahan

2. kedewasaan mensikapi kebenaran atas kepalsuan

3. Menjalani kebijakan demi kebajikan

Ad. 3. Mengatasi Pembatasan

Selalu ada tujuan kosmik dari kehadiran anda kewaspadaaan terus memberdaya terhadap pandangan salah

1. kebenaran memahami kenyataan akan kelemahan

2. kedewasaan mensikapi kebenaran atas kepalsuan

3. Menjalani kebijakan demi kebajikan





ALPHA BETA
KESADARAN REALITAS =

® Kesadaran Mahatma Robbani.


No


TATARAN


ILAHIAH

MANDALA

PRIBADI

1
PURWA
Dhyana
Anicca
Anatta

2
SANGKAN
Dharma
Adwaita ®
Adwaita ®

3
GUMELAR
Mandala
Semesta
Samsara

4
PARAN
Dharma
® Adwaita
® Adwaita

5
PURNA
Dhyana
Anicca
Anatta

penjelasan =
1) purwaning Dumadi ( Dhyana ® Swadika ! ) =
Nun – Hanyalah Tuhan Keberadaan Absolut : Tanpa siapapun Dia ada – Swadika dalam Dhyana

2) sangkaning Dumadi ( Dharma ® Kehendak Ilahi )

Kun – Hanyalah karena Keberadaan Absolut Semesta keberadaan terjadi dari ketiadaan karena kehendakNya – Dharma Mandala

3) gumelaring Dumadi ( Tanazul ®Keberadaan Mandala )

Aum – Hanyalah Esa Keberadaan Absolut Segalanya berada dalam Laten Deitas mandala DharmaNya – Strata Mandala

4) paraning Dumadi ( Taraqqi ®Mandala Keberadaan )

Nun – Hanyalah Esa Keberadaan Absolut Segalanya kembali ke hadiratNya – Dharma Mandala

5) purnaning Dumadi ( Dhyana ® Pralaya ? )

Nun – Hanyalah Esa Keberadaan Absolut Dia ada tanpa siapapun – Swadika dalam Dhyana
KESADARAN EKSTASIS =

® Pengarahan penghayatan Kesadaran dalam triguna kehidupan :

1. Transendensi ® Zarah Universiad Aktualisasi b

2. Aktualisasi ® Figur Eksistensial Aktualisasi b

3. Relaksasi ® Batin Integritas Aktualisasi
1. TRANSENDENSI (alpha 10 )
Transendensi adalah kesadaran pemberdayaan diri dengan meningkatkan kualitas keswadikaan HOLISTIK dalam


No

TARGET

TUJUAN


1

ARHAD JAGAD

® Mencapai Adwaita


2

PRIMA ZENKA

® Mengatasi Samsara


3

SUPER FIGUR

® Memperkasa Universiad


4

SIGMA GENIA

® Memberdaya Aktualiser


5

SAKSI ILUSI

® Menjalani Sandhya


PENJELASAN :

§ Rahni Ilahi : Transendensi Eternal

§ Prima Zenka : Kemampuan Spectre Universe hingga tingkat tinggi

§ Super Figur : Kemampuan Cruiser holistik perifer pada tingkat rendah

§ Sigma Genia : Kemampuan Geniard Maestro

§ Saksi Ilusi : Kemampuan Regista Bushido
1) TRANSENDENSI = ARHAD JAGAD

Realisasi PATIVEDHA > Proyeksi / Ekspresi ANUBODHA = Meditasi Intuitif ® Realisasi meditatif ® Refleksi Meditatif

1. SAMADHI SKANDHA =

Keberadaan dalam kesadaran

1. 1. FISIK ® ETERIK :

(*) BETHA 17 = ® vs neurotisme eksistensi insani

(*) ALPHA 10 = ® vs mekanisme vitalitas karani

TURIYA = ® vs polaritas 1 : Breathing

OBHASA = ® vs polaritas 2 : Influence

(-) BARDO - Arwah ? Keberadaan dalam kesadaran

1.2. ETERIK ® KAUSAL :

(*) ASTRAL = vs polaritas 3 : Magnetisme

(*) KARMAIK = vs kepemilikan amaliah

(*) TATTWIK = vs kemelekatan

(*) MENTAL = vs polaritas 3 : Thinking

(-) BRAHM – Onkar ? Keberadaan

2. KARUNIA EKSTASE =

Keberadaan dalam kesadaran

2. 1. KAUSAL ® KOSMIK :

(*) SUNNA = ® vs neurotisme eksistensi insani

MONADE = ® vs polaritas 5 : Life - Dead

KOSMIK = ® vs polaritas 6 : Ego – Non Ego

(-) BUDDHA ® Keberadaan dalam kesadaran

2.2. KOSMIK ® TAUHID:

(*) PANNA = ®

(*) NIRVANA = ® vs polaritas 7 : Being – Non Being Negativisme Pencerahan

(*) ADWAITA = ® vs polaritas : Obyektivisme KeTauhidan

(*) SATYA = vs

3. SWADIKA ROBBANI =

Keberadaan dalam kesadaran

3. 1. TAUHID ®AKTUAL :

(*) ESA – Universe = ® Kesadaran Billah : Keberadaan dari ketiadaan karena Tuhan

AGAPE = ® Kesadaran Nirvana Kasunyatan

(* ) AKU – Individu = ® Kesadaran Fillah : Keberadaan dari keilusian di dalam Tuhan

METTA = ® Kesadaran Samsara Kasamestan

(*) EGO – Holistik = ® Kesadaran Lillah : Keberadaan dari kepalsuan menuju Tuhan

2) TRANSENDENSI = PRIMA ZENKA

Realisasi pemantapan Holistik disela penembusan kesadaran intuitif diri.; sehingga evolusi peningkatan kesadaran diri berjalan lancar dan alamiah . 1. METTA =® Kesadaran Samsara Kasamestan

(*) EGO – Holistik =® Kesadaran Lillah : Keberadaan dari kepalsuan menuju Tuhan

3) TRANSENDENSI = SUPER FIGUR

Realisasi pemantapan Holistik setelah penembusan kesadaran intuitif diri.; sehingga evolusi peningkatan kesadaran diri berjalan lancar dan alamiah .

4) TRANSENDENSI = SIGMA GENIA

Realisasi pemantapan Holistik disela penembusan kesadaran intuitif diri.; sehingga evolusi peningkatan kesadaran diri berjalan lancar dan alamiah .

Pemantapan Holistik disela penembusan kesadaran intuitif diri.

5) TRANSENDENSI = SAKSI ILUSI

Realisasi pemantapan Holistik disela penembusan kesadaran intuitif diri.; sehingga evolusi peningkatan kesadaran diri berjalan lancar dan alamiah .

2. AKTUALISASI( betha 10 )
Transendensi adalah kesadaran pemberdayaan diri dengan meningkatkan kualitas keswadikaan HOLISTIK dalam


No

TARGET

TUJUAN


1

KESWADIKAAN

® APPAMADA


2

KEPERSADAAN

® ASTAIYA


3

KEBERSAMAAN

® SILADANA


4 KESEMESTAAN ® DANASILA
5 KEMANDALAAN
® WAICHARA
1) AKTUALISASI = APPAMADA
Aktualisasi Realisasi PATIVEDHA > Proyeksi / Ekspresi ANUBODHA =
2) AKTUALISASI = ASTAIYA
Aktualisasi Realisasi PATIVEDHA > Proyeksi / Ekspresi ANUBODHA =
3) AKTUALISASI = SILADANA
Aktualisasi Realisasi PATIVEDHA > Proyeksi / Ekspresi ANUBODHA =
4) AKTUALISASI = DANASILA
Aktualisasi Realisasi PATIVEDHA > Proyeksi / Ekspresi ANUBODHA =
5) AKTUALISASI = WAICHARA
Aktualisasi Realisasi PATIVEDHA > Proyeksi / Ekspresi ANUBODHA =
3. RELAKSASI(delta 2 )
Realisasi PATIVEDHA > Proyeksi / Ekspresi ANUBODHA = Meditasi Intuitif ® Realisasi meditatif ® Refleksi Meditatif
No TARGET TUJUAN
1 KEMANTAPAN
Betha 17 ® Alpha 10
2 KEMANDALAAN
Alpha 10 ® Theta 5
3 KEADWAITAAN
Theta 5 ® Delta 2 ® Theta 5
4 KESEMESTAAN
Theta 5 ® Alpha 10
5 KEMANDALAAN
Alpha 10 ® Betha 17
1) RELAKSASI = KEMANTAPAN
Transendensi Realisasi PATIVEDHA > Proyeksi / Ekspresi ANUBODHA =
2) RELAKSASI = KEMANTAPAN
Transendensi Realisasi PATIVEDHA > Proyeksi / Ekspresi ANUBODHA =
3) RELAKSASI = KEMANTAPAN
Transendensi Realisasi PATIVEDHA > Proyeksi / Ekspresi ANUBODHA =
4) RELAKSASI = KEMANTAPAN
Transendensi Realisasi PATIVEDHA > Proyeksi / Ekspresi ANUBODHA =
5) RELAKSASI = KEMANTAPAN
Transendensi Realisasi PATIVEDHA > Proyeksi / Ekspresi ANUBODHA =

EPILOG
KEMAPANAN REALITAS =
® penerimaan :
No
TRANSENDENSI
AKTUALISASI
RELAKSASI
1
tauhid
Arhad Jagad 1
Appamada 1
Adwaita 3
2
mantap
Saksi Ilusi 5
Waichara 5
Handal 5
3
handal
Super Figur 3
Persada 2
Mantap 1
4
sukses
Sigma Genia 4
Bersama 3
Mandala 2
5
unggul
Prima Zenka 2
Semesta 4
Semesta 4
penjelasan =
§ ketauhidan zarah arhad :
Transendensi : Arhad Jagad 1
Aktualisasi : Appamada 1
Relaksasi : Adwaita 3
§ kemantapan sikap batin :
Transendensi : Saksi Ilusi 5
Aktualisasi : Waichara 5
Relaksasi : Handal 5
§ kehandalan figur kosmik :
Transendensi : Super Figur 3
Aktualisasi : Persada 2
Relaksasi : Mantap 1
§ kesuksesan
Transendensi : Sigma Genia 4
Aktualisasi : Bersama 3
Relaksasi : Mandala 2
§ keunggulan
Transendensi : Prima Zenka 2
Aktualisasi : Semesta 4
Relaksasi : Semesta 4
KEMAPANAN EKSTASIS =
® Pengarahan penghayatan Kesadaran dalam triguna kehidupan :
1. Pribadi ® Sekha Keduniawian
2. Mandala ® Vedha Kesemestaan
3. Ilahiah ® Moksa KeRobbanian
Reset ALPHA = wuwei ( Tanpa aku – Hanya Esa) Not self – just One : penghayatan kehampaan murni kesejatian diri
Relax THETA = fresh ( Damai aku – Dalam Esa) Just peace – in One : penyamanan keberadaan Ready BETHA = zazen (Siaga aku – Untuk Esa) Self into One : pemantapan keterarahandiri

Antithesis : TO REALIZE  (tindakan yang tepat) 
JUST FOR SEEKER 1 : 
Berikut alternatif  Formula Swadika untuk Parama Dharma dalam Mandala Advaita. (katarsis analisa inferensi) sebagai sharing  masukan bagi anda untuk membuat risalah panduan anda sendiri dengan tetap menerima, menghargai dan menjalani harmonisasi/aktualisasi/transendensi pedoman bersama yang ada dalam faktisitas atribut peran keberadaan eksistensial kita.  5 (lima) faktor bagi perjalanan hidup di semua dimensi keabadian (Realisasi kesadaran, kecakapan, kemapanan, kearhatan? & kewajaran sebagai transformasi ekuivalen paradigma semula kearifan, keahlian, keuletan, kebaikan dan kesucian . 
wah .... gambar kiblat papat limo pancernya (4 arah + 1 pusat = 5) koq jelek begini  amatiran.. asal bikin (rugi waktu & energi bikin logo..sebodo amat, biarin aja)  (hehehe .... dianggep cakeplah) 
(LOGO)
1. orientasi kesadaran  
2. transendensi kearhatan  
3. transformasi kecakapan  
4. aktualisasi kemapanan 
5. harmonisasi kewajaran
Hipotesis Pengetahuan – Eksperimen penempuhan – Konklusi  pencapaian (terbukti atau direvisi ? )
DARI : GNOSIS FOR SEEKERS
Just logo

MUSICS

 QUOTES

 


 


 

Okey, Sadhguru Yasudev, tak akan kami simpan juga untuk diri kami sendiri wawasan kosmik Parama Dhamma dalam Mandala Advaita ini dengan Formula Swadika bagi keberlanjutan kehidupan saat ini dan juga bagi kesiagaan nanti … apapun yang terjadi terjadilah. Lagipula walau agak controversial bahkan mungkin akan jadi sensitive nantinya… toh niatan kami sesungguhnya hanyalah mengajukan kemungkinan saja tanpa memaksakan ini sebagai kepercayaan yang harus diterima sebagai keyakinan dogmatis / fanatic yang membuta. Ini hanyalah thesis pada antithesis pandangan anda semula untuk mengembangkan synthesis kebijaksanaan baru kita berikutnya. Sungguh tidak ada yang harus dilekati (bahkan jikapun pandangan ini ternyata tidak hanya sesuai dengan asumsi anda bahkan memang demikian realitas kebenarannya pada segala fenomena keberadaan)  dan juga tidak ada yang perlu dibenci atau ditolak (bahkan termasuk pandangan lain yang mungkin tidak hanya Dhammadipatheyya namun juga sekedar lokadipatheyya ataupun bahkan hanyalah attadipatheyya … karena setiap paradigma memiliki kebenaran dan juga “pembenaran”nya masing-masing walau tidak harus diterima dengan persetujuan namun tetap harus juga dihargai keberadaannya). Dalam mandala ini hikmah kebenaran yang sesungguhnya tinggi  bisa saja lahir dari limbah kenyataan yang semula dipandang rendah. Respek yang setara (walau  mungkin tidak harus sama) diberikan tidak hanya bagi  pandangan Buddha Dhamma, Mistik Esoteris atau tradisi Religi bahkan addhamma sekalipun namun segalanya termasuk juga atas segala zenka keberadaan yang ada (Lokuttara Dhamma, Tao, Tuhan, Brahma /termasuk level sankhara vipassana, vedana suddhavasa, sanna anenja & Rupa Brahma Jhana 4 hingga 2 Abhasara yang tidak lagi nama sukha namun sudah rupa piti ?/ ; Wilayah kamavacara:  Mara, Yama, Dewa, yakkha, Asura /iblis?, Petta/ demit?, dunia manussa, tirachana hingga niraya lokantarika dsb) karena walau mungkin dipersepsikan dalam level/label berbeda namun secara universal segalanya berada dan melengkapi posisi  keseluruhan desain ini dengan indahnya sesuai porsi perannya maing-masing …. Sigma Kuanta cahaya dari Sentra yang sama. Yang secara bijak tak perlu dibela/dipuja? walau dipandang mulia apalagi secara fasik harus dicela/dihina? karena dianggap nista. So, mantapkan kebenaran tempuhlah kebijakan dan jalanilah kebajikan namun dengan tanpa melekatinya … ini mungkin makna tersirat nasehat Dhamma Desana Bhante Pannavaro untuk diperhatikan dalam penempuhan/penembusan spiritualitas yang berimbang bukan hanya holistic pada keseluruhan namun juga harmonis untuk keswadikaan diri.
Sungguh, bahkan untuk semua masukan postingan termasuk pandangan pribadi tidak ada niatan sama sekali dari kami selain untuk sekedar berbagi ... segala keputusan untuk menggunakan, mengabaikan dan menolak sebagian/sepenuhnya adalah  hak dan  sekaligus dampak tanggung jawab kita masing-masing…. Sekedar membabar idea yang murni tanpa niatan pembentukan opini yang lihai. Dalam filsafat metode ini disebut (semoga tidak salah) ’majeutike’ yang digunakan Socrates bagaikan seorang bidan dalam memicu dan memacu seseorang untuk melahirkan kebenaran paradigma pandangannya sendiri … ini adalah thesis pandangan dalam Triade Dialektika Hegel untuk antithesis pandangan anda sebelumnya bagi synthesis kebijaksanaan baru anda nantinya yang akan menumbuh-kembangkan gestalt keterpaduan wawasan dalam menempuh pemberdayaan untuk tataran kelayakan pencapaian berikutnya. Setiap orang berhak untuk tumbuh berkembang secara alamiah dan ilmiah dalam keberadaan awalnya dulu tanpa perlu dipaksa dengan formula yang walau benar namun kurang tepat demi keberlanjutannya. Kebijakan perlu kebajikan demikian pula sebaliknya. Levelling lebih diutamakan daripada sekedar labelling.... walau memang harus diakui akan lebih kondusif dan reseptif jika berada dalam environment komunitas yang tepat.
Itu cuma inferensi intelektual, bro .... jangan dipercaya begitu saja (saya yang berpendapat saja masih terbuka, menerima dan merevisi lagi jika nanti ternyata masih ada kesalahan, kekurangan bahkan ketersesatannya). Dalam permainan ini sesungguhnya kepercayaan Saddha Ehipasiko memang berguna namun aktualisasi & realisasi penempuhan/ penembusan/pencerahan realisasi adalah indikator utamanya. Itulah sebabnya rakit Dhamma harus secara arif & ahli digunakan untuk pengarungan tidak untuk naif & liar dipamerkan/ dilekati (aktualisasi & realisasi x identifikasi & eksploitasi) Well, Dhamma bukanlah ular berbisa simbol identifikasi/arogansi & sarana eksploitasi/ intimidasi bagi kebodohan internal diri sendiri & untuk pembodohan eksternal lainnya. (Waspadalah bukan hanya kemungkinan brain-washed dari logical / ethical fallacy sebagai pseudo /lokiya dhamma dalam pengetahuan/ penempuhan namun mungkin juga miccha ditti 62 brahmajala sutta dalam labirin penembusan/ pencapaian ).
Berikut hanya  curhat pribadi .. bisa dilewati  Atau mungkin ... walaupun  banyak input data lama ditegaskan & data baru diberikan, namun tampaknya struktur paradigma sudah kacau menyimpang dari rencana semula (sejak 10102020 ?) . Perlu publish posting baru yang lebih fresh & direct ... Pedoman Praktis Panduan Pribadi (inget nostalgia P4 zaman orba dulu ? ) Parama Dharma diri hingga kini yang belum pasti (apalagi terbukti , dijalani saja belum ... cuma teori doang, bro/sis)  dan karenanya senantiasa perlu revisi terus menerus. Yaa, minimal 5 faktor bagi perjalanan hidup di semua dimensi keabadian (Realisasi kesadaran, kecakapan, kemapanan, kearhatan? & kewajaran sebagai transformasi ekuivalen paradigma semula kearifan, keahlian, keuletan, kebaikan dan kesucian ) .... Well, dicoba jika tidak tuntas lagi seperti biasanya direhat lagi atau dianggap selesai saja dan lanjutkan sendiri saja, ya ? Just for Cruiser ( not for Believer )... Hanya untuk (masukan pemberdayaan) para penjelajah bukan untuk dipercaya  orang yang hanya asal percaya (begitu saja).
Sebelumnya terima kasih mengapresiasi fasilitas yang diberikan internet (blogger, youtube, google, Archive,org, dll) atas ketersediaan media katarsis pribadi terutama di masa galau corona saat ini. Dan para reader pembaca yang tetap setia, rahasia dan penuh kearifan/kebaikan  mengikuti sharing "kutu loncat' ini (dengan tanpa memberi komentar apalagi gangguan apapun juga walau kami baca ulang wacananya bukan hanya tidak jelas namun memang sakau, kacau dan galau , hehehe ) 
... dst dsb dll. (anggap ... sudah selesai ... gitu aja koq repot. Hidup sudah sulit malah dibikin ribet ) 

Langsung